Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Selasa, 15 Oktober 2013

Kognitif, seberapa pentingkah ?

       

       Kemarin, adikku yang bernama Luqman Al Hakim Perkasa rapotan. Rapot diambil oleh ayah. Sepertinya adikku sudah tahu kalau nilai rapornya hasi UTS beberapa waktu lalu akan menurun. Entah dari siapa dia tahu. Akhirnya benar, ternyata adikku hanya mendapat peringkat 3, turun 2 tingkat dari yang sebelum-sebelumnya. Adikku memang terkenal pintar dan cerdas. Tetapi adikku yang satu ini akhir akhir ini sedang kecanduan dengan yang namanya game, baik game online maupun game offline seperti di HP. Sehingga karena nilainya yang turun, sepertinya setelah ini, adikku tidak diperbolehkan menggunakan HP lagi. Kenapa? Tentunya supaya prestasinya dapat kembali meningkat seperti sebelumnya. 
       Aku berpikir, apa sebenarnya esensi dari sisi kognitif ini. Kognitif berhubungan dengan pikiran, kognitif seseorang terus menerus berkembang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Kognitif sendiri dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai segala hal yang berdasarkan pada pengetahuan yang empiris. Kognitif memang dianggap satu unsur penting, teruatam dalam hal mengetahui seberapa genius seseorang itu. Tentu kita sering mendengar istilah tes IQ. Tes IQ digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan intelegensi yang dimiliki setiap orang. Ada yang IQ nya Idiot, normal, atau mungkin ada yang superior. Tapi sesungguhnya tes IQ sendiri tidak dapat menjadi patokan kesuksesan seseorang. Karena sesungguhnya masih banyak unsur lain yang perlu diperhatikan untuk melihat seseorang itu sukses atau tidak. Gardner pun telah mencetuskan sebuah konsep multiintelegensi yang sangat terkenal sampai saat ini. Dengan konsepnya, ia menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi tersendiri yang tentu berbeda satu sama lain. Ada yang pintar di bidang linguistik, matematis-logis, naturalis, verbal, dsb. Oleh karena itu, berkaca dari pengalaman atau cerita adik saya diatas, tentu kita harus memiliki pandangan yang lebih luas bahwasannya setiap manusia telah diberi kelebihan masing-masing oleh Yang Maha Kuasa. Tinggal bagaimana setiap orang dapat menemukan dan mengembangkan potensinya demi kesuksesan masa kini dan masa depan. 
Salam persaudaraan bagi kita semua. 

MUHAMMAD AMIN

Senin, 14 Oktober 2013

Semakin


       Rasa ini semakin menjadi-jadi. Berubah menjelma ke dalam untaian kata-kata indah yang sudah beberapa minggu ini aku lontarkan kepadanya. Meski tak secara langsung tetapi semua itu tentu menyiratkan semburat harapan dalam jiwa untuk suatu saat bersanding dalam panggung suci dilanjutkan dengan mengarungi bahtera kehidupan bersama, seiya, sekata. 
       Buku Rantau 1 Muara mengilhamiku untuk mengikuti jejak seorang bernama Alif, tokoh utama dalam novel tersebut yang mampu menaklukkan dunia berkat tiga jurus saktinya yang didapat ketika masih nyantri di PM. Tiga mantra itu adalah 
"Man jadda wajada" (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka dapatlah ia) 
"Man shabara dzafira" (Barangsiapa yang bersabar maka ia akan mendapat keberuntungan)
"Man saara 'ala darbi washala" (Barangsiapa yang berjalan di atas jalanNya maka ia akan sampai tujuan). 
Di novel R1M diceritakan perjuangannya mencari kerja di era 1998 dimana krisis ekonomi tengah mencekik bangsa ini. Dia ikut aksi mahasiswa, dan akhirnya diterima menjadi seorang wartawan di salah satu media ternama yang bernama "Derap". Di Derap ia menambatkan hatinya pada salah seorang rekan kerja sesama wartawan yang bernama Dinara. Akhirnya mereka menikah walau dengan berbagai perjuangan Alif yang mampu meluluhkan hati orang tua Dinara, khusunya ayahnya. Mereka hidup bahagia di Amerika Serikat, tepatnya di Washington DC (DC) Mereka menyewa sebuah apartemen yang tepat berada di depan kampus Alif, Washington University. Dia belajar S3 di Amerika setelah mampu menempuh tes beasiswa Fullbright. Berkat bantuan istrinya, Dinara ketika masih menjadi rekan kerja dulu, akhirnya si Alif dapat melanjutkan S3 nya disana. Meski di sisi lain, si Dinara membatalkan rencana kuliahnya di Inggris yang pada waktu mereka akan menikah, Dinara sudah diterima di salah satu kampus di Inggris. 
       Semoga di masa depan aku dapat meniru apa yang dilakukan Alif pada Dinara. Tentunya dengan jalan dan caraku sendiri. Ya Allah, tambatkan hati ini pada orang yang tepat agar nantinya dapat membantu hamba menuju jalanMu yang lurus.

MUHAMMAD AMIN

Sabtu, 12 Oktober 2013

Kita Keluarga (sebuah cerpen)



         “Min, .. min .. tunggu ...” panggil Agung dari kejauhan seusai sholat isya’ di masjid tarbiyah.
       ’afwan gung, aku nggak bisa ikut, ada acara di luar.” Kataku cepat tanpa menatap wajahnya sedikit pun.
###
       Namaku Amin, seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab semester 3 di sebuah universitas islam ternama di kota Malang. Aku terkenal dengan kepintarannya di bangku kuliah. Aku aktif di berbagai perkumpulan dan organisasi kampus, salah satunya Alkindi, klub debat bahasa arab kebanggaan jurusan Pendidikan Bahasa Arab yang dari tahun ke tahun selalu menorehkan tinta emas bagi kampus yang terkenal dengan sebutan kampus hijau ini. Disebut kampus hijau karena kampus ini dipenuhi dengan pohon-pohon rindang yang tumbuh di taman-taman kampus.
       Suatu saat, aku dilanda kegalauan yang menghimpit jiwa. Kontroversi hati telah melandaku. Timbul perasaan sedikit tidak yakin dengan kemampuanku dalam hal berdebat bahasa arab di Alkindi. Satu sisi, aku ingin sekali mengembangkan skill berdebat ku, di sisi lain, hatiku terus saja meradang memintaku untuk segera hengkang dari perkumpulan Alkindi ini. Entah perasaan apa, aku sendiri tak tahu, tapi yang pasti hati terdalamku mengatakan demikian.
       Akhir-akhir ini, aku sering dipergoki si Agung, ketua Alkindi 2013, tidak mengikuti latihan rutin Alkindi dan acara kumpul-kumpul lainnya yang berkaitan dengan Alkindi. Sms dan telepon dari Ketua Alkindi semakin bertambah intensitasnya dari hari ke hari sejak aku tidak mengikuti latihan rutin Alkindi yang biasa diadakan setiap Selasa sore dan Sabtu pagi. Pernah satu kali aku angkat telepon dari Agung,
       “min, kenapa kamu nggak pernah balas sms, aku telepon nggak pernah diangkat, kumpul juga nggak. Ingat, kita ini satu keluarga. Sempatkanlah kumpul walau sebentar. Kamu kok sok sibuk gitu sih akhir-akhir ini, ...” Tanyanya dengan nada yang walau tidak kutahu secara pasti, tentunya merupakan ekspresi kekecewaan seorang ketua kepada anggotanya.
       “Aku memang sibuk kok.” Jawaban itu meluncur begitu saja dari lisanku seraya menutup telepon dengan paksa.
Back to top