Minggu, 05 September 2010

Tolok Ukur Keberhasilan Ramadhan


Berikut ini adalah beberapa tolok ukur keberhasilan Ramadhan :
~ Kurang optimal dalam pemanasan
Terkadang kita merasa shock memasuki bulan Ramadhan karena kita kurang pemanasan sebelumnya sehingga kita tidak siap untuk menghadapi bulan Ramadhan.
~ Kurang target dalam mengkhatamkan Al-Qur’an
Di luar Ramadhan kita jarang sekali untuk membaca Al-Qur’an dan bulan Ramadhan ini adalah momen yang sangat bagus untuk meningkatkan bacaan Al-Qur’an kita dan kalau bisa kita mengkhatamkan Al-Qur’an paling tidak satu kali selama bulan Ramadhan.
~ Puasa kita masih terbatas dalam puasa balas dendam
Maksudnya puasa balas dendam disini adalah karena kita tidak makan seharian maka ketika berbuka puasa, semua makanan yang tersaji kita santap begitu saja. Sehingga efeknya ketika sholat Isya’ dan tarawih ketiduran. Padahal Rasulullah SAW tidak pernah makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Karena hal itulah Rasulullah sepanjang hidupnya hanya 2 kali saja mengalami sakit. Rasulullah sangat menganjurkan kita untuk tidak mengisi perut kita secara berlebihan, kalau bisa sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, sepertiga lagi untuk udara atau nafas.

~ Selama berpuasa, kita masih sulit untuk menghindari bohong dan ghibah
Kalau selama berpuasa kita masih belum bisa menghilangkan bohong, berkata yang sia-sia maka puasa kita dianggap belum sempurna.
~ Ketika menjelang Idhul Fitri Mall leih ramai daripada masjid
Maksudnya, banyak orang lebih suka untuk mengunjungi mal daripada masjid di akhir bulan Ramadhan, padahal Allah SWT telah berjanji akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa menjadi berlipat-lipat dan juga dijauhkan dari api neraka. Di akhir Ramadhan shof-shof di masjid semakin maju dan peminatnya juga semakin berkurang. Seharusnya kita lebih bersemangat dalam hal beribadah ketika Ramadhan akan meninggalkan kita karena bisa jadi Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terakhir dalam hidup kita, jadi kita harus memaksimalkan bulan Ramadhan tahun ini.
~ Tidak maksimal dalam berinfaq dan sedekah
Bulan Ramadhan seharusnya menjadi ajang bagi kaum muslimin untuk bersedekah sebanyak-banyaknya kepada orang yang kurang mampu. Mengapa ? karena pahalanya sangat besar dan sangat eman bagi kita kalau kita tidak memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
~ Ramadhan lebih banyak tidur daripada beribadah kepada Allah SWT
Ramadhan terkadang dijadikan alas an bagi sebagian orang untuk bermalas-malasan, tetapi seharusnya walau Ramadhan dating kita tetap bersemangat dalam beribadah, belajar dan beraktivitas seperti hari biasanya. Jangan sampai kita hanya tidur sepnjang hari tanpa beraktivitas sedikit pun.
~ Tidak ada tindak lanjut amalan di Ramadhan
Seusai Ramadhan, masjid-masjid seketika menjadi sepi jama’ah. Hal ini menandakan bahwa amalan Ramadhan seseorang tidak ada tindak lanjutnya di luar bulan Ramadhan. Jadi, kita harus melanjutkan tradisi baik di bulan Ramadhan seperti membaca Qur’an, Qiyamul Lail, Sedekah, dll.
Lokasi: Malang, Malang City, East Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar