Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Jumat, 31 Januari 2014

Simulasi BFSC V Pramuka MAN 3 Malang


       Tak terasa, BFSC yang dulu menjadi ajang kebanggan pramuka yang diadakan rutin setiap 2 tahun sekali bergantian dengan PLJ kali ini sudah menginjak BFSC V. Hari ini, aku mendapat undangan yang awalnya aku dapat dari Kak Faishal, alumni pramuka MAN 3 Malang bahwa hari ini ada acara simulasi TM (Technical Meeting) BFSC (Book Fair and Scout Competition) V. Aku menyanggupinya. Aku datang beberapa menit sebelum acara dimulai. Ternyata di tempat simulasi masih sepi sekali, hanya terlihat satu dua orang lalu lalang mempersiapkan simulasi. Mereka (panitia BFSC) tampak masih keteteran mempersiapkan simulasi. Simulasi saja sudah seperti itu, belum nanti ketika hari H TM nya. Kuharap semuanya berjalan lancar. 
       Setelah menunggu beberapa saat, acara pun dimulai. Acara dimulai meski yang datang hanya sedikit. Acara berjalan dengan tenang sekali, hanya sedikit sekali terdengar gertakan dari para peserta yang rata-rata alumni pramuka sendiri. Acara terkesan kurang seru. Tetapi, menuju akhir acara, simulasi TM semakin terlihat memanas. Panitia dibuat sedikit pusing dengan pertanyaan yang dilontarkan satu per satu oleh peserta termasuk saya. Wah, ini asyik saya kira. Hal ini akan membuat mereka banyak belajar kalau mereka harus lebih siap untuk TM yang rencananya akan digelar 2 hari ke depan. Karena hari Jum'at, acara diberhentikan sementara untuk istirahat sholat Jum'at dan makan siang. Usai itu, kami semua kembali berkumpul di multimedia MAN 3 Malang untuk melanjutkan beberapa hal yang memang belum selesai. Sesudah itu, kami melakukan sedikit evaluasi agar hari H mereka-baca:panitia-benar-benar siap dengan apa yang mereka hadapi. Kami memeberikan saran untuk sering-sering bertanya kepada kakak kelas yang lebih berpengalaman, tidak henti-hentinya untuk mengompakkan panitia yang dua bulan ke depan akan bekerja bersama menyukseskan BFSC V ini. Semoga pramuka MAN 3 Malang selalu berjaya di tanah air indonesia. 

Kamis, 30 Januari 2014

Eksistensi Kepanduan Yang Kian Pudar

       "DASADHARMA PRAMUKA .. 1 . TAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA .. "
Kalimat diatas kerap dan senantiasa diucapkan oleh insan kepanduan Indonesia di sela-sela sesi latihan kepanduan mereka. Pramuka menjadi salah satu kegiatan kepanduan yang diadakan di berbagai sekolah dasar maupun menengah. Pramuka diprakarsai oleh Lord Robert Baden Powell of Gilwel. Bukunya yang sangat terkenal adalah Scouting for Boys. Gerakan Pramuka berisi berbagai kegiatan yang banyak berhubungan dengan alam disamping kelimuan lainnya yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Perkemahan merupakan salah satu aktivitas yang rutin diadakan oleh gerakan ini. Saya sangat suka dan termasuk aktif dalam gerakan pramuka baik di tingkat dasar sampai menengah, meski saat ini tidak begitu aktif lagi ketika memasuki jenjang perkuliahan. Di dalamnya, saya banyak belajar mengenai upacara adat, emblem, makna dasadarma pramuka, makna bunga lili, makna siluet kelapa, dsb yang tentu tidak saya dapatkan di bangku formal. 
       Namun, akhir-akhir ini, gerakan pramuka semakin tiada gaungnya. Bagaimana tidak? Sudah banyak insan muda di berbagai belahan dunia merasa tidak perlu lagi mempelajari yang namanya Pramuka, kepanduan dan sebutan lainnya. Mereka menganggap itu semua kurang begitu berguna di zaman yang semakin canggih ini. Mungkin mereka lupa akan sejarah bangsa dan juga gerakan kepanduan yang sudah mendarah daging bagi pendahulu kita. Kepanduan sangat berguna dalam hal menghadapi keganasan alam ketika kita berada di luar ruangan. Di samping itu, pramuka atau kepanduan juga menanamkan sikap sportif, rela berkorban, kreatif, dan lain-lain. Dalam kepanduan, segala ilmu semacam disatupadukan demi kelancaran kegiatan manusia. Saya masih ingat perkataan senior sekaligus pembina di Gugus Depan 01.007-01.008 Pangkalan MAN 3 Malang yang mengatakan bahwa kita akan mendapatkan banyak hal dalam pramuka, seperti organisasi, tali-temali, navigasi, dsb yang kesemuanya itu akan benar-benar meningkatkan produktivitas kita sebagai insan kepanduan. Sudah jarang kita dengar sayup-sayup suara yel-yel, nyanyian kepanduan, latihan-latihan kepanduan sekarang ini. Mungkin bagi kita yang sudah pernah merasakan penat, pedih, senang, duka di dalam pramuka tentu akan sangat prihatin akan hal ini. Tetapi, alhamdulillah, akhir-akhir ini di beberapa sekolah sudah mulai lagi diwajibkan pramuka. Diri ini sangat senang sekali mendengarnya. Semoga pramuka akan selalu eksis dan tak pernah redup ditelan zaman yang semakin global ini. 
SALAM PRAMUKA ... SATYAKU KUDARMAKAN, DARMAKU KUBAKTIKAN. 

Akreditasi UIN Maliki Malang "A"


       Beberapa saat lalu, di WA "PBA 2012" kudapati seorang teman memposting masalah akreditasi UIN Maliki Malang menuju WCU (World Class University) yang mendapatkan peringkat A dengan poin 364. Akreditasi ini dilakukan secara rutin setiap 5 tahun. Tahun ini UIN Maliki Malang mengadakan re-akreditasi dan alhamdulillah peringkat A didapatkannya. Mendapat peringkat A tidak sekonyong-konyong didapatkan dengan tanpa usaha keras. Hal ini tentu dapat dicapai dengan adanya komunikasi seta kerjasama semua civitas akademika untuk mewujudkan sebuah miliu yang bagus untuk pembelajaran. Adanya sarana-prasarana, staf, kebersihan ruang dan taman, dsb menjadi bahan pertimbangan dalam akreditasi ini. Tetapi, ada beberapa kawan yang berseloroh, "Kayaknya BAN PT nya lagi ngantuk tidak lihat gimana siakadnya UIN kalau lagi KRS-an" Lucu memang. Tetapi hal ini memang sungguh disayangkan.

Rabu, 29 Januari 2014

Paham Liberalisme Meracuni Kampus Islam


     Beberapa saat yang lalu, saya membaca sebuah buku yang berjudul Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam yang dikarang oleh Adian Husaini, seorang alumni Al-Rosyid Bojonegoro. Beliau menjelaskan bahwa sekarang ini, kampus kita, bahkan yang berlabel Islam sudah dirasuki virus-virus liberalisme yang disebarkan dan kita kenal berasal dari Barat tersebut. Di Barat sendiri, sudah banyak berdiri studi agama islam yang isinya mengajarkan Islam yang apabila penerimanya tidak memiliki aqidah yang kuat maka dapat dengan mudah terjerumus ke dalamnya. Virus liberalisme merasuk dalam berbagi bentuk dan istilah seperti Multikulturalisme, Pluralisme, Kesetaraan Gender, dan sebagainya yang pada intinya semua itu bertentangan dengan ajaran Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Bahkan, ironinya, seorang profesor di salah satu Perguruan Tinggi Islam terkemuka mengemukakan dengan bangga mendukung adanya praktek homoseks yang jelas-jelas dilarang di dalam Islam. Kok bisa-bisanya seorang profesor berpikir seperti itu? Aku sampai tak habis pikir, bagaimana bisa beliau mengamini hal itu tanpa mengecek kebenarannya di dalam Al-Qur'an dan sunnah Nabi Muhammad. Itulah bahayanya paham=paham barat yang sekarang ini sedang gencar dan getol diperkenalkan di berbagai perguruan tinggi, bahkan sekarang kabarnya sudah merambah tingkat dasar dan menengah. Jika paham ini tidak segera dibendung dengan pengetahuan yang benar, maka bisa jadi, penerus Islam akan menjadikan agama ini sudah tidak lagi murni seperti yang dibawa pertama kalinya oleh Rasulullah SAW. Ya, kita hanya bisa berdo'a dan menambah pengetahuan yang cukup mengenai paham-paham ini supaya kita tidak mudah masuk ke dalamnya. 


Wanita Sholehah


       Berbicara mengenai wanita sholihah, tentunya kita sudah punya sedikit pandangan mengenai hal ini. Tentu kita ingat hadits, فاظفر بذات الدين تربت يدك yang artinya sungguh sangat beruntung bagi siapa yang mendapatkan wanita yang memiliki agama yang baik. Barometer kesholihahan seorang wanita bisa kita lihat dari sisi bagaimana kesehariannya. Apakah ia menjalankan sholatnya tepat waktu? apakah ia bertindak-tanduk dengan baik kepada orang-orang yang ada di sekitarnya? Apakah ia menjaga dirinya dari berbuat yang dilarang oleh Allah SWT? Tetapi, pernah kudengar bahwa bila kita ingin mengetahui seseorang yang nantinya akan kita jadikan pendamping hidup yang kita tanyakan pertama kali adalah apakah dia cantik? baru yang terakhir kali ditanyakan bagaimana agamanya? Mengapa? Karena bila ia bertanya bagaimana agamanya di akhir dan jawabannya baik. maka ia akan dapat menerima kecantikannya, tetapi apabila agama ditanyakan di awal, maka bisa jadi, ia akan menjadi kecewa karena parasnya yang tak ayu. 
        Wahai remaja, selagi dirimu masih muda, maka gunakan waktumu dengan baik dan bijaksana supaya dirimu menjadi profuktif. Apa pun yang engkau sukai, lakukan, tekuni, dalami, ikuti lomba, maka nanti akan kau dapatkan hasilnya di belakang. Untuk masalah pendamping hidup, teruslah berdo'a kepada Allah setiap hari agar kita diberikan jodoh yang terbaik bagi kita, Semoga kita mendapatkan pasangan hidup terbaik. 

DAD V IMM Komisariat Reformer UIN Maliki Malang

       

       Beberapa bulan yang lalu, tepatnya 25-27 Oktober 2013 aku mengikuti DAD (Darul Arqam Dasar) V yang diadakan oleh IMM Komisariat Reformer. Aku sebelumnya diajak mendaftar IMM oleh si Yusuf, teman PBA. Ikut IMM sebenarnya sudah menjadi impianku semenjak masuk dalam universitas ini. Tetapi, karena universitas ini begitu kental dengan paham nahdiyyin, maka diri ini menahan diri sampai pada waktu yang tepat bisa masuk dalam organisasi ini. Pada tanggal itu, aku dan kader IMM DAD V diberangkatkan dari UIN Malang. Karena aku dan Yusuf harus mengikuti UTS terakhir semester 3, maka kami berangkat belakangan atau telat. Setelah sampai di lokasi DAD, langsung saja aku mengikuti Stadium General yang diisi oleh Immawan Ahsan. Sesudah itu, kami mengikuti serangkaian acara sampai paripurna tanggal 27 pagi. Berbagai materi dijejalkan kepada kami, kader baru, penerus perjuangan IMM Komisariat ini. Mulai dari Kepemimpinan, Teologi Al Maun, Kemuhammadiyahan, KeIMMan, dsb. Pada hari terakhir, seperti yang kuduga, kami melakukan JJM (Jalan-jalan malam). JJM berfungsi sebagai bahan evaluasi dari semua materi yang telah disampaikan selama DAD berlangsung. Usai JJM, acara puncak dilaksanakan, yaitu ikrar di depan pengurus sebagai anggota baru IMM Komisariat Reformer. Setelah itu, kami mencari nama untuk alumni DAD V dan kami menyepakati nama Al-Qoori'ah. Semoga IMM bisa menjadi tempat berbagi ilmu, cari teman, dsb yang bermanfaat. 

Ambil KHS kok di-PHP


       Hari ini adalah hari terakhir pengambilan KHS sesuai jadwal yang telah disebarkan melalui medsos facebook, web uin malang, papan pengumuman, dsb. Tapi, alangkah disayangkan sekali, di kampus yang digadang-gadang menjadi WCU (World Class University) ini jadwal itu kadang tidak diaati oleh semua pihak kampus sehingga menyebabkan kerugian di beberapa pihak. Dalam kasus ini, di hari ini, kantor administrasi fakultas syar'ah secara khusus dan kantor fakultas syari'ah secara umum tiba-tiba saja tutup tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Saya memang bukan mahasiswa fakultas syari'ah, tetapi humaniora. Kendati demikian, karena ada beberapa teman yang titip untuk mengambil KHS karena rumahnya jauh, akhirnya saya rela untuk mengorbankan waktu saya untuk kembali ke Malang hanya untuk meringankan kawan saya.

Selasa, 28 Januari 2014

ASTON BOJONEGORO CITY HOTEL (Hotel Mewah Bojonegoro)

       

       Dunia semakin global. Hal ini menyebabkan siapa saja yang punya uang akan berkuasa. Termasuk di Bojonegoro. Sebagai warga Bojonegoro, tentu kita sudah tidak asing dengan Blok Cepu. Baru-baru ini, Blok Cepu membangun sebuah hotel yang bisa dibilang mewah di kawasan M.H. Thamrin Bojonegoro. Pembangunan hotel mewah ini tidak membutuhkan waktu yang lama.

Minggu, 26 Januari 2014

Negeriku Menangis lagi


       Satu bulan ini, tak hentinya media memberitakan keadaan negeri Indonesia yang dulunya subur makmur, bukan lautan, tapi kolam susu, bata dan kayu menjadi tanaman, kini harus menangis karena ulah warga negara bangsa ini yang sudah tidak peduli lagi dengan lingkungannya. Kita lihat disana-sini, bencana silih berganti menimpa bangsa ini. Jakarta ditimpa banji bandang, Manado pun tak luput dari air bah, Kebumen kemarin dan beberapa daerah di Jawa diguncang gempa bumi, kebakaran rumah sakit, Gunung Sinabung yang juga tak selesai mengeluarkan erupsi hebat membuat warga disana bingung, sehingga sedih melihatnya. Sedangkan di sisi lain, para elit politik dengan enaknya menikmati uang rakyat, tak ayal melakukan korupsi berjuta-juta, milyar bahkan trilyun. Ada beberapa orang yang berkata, 
       "Memang ya Dewan Perwakilan Rakyat itu sudah mewakili rakyat, lihat saja ulah mereka di meja dewan. Rakyat mau kaya, sudah diwakili DPR, rakyat mau jalan-jalan ke luar negeri sudah diwakili DPR, rakyat mau rumah mewah juga sudah diwakili DPR, dsb" 
       Sebuah anekdot tersebut kadang membuat telinga geli, hati terenyuh, geram, marah melihat tingkah-polah elit politik yang kian hari kian tak benar saja. Negeri ini menangis, mereka tertawa di atas penderitaan rakyatnya. Mereka seakan tak ingat bahwa rakyat yang dipimpinnya sedang ditimpa kemalangan panjang, dan juga ia pun lupa bahwa ia akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya di Yaumul Hasyr nanti di akhirat. Mereka denga mudah melupakan begitu saja janji-janji dan bualan mereka yang dengan mudah mereka katakan ketika masih kampanye, tetapi realisasinya nihil dan nol besar. Mereka menganggap itu semua sebagai main-main belaka dan juga untuk memperkaya diri mereka sendiri. Pejabat seakan tak peka terhadap segala hal yang terjadi di negeri yang semakin semrawut di semua lininya setiap hari, negeri yang dulu digadang-gadang akan menjadi negara besar, kaya, adidaya, tetapi sekarang kita lihat, bangsa Indonesia bagai penonton di negeri sendiri, menonton dengan enaknya segala hal yang sudah carut marut, tanpa mau melakukan perubahan dan pergerakan sedikit pun. Bangsa ini butuh kader bangsa yang mau repot, bergerak menuju perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Semoga kita termasuk di dalamnya. Salam pemuda, salam perubahan!!!

  

Miliu Bahasa Arab


       4,5 tahun yang lalu, ketika kaki ini menginjakkan kaki di MAN 3 Malang dan Ma'had Al Qalam MAN 3 Malang, ada satu hal yang sampai saat ini masih terngiang di dalam hati dan pikiran. Yaitu menciptakan miliu atau lingkungan berbahasa arab. Kalimat ini selalu didengungkan oleh Ust. Gunawan selaku Guru Bahasa Arab di kelasku, kelas MABI (Keagamaan), yang sekarang ini Beliau menjabat sebagai Ketua Ma'had Al Qalam MAN 3 Malang. Kalimat ini menjadi cambuk yang sangat besar bagi kami, siswa keagamaan MAN 3 Malang. Semboyan ini selalu didengungkan dan disuarakan dari generasi ke generasi. Satu harapan yang diinginkan adalah terciptanya sebuah lingkungan yang kondusif untuk berbahasa arab. Menciptakan sebuah miliu memang tidak mudah. Dibutuhkan usaha sungguh-sungguh, terprogram, terencana, dan juga aplikasi yang harus segera direalisasikan dengan segera. Program ini memang ditopang oleh sie. bahasa OSIMA. Tetapi, penerapan selalu saja gagal karena tidak adanya komitmen dari semua pihak untuk bekerjasama mensukseskan pembentukan miliu bahasa arab ini. Semoga di masa depan, miliu ini dapat terbentuk sehingga Ma'had Al Qalam bisa menjadi basis seperti Gontor dalam hal berbahasa. 

Masa kecilku yang bergitu indah


       Masa kecil memang indah. Kemarin, di sore yang kelam, aku berbincang-bincang dengan ibu tercinta, juga adik keduaku. Kami berbincang dengan sangat seru mengenai masa kecilku. Ternyata, di masa kecilku, aku dilahirkan sebelum waktunya. Kala itu, di pertengahan bulan Ramadhan, karena ibuku dari pagi hingga hari hampir malam belum juga mampu melahirkanku, ibuku dirujuk ke RSUD Sosodoro Djatikoesoemo. Saat itu, aturan di rumah sakit tidak memperbolehkan pasien untuk didampingi kecuali pada jam jenguk. Untung saja, ada teman ibuku yang saat itu bekerja di rumah sakit tersebut yang membantu ibuku untuk mengurusi jabang bayi mungilku. Ketika urusan penaman memusingkan kedua orang tuaku, awalnya namaku hanya Muhammad, belum menjadi Muhammad Amin seperti sekarang. Kala itu, ayahku melaksanakan sholat Dhuha. Usai sholat dhuha ayahku mendapatkan semacam ilham untuk menamakanku Muhammad Amin yang berarti yang terpuji dan yang terpercaya. Saat itu juga, aku sebenarnya harus diinkubator karena berat badanku yang di bawah rata-rata. Tetapi ayahku tidak mau menandatangani perjanjian itu dan akhirnya aku dibawa pulang. Tak tahu bagaimana kedua orang tuaku bisa membayar biaya rumah sakit yang aku pun tak tahu berapa tepat rupiahnya. Keseharianku, ketika sore datang, aku dibawa Mas Andik -aku pun tak tahu siapa Mas Andik ini- yang selalu mengajakku dan menggendongku mengelilingi alun-alun Kota Bojonegoro. Menurut pengakuan ibuku, aku tidak diberi uang saku, sehingga terkadang orang-orang yang kasihan melihatku memberi sedikit jajan yang bisa kumakan. Ketika waktu semakin senja, aku dibawa ke STIT, tempat ibuku bekerja sampai sekarang untuk diberi ASI. Ketika malam menjelang, aku diberi makan cecek (kataku ketika meminta bakso) dan juga es degan. Pernah suatu kali, ketika umurku sudah tak kanak-kanak lagi, aku tersedak duri ikan, sampai-sampai aku menjerit kesakitan, untung saja urusan itu cepat teratasi. Pernah juga, aku sembelit sampai kesusahan buang air, tapi alhamdulillah lagi-lagi ayahku dengan cepat mengambil langkah cepat untuk mengatasinya. Pernah juga aku -karena masih kecil- terkena knalpot sepeda motor Yamaha Crypton yang kala itu masih baru dan baru saja dipanasi, lututku dengan tidak sengaja menempel di knalpot yang tentu sangat penas. Aku merintih kesakitan, dan ternyata bekasnya masih ada sampai usia remajaku sekarang ini. Peristiwa lainnya yang membahayakanku adalah ketika ibuku sedang menyetrika baju, aku dengan tidak sengaja terkena ujung setrika yang sedang panas-panasnya sehingga menyebabkan lengan kanan bawahku sampai ngecap sampai sekarang. Itulah serentetan peristiwa yang sedikit membahayakan jiwaku. Tapi disamping itu semua, aku sungguh sangat beruntung kala itu, walau orang tuaku hanya memiliki sepeda Yamaha Super Delux tahun 90-an, tapi sepeda motor itu telah membawaku berkeliling Bojonegoro. Aku mengunjungi tempat-tempat wisata, berfoto dengan merak indah yang sedang mengepakkan sayap indahnya, memberi makan kelelawar dan ikan-ikan kecil, melihat api abadi di Kahyangan api. Oh, ya aku juga masih ingat satu peristiwa yang terkadang mengusikku beberapa saat setelah aku berkunjung dari Kahyangan Api. Pernah, suatu saat, aku membeli kacang rebus pada seorang penjual yang katanya datang dari tempat yang jauh. Aku pun tak tahu dimana tepatnya, aku merasa sangat kasihan dengan nasib yang tidak seberuntung diriku. Aku sudah lupa tahun berapa aku bertemu dengan penjual itu. Aku juga sudah pernah mengunjungi tanjung kodok di masa kecilku. Aku membeli beberapa jajanan khas Lamongan, aku lupa namanya. Aku berfoto di pinggir Tanjung Kodok berlatar ombak yang sedang membuncah, membuat orang terpesona melihat ombak itu. Ehm, masa keci yang begitu indah. 
       Peristiwa lain yang sedikit menyedihkan adalah ketika aku harus melakukan gladi bersih ketika akan melaksanakan wisuda TPA Baiturrahman. Dengan mengendarai sepeda merah kecilku, aku dengan tertatih-tatih menuju Gedung Pemkab Bojonegoro. Carita lainnya, ketika aku sudah punya adik pertama, 'Iffah Khosyyatillah, aku ajak adik tercintaku, aku bonceng dia dengan sepeda merah kecilku, kami dengan sangat senang bermain dan membeli jajan di Bu siapa aku lupa, yang pasti jualannya di depan masjid Sumbang, yang kata ibuku, sekarang pemiliknya atau penjualnya sudah meninggal dunia. Ya, itulah sekelumit masa kecilku yang begitu indah. Mengingat memori masa lalu memang indah, maka dari itu, buatlah masa depan indah sebagai ganti masa kecilmu yang indah. 

Esensi Maulid Nabi Muhammad SAW


       Pagi ini, 26 Januari 2014. Seperti biasanya, kalau aku sedang liburan di Bojonegoro, sudah tentu aku akan menghadiri pengajian Ahad Pagi Masyarakat Madani. Pengajian ini dilaksanakan rutin setiap ahad pagi oleh Muhammadiyah Bojonegoro yang bertempat di Masjid At-Taqwa. Pengajian ini berlangsung dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 07.00. Minggu ini, minggu terakhir sebelum Selasa lusa aku kembali ke Malang untuk menuntut ilmu lagi. Pagi ini penceramah adalah Ust. Khusnul Fathoni. Ceramah pagi ini bertemakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hari-hari ini, maulid Nabi di masyarakat kita sudah dijadikan ajang kesyirikan. Kita perhatikan grebek maulid yang diadakan di Solo dan sekitarnya dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Kita tahu, grebek tidak diajarkan oleh Rasulullah sehingga seharusnya kita tidak mengikutinya. Karena setiap yang bid’ah adalah tertolak. Hal ini tak lepas dari peran aktif elit politik yang juga tidak mau meluruskan dan dengan mudah memberikan izin bahkan mensupport dengan dana yang cukup menggiurkan.

Masa lalu dan masa kini (profesi dan transportasi)

       
       Masih kuingat dengan sangat jelas bahwa 12 tahun yang lalu, saat itu umurku 7 tahun, seorang penjual pentol dan juga penjual mainan anak-anak sudah berjualan di MIN Kepatihan, tempatku bersekolah kala itu. Dan kini, setelah 12 tahun berselang, SMP, SMA dan sekarang ketika aku kuliah pun, sesekali ketika aku berkesempatan untuk menjemput adikku yang sekarang bersekolah di SD Muhammadiyah Bojonegoro, samping SMP Plus Arrahmat, ternyata 2 penjual itu masih saja berjualan, si penjual mainan nampaknya hidupnya semakin makmur. Terlihat dari badannya yang kian tahun kian gemuk saja dan juga mainan yang dijual serta pelanggannya semakin bertambah setiap harinya. Lain lagi dengan si penjual pentol. Penjual pentol kini berjualan sosis dan tempura, dan nyatanya juga makin sukses daripada ketika dulu masih berjualan pentol, atau paling tidak masih idem lah.        Sisi lain yang telah berubah adalah sisi transportasi yang aku sendiri gunakan. Dulu sekali, masih hangat dalam ingatanku, aku latihan bersepeda dengan sepeda merah andalanku yang kala itu aku seringkali jatuh bangun ketika mengendarainya. Aku sangat gemar sekali kebut-kebutan (jangan ditiru) dengan teman-teman kala pulang dari mengaji di TPA Baiturrahman Klangon. Setelah beberapa tahun, aku dibelikan sepeda baru berwarna biru yang punya skok yang sangat enak untuk digunakan di medan yang terjal, maklum sepeda gunung. Tahun-tahun berikutnya, aku mengendarai sepeda Polygon Sierra yang saat itu sangat terkenal. Dan sekarang, setelah aku duduk di bangku kuliah, sudah sangat jarang sekali aku mengendarai yang namanya sepeda ontel, diri ini lebih sering dan suka mengendarai sepeda motor yang terkesan lebih cepat daripada sepeda ontel. Kehidupan telah berubah seiring berjalannya waktu.   

MUHAMMAD AMIN

Sabtu, 25 Januari 2014

Mahasiswa UIN Maliki Malang Citarasa Internasional

       

       Usia kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memang bisa dikatakan masih terbilang muda. Belum genap 10 tahun, kampus ini sudah dengan cepat melejit bak roket luar angkasa melakukan perbaikan, pembaharuan, perencanaan disana-sini demi tercapainya kampus islam yang mendunia. Beberapa saat lalu, kampus ini menyandang predikat WCU (World Class University) bersanding dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menjadi kampus dengan level internasional tentunya menjadi sebuah kebanggan sekaligus tantangan baru bagi kampus kita tercinta. Di satu sisi, kita patut berbangga dengan segudang prestasi yang dimiliki civitas akademika, namun di sisi lain, kita tak memungkiri adanya tantangan yang harus dihadapi dengan senantiasa meningkatkan kualitas kampus maupun civitas akademikanya.

Jumat, 24 Januari 2014

3 Resep Mempertahankan Keimanan

       

       3 minggu ini aku selalu sholat Jum’at di Masjid At-Taqwa, masjid milik PDM Bojonegoro. Jum’at ini penceramah memberikan materi yang intisarinya adalah 3 resep mempertahankan keimanan, yaitu
1. Cintailah Allah dan Rasul melebihi cinta kita pada yang lain. Hal ini memang bisa dibilang berat. Tetapi juga harus kita usahakan.
2. Cintai sesuatu karena Allah.
3. Bencilah pada kekufuran.

Mungkin itu poin-poin besar yang disampaikan penceramah. Semoga kita bisa selalu mempertahankan keimanan dalam diri kita masing-masing. 

MUHAMMAD AMIN

Kamis, 16 Januari 2014

Nasib Angkutan Umum 'MEMPRIHATINKAN"

       
       Hari libur kemarin, tepatnya 14 Januari 2014 pukul 07.00, aku bersama ayah pergi dari Bojonegoro menuju Ngawi menggunakan angkutan umum yaitu bus. Cukup lama aku menunggu bus ini datang. Maklum, kami tidak pergi ke terminal, tetapi pergi ke terminal lama menunggu bis datang dengan asumsi kalau pergi ke terminal kajauhan, belum nanti nge"tem"nya. Setelah sekitar 30 menit, bis yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setalah naik, kuamati sekitar. Oh, miris sekali, ternyata isinya hanya segelintir orang saja alias tidak penuh. Aku merasa kasihan dengan armada tua ini yang masih saja mau "narik" meski kita tahu hasilnya tak seberapa karena penumpang tidak penuh sedangkan setoran tetap sama dari hari ke hari. Jalan ke Ngawi memang tidak bagus, banyak tambalan disana-sini sehingga membuat kendaraan tidak bisa stabil alias terombang-ambing ke kanan dan ke kiri bak sebuah kapal diterpa ombak di tengah lautan. Jalan ke arah Ngawi sedang dalam perbaikan pihak Exon Mobile. Jalan ke arah Ngawi hanya satu, itu sebabnya, tak jarang kita melihat antrian panjang sehingga menyebabkan macet. Rencana yang kudengar dari ayahku, bahwa nantinya akan dibuat semacam jalan layang seperti yang kita lihat di jalur Surabaya-Malang. Beberapa tahun lagi mungkin jalan ke Ngawi dari Bojonegoro akan seperti jalan tol Surabaya Malang. Tampak di kanan-kiri jalan utama lahan digusur, rumah dan toko dihancurkan untuk memperlebar jalan dan membuat jalan provinsi. Ya, tunggu saja nanti. Selain itu, yang sedikit aneh, dalam hal perbaikan ini, tampak pihak Exon Mobile terkesan setengah-setengah karena jalan yang diperbaiki sampai saat ini masih beberapa meter saja, bila kita melalui jembatan kecil, maka jalan belum diperbaiki, masih jelek. Khusnudzon saya, mungkin mereka mau memperlebar jalan yang melalui jembatan ini terlebih dahulu, karena memang setiap jembatan terkesan sempit dan sangat riskan bila dilalui oleh 2 kendaraan dari arah yang berbeda. Sesampainya kami di terminal Ngawi. Kulayangkan mata mengitari sekitar. Kulihat terminal ini seperti terminal mati, hanya beberapa armada saja yang ada di peron. Peron sudah tidak difungsikan lagi persis di terminal-terminal lainnya. Kondisi jalanan sekitar terminal tampak rusak dilewati armada setiap harinya. Toko dan kios begitu sepi. Aku sempatkan untuk ke belakang.Disana, masih kudapati seorang penjaga kamar mandi yang senantiasa di situ tak mau meninggalkan pencahariannya. Mungkin, itulah satu-satunya cara ia untuk menyambung hidup yang begitu keras persaingannya seperti sekarang ini. Setelah usai buang hajat, aku lihat sekitar kembali, kupotret sekitar sebelum akhirnya kutinggalkan terminal mati yang konon dibangun pada masa SBY beberapa tahun yang lalu tetapi sekarang memang sudah tidak difungsikan kembali. Kutinggalkan terminal itu lalu pergi menunggu armada menuju Simo. 

CMC Jaya

       
      
       Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, menjelang UAS hari terakhir jurusan PBA, aku mendapat pesan singkat dari ketua CMC, saudari Aji Nur Afifah, bahwa ada yang mau mengadakan wawancara mengenai CMC. Yang ingin melakukan wawancara adalah mahasiswa jurusan Psikologi UMM yang ternyata kutahu ketika kami akan melakukan wawancara, untuk memenuhi tugas akhir mereka menjelang UAS dalam materi bahasan Psikologi Sosial. Dengan santai, aku iyakan saja, karena memang pada waktu itu aku sedang kosong alias selesai UAS terakhir dan ketepatan pula pada waktu itu sang Ketua tidak bisa diwawancarai karena ada kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan. 
       Setelah melakukan perjanjian untuk wawancara hari Selasa, 31 Desember 2013 pukul 14.00, kami bertemu di hari dan jam yang telah ditentukan tersebut. Intinya, ia ingin mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana menjadi seorang sukarelawan dalam bidang sosial, lebih tepatnya pendidikan dalam hal menghadapi kesulitan-kesulitan selama menjadi sukarelawan. Aku jawab dengan sejujur-jujurnya dan sejelas-jelasnya. Mereka merekam wawancara kami sebagai bukti mereka telah melakukan tugas akhir mereka. Aku pun tak keberatan akan hal itu. Alhamdulillah, ternyata kabar CMC sudah semakin meluas. Semoga CMC selalu jaya. Usai wawancara tersebut, mereka memberi sedikit imbalan karena aku sudah mau membantu tugas akhir mereka. Tak lupa aku ucapkan banyak terimakasih kepada mereka. 

MUHAMMAD AMIN

Kucur, Desa kecil di Kota Malang

       
       Desa kucur, desa kecil di sebelah (tidak tahu tepatnya sebelah mana) Kota Malang adalah sebuah desa yang memang beberapa waktu lalu, mungkin juga sampai saat ini masih menjadi daerah yang menjadi pusat penyebaran agama kristen atau biasa kita kenal dengan istilah kristenisasi. Aku dulunya tak begitu tahu masalah ini. Desa ini adalah desa yang beberapa saat yang lalu dijadikan sebagai salah satu tempat bakti sosial oleh MAN 3 Malang. Maksudnya tak lain dan tak bukan adalah mengurangi kristenisasi dan mencoba mengambil hati masyarakat setempat untuk senantiasa mempertebal keimanan mereka, terutama yang beragama Islam untuk tidak dengan mudah mengikuti saja proses Kristenisasi yang teradi di daerah tersebut. Sudah waktunya bagi mereka untuk mulai bangkit sedikit demi seikit melawan Kristenisasi tersebut. Aku tidak tahu dengan jelas dan rinci bagaimana proses kristenisasi ini berjalan. Setahuku, kristenisasi dilakukan melalui kegiatan pendidikan semacam kursus. Dalam baksos tersebut, MAN 3 Malang mengadakan agenda bazar, pengajian umum, lomba-lomba, dsb. Sebagai tindak lanjut dari itu semua, kami sebagai alumni, saya dan beberapa alumni dibantu beberapa kawan dari UB, UM, UIN, dan universitas lainnya dengan sukarela mengajar adik-adik setiap Sabtu siang. Kami rela tidak dibayar demi tegaknya agama Islam di daerah Kucur tersebut. Meski begitu, kami, volunteer melakukannya dengan senang hati dan tak jarang kami tertawa riang bersama para anak didik yang kami anggap seperti adik kami sendiri. Dari sini, aku bisa mengaplikasikan apa yang telah aku dapatkan di bangku kuliahan dan organisasi yang aku ikuti selama ini. Selain itu, aku juga bisa memperluas jaringan alias punya banyak kenalan dengan kawan-kawan dari kampus lain. Sisi lainnya juga, aku bisa lebih bisa melihat realita masyarakat yang ternyata memang tak mudah untuk mengatur mereka dan membuat mereka mengikuti kita. Banyak pelajaran berharga yang kudapat selama aku menjadi volunteer di CMC (Care Moslem Children).  

MUHAMMAD AMIN

Menengok Hidup Kaum ter-Marjinal-kan

       
Pelik kadang melihat kehidupan orang-orang termarjinalkan alias orang pinggiran. Mereka begitu menikmati hidup mereka, meski kita semua tahu, hidup seperti itu tentu sangat tak layak bagi manusia-manusia merdeka. Mereka hidup dengan mengais makanan dari tong-tong sampah, hidup di bawah kolong jembatan yang kumuh, kotor dan jorok. Pakaian mereka penuh tambalan disana-sini, badan kotor tak terurus, rambut acak-acakan tak tentu arah. Kalau kita mau menengok sedikit saja kehidupan mereka yang begitu merana, seakan mereka berkata kepada penguasa negeri ini, atau kepada Tuhan "Ya Tuhan, kehidupan kami memang begitu sulit, mudahkan kami setiap harinya, dan beri kami selalu kesempatan untuk melajutkan kehidupan ini." Setelah tahu seperti itu, kita seharusnya ikut prihatin. Lebih dari itu, bila kita memiliki kelebihan rezeki, sebaiknya kita sumbangkan harta kita kepada mereka yang kekurangan. Dengan harapan mereka bisa merasakan hidup yang sedikit layak meski mungkin hanya beberapa hari saja. Tetapi, akan lebih salut lagi, bila kita melihat orang-orang termarjinalkan ini mau berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Dalam artian ia tak mau berpangku tangan kepada orang lain. Ia tidak menunggu bantuan yang datang. Ia mencoba melakukan terobosan-terobosan terbaru sehingga ia bebas dari hidupnya yang serasa menjadi budak di negeri sendiri. Semoga gambaran tersebut bisa mengetuk hati kita semua yang hidup mapan, atau terutama bagi para pejabat pemerintah yang berusaha mengentaskan kemiskinan. Sudah saatnya mereka memikirkan bagaimana rakyatnya bisa hidup sejahtera dan tidak hidup di bawah garis kemiskinan dan ketidaklayakan. Ingat salah satu pasal yang termaktub dalam UUD 1945 yang mengatakan anak terlantar menjadi tanggungjawab negara untuk menyejahterakan mereka. 

MUHAMMAD AMIN

Perkumpulan jaman Modern

       
      Masih menyoal masalah teknologi. Dahulu, masih hangat dalam otak dan ingatan kita, kalau kita mau berkumpul, susahnya bukan main. Harus pergi kesana-kemari untuk memberitahu tentang suatu pertemuan, jamuan makan, pesta, dan sebagainya. Kita akan membutuhkan banyak biaya, waktu yang tentu tidak singkat, tenaga yang tidak sedikit, dan sebagainya. Kita bandingkan dengan era globalisasi sekarang ini yang segala halnya berbau teknologi. Semuanya sekarang terangkum alias diliputi dengan teknologi. Kemudahan akses infoemasi semakin memudahkan kita semuanya dalam hal undang-mengundang dalam sebuah acara atau pertemuan. Tinggal kirim SMS, mengumumkan secara massal di jejaring sosial semacam facebook, twitter, path, BBM, dsb, maka berita sudah dengan cepat menyebar dan tak perlu susah-susah mendatangi pintu ke pintu, irit tenaga, efisiensi waktu, uang, dsb. Tak jarang, untuk efisiensi waktu dan tenaga juga uang, mereka mengadakan pertemuan dengan Online alias hanya dari tempat mereka masing-masing. Mereka mungkin awalnya membuat janji satu sama lain untuk sama-sama Online pada hari dan jam tertentu. Kemudian disana mereka melalui sambungan internet - kabel, wifi, atau hp - mereka berdiskusi tentang suatu hal atau merencanakan sebuah acara, lalu ditentukan satu keputusan lalu dijalankanlah hasil keputusan itu untuk membuat satu acara yang telah mereka rencanakan dan diskusikan panjang lebar melalui media online. Sehingga, sekarang sudah begitu mudahnya orang untuk berkomunikasi. Tetapi, efek buruknya juga, hal ini semakin membuat sendi-sendi sosial yang ada dalam suatu masyarakat yang dulunya begitu erat dan rekat, lama kelamaan menjadi pudar atau bahkan hilang tak berbekas sama sekali. Hal inilah yang kita takutkan. Kita bisa lihat, untuk mengucapkan mohon maaf ketika hari raya Idul Fithri saja misalnya, orang sudah malas dan kadang tak mau susah-susah datang ke rumah saudara-saudaranya, famili atau tetangganya hanya karena adanya teknologi yang kian hari kian canggih saja. Mereka cukup kirim SMS, BBM, buat status, dan berdiam diri di rumah menunggu balasan. Semoga ini semua menjadi pelajaran bagi kita untuk dengan bijak menggunakan teknologi canggih ini supaya tidak merusak sendi sosial yang telah lama mengakar kuat dan membudaya di tengah masyarakat. 

MUHAMMAD AMIN

Mainan Anak-anak "DULU dan SEKARANG"

       
      Kuperhatikan, anak-anak sekarang ini sudah semacam dirasuki virus-virus teknologi. Aku amati, mainan mereka saat ini sudah jauh berbeda dengan mainan ayah atau ibu kita jaman dahulu. Sekarang, karena teknologi yang semakin menjamur dan menggila di seluruh kalangan umat manusia, mengubah mainan anak-anak sekarang. Kita lihat, anak usia 2-3 tahun sudah sangat pandai mengoperasikan komputer, laptop, tablet, hp, dsb. Tak jarang, mereka lebih lihai dalam hal pengoperasiannya daripada orangtuanya. Sehingga orang tuanya terkesan "ndeso" alias "katrok" atau ketinggalan zaman. Tapi, efek dari hal itu, kalau kita tidak benar-benar bisa memfilternya maka akan sangat berbahaya. Sudah banyak kasus anak usia dini yang melakukan hal-hal yang tidak semestinya mereka lakukan atau dalam hal ini hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa. Nah, dalam hal ini sudah masuk ke dalam ranah perubahan nilai, moral yang semakin merosot dari hari ke hari. Hal ini ahrus menjadi fokus kita bersama, karena anak adalah harapan bangsa yang diharapkan nantinya bisa membanggakan bangsanya, berjuang untuk bangsa dan agamanya. Terkadang, ketika berkunjung ke desa dan mengamati permainan anak-anak desa yang sudah mulai digeser oleh adanya teknologi, diri ini kadang melihatnya prihatin dan juga miris. Mereka semakin susah diatur, bertindak semaunya sendiri. Rindu rasanya bermain dengan teman lama permainan-permainan semacam gobak sodor, kelereng, petak umpet, dsb. Ya, itu semua mungkin sekarang tinggal kenangan berharga masa lalu yang tak perlu untuk disesali. Tak apalah kita dulu hidup di zaman yang belum secanggih itu. Karena terkadang produk yang dihasilkan dari masa lalu tak sejelek dari produk anak-anak masa kini yang sudah dimanja teknologi.  

MUHAMMAD AMIN

Minggu, 12 Januari 2014

Kunjungan ke Kediaman Kawan-Kawan

       

       Kemarin, 11 Januari 2014, aku mengunjungi kediaman kawan-kawanku yang berada di daerah Tuban. Beberapa waktu lalu, aku memang telah berjanji untuk mengunjungi rumah seorang kawan di Tuban. Alhamdulillah, kemarin terlaksana, meski menggunakan sepeda motor kantor (plat merah) yang hanya punya CC 100/110. Maklum, sepeda motor keluaran 2002, sehingga untuk masalah akselerasi tidak bisa diandalkan. Tapi, tak masalah, yang penting sudah bisa dipakai jalan-jalan di Tuban. Pertama, aku mengunjungi kediaman Darkun. Aku ditunggu di Koramil Soko. Sesampainya disana aku diantarkan menuju rumahnya yang ternyata masih membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Tapi, tak apalah, yang penting aku sudah senang bisa mengunjunginya di liburan kali ini karena memang jarang sekali aku keluar rumah kalau tidak benar-benar terpaksa ketika liburan seperti ini. Sesampainya disana, kami berbincang banyak masalah nilai, PBA, kampus, dsb. Beberapa saat kemudian, Asyiq, temanku sedari SMP hingga sekarang di universitas ternyata disms si Darkun untuk mengunjungi rumahnya juga. Setelah dirasa cukup berbinacang dan hujan yang beberapa saat mengguyur wilayah Dukuh Kenti, Desa Prambon, Soko, Tuban, akhirnya aku putuskan untuk menuju ke rumah Asyiq yang ternyata baru kutahu bahwa lebih dekat dari rumahku daripada kediaman Darkun. Sesudah sampai di kediaman Asyiq, kami berbincang ngalor-ngidul masih mengenai masalah nilai, kampus, dan segala tetek-bengeknya. Setelah waktu menunjukkan pukul 14.15, aku putuskan untuk menuju Rengel ke rumah salah seorang dampinganku di mabna, yaitu ke rumah Fahmi, mahasiswa matematika semester 1. Aku sempat bingung mencari rumahnya. Awalnya aku kelewatan, aku bertanya kepada orang, kalau aku sudah kejauhan. Akhirnya aku kembali dan ternyata kelewatan lagi, setelah bertanya pada seorang pedagan kios kecil di sebelah KODIM, aku baru tahu dimana rumah Fahmi. Si Fahmi sudah menunggu di depan rumahnya. Setelah berbincang sedikit, aku ijin sholat dzuhur karena memang pada waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 14.45. Sebentar lagi sudah masuk waktu ashar. Selepas sholat, kami berbincang lagi. Kutahu ternyata kakaknya baru saja lulus S2 Pendidikan Bahasa Arab di kampus ulil albab juga. Selepas wisuda, menurut pengakuan Fahmi dan ayahnya kakaknya (putri) langsung menuju Kediri untuk persiapan akad nikah dan resepsi di hari Ahadnya. Waw,... Ternyata S1 kakaknya adalah Bahasa dan Sastra Arab (BSA) sehingga harus melanjutkan S2 agar mudah dalam hal mengajar. Suaminya adalah teman satu kampus jurusan TI S1 yang melanjutkan di jurusan yang sama tetapi di kampus berbeda. Kutahu juga alasan mereka bisa sampai kenal dan akhirnya memutuskan, kata si Fahmi hanya karena kakaknya meminta memperbaiki laptopnya yang rusak. Wah,asyik juga ya perjalanan cinta mereka. Setelah dirasa cukup, aku sholat berjama'ah ashar dan akhirnya aku pulang kembali ke rumah. Alhamdululillah, hari yang begitu melelahkan sekaligus menyenangkan. Moga lain kali aku bisa lebih sering mengunjungi kediaman teman-teman yang ada di daerah Bojonegoro. Satu pelajaran yang bisa kuambil dari perjalan ini adalah, teruslah beusaha untuk senantiasa menghargai satu sama lain tanpa memandang status ekonomi dan sosial. 

MUHAMMAD AMIN

Sisi Lain Kawanku

       

       Posting kali ini akan membahas satu sosok, yaitu teman saya, perempuan di jurusan PBA, sebut saja namanya FAZ. FAZ memang tak terlihat spesial di kalangan kawan-kawannya. Seperti di jurusan PBA angkatan saya saja misalnya. Tetapi, di balik itu semua, ada banyak sisi lain yang baru kuketahui beberapa waktu setelah berbincang banyak dengan teman seperjuangan di IMM dan juga kadang lewat sms-sms.

Rabu, 08 Januari 2014

GWS Kawan

       

       Beberapa saat yang lalu, aku reuni bareng temen2 MIN Kepatihan Bojonegoro, satu yang kutangkap semenjak pertemuan itu sampai sekarang, aku merasa kasihan kepada temanku yang sedang sakit. Sakitnya ini tak bisa dianggap remeh sama kaum hawa, pokoknya bahaya banget. Yang pasti ini menyentuh ranah kelanjutan kehidupan. Aku lihat badannya tak lagi gemuk seperti dahulu. Memang sih, aku baru kenal kala pertemuan itu dimulai, namun, entah mengapa rasa empati ini seketika timbul. Aku tahu itu semua dari sms beberapa waktu setelah reuni berlangsung. Aku sendiri sedikit shok, Ya Allah, sebegitu beratkah Engkau memberikan cobaan kepada hambaMu. Semoga Engkau menjadikan temanku ceria kembali seperti sediakala, sehat bugar dapat beraktivitas dengan lancar. Terkadang terbayang olehku, kalau ia adalah istriku, masih sanggupkah diri ini menahan pilu??? Hanya Allah Yang Tahu. Hanya satu pesanku, wahai sahabat, jangan mengeluh, teruslah berusaha, aku yakin penyakitmu akan sembuh, meski entah kapan. Tapi kuharap semangatmu untuk menjalani hidup tak pudar, tetap bersinar terang bak matahari di siang hari. 

Teruntuk sahabatku, FH, alumni MIN Kepatihan 2006. 

MUHAMMAD AMIN

Tour De Supervisor of Avicenna Dormitory

       

       Beberapa hari yang lalu, tepatnya 3 Januari 2014, aku bersama teman-teman musyrif dan murobby Ibnu Sina memulai tour de musyrif. Kami bernagkat pada pukul 10.45 dari Malang. Kami beristirahat di masjid sebuah pabrik untuk melaksanakan sholat Jum'at berjama'ah. Perjalanan dilanjutkan menuju kota Sidoarjo, sesampainya di Tnggulangin kami menuju ke rumah CO Mabna Ibnu Sina, Mas Zaenal.

Rabu, 01 Januari 2014

Momentum Pergantian Tahun 2013 menuju 2014


       Momen tahun baru adalah salah satu momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang. Orang-orang merayakannya dengan caranya masing-masing. Ada yang rela pergi berjubel di alun-alun hanya demi bersama-sama mengucapkan selamat tahun baru 2014, Happy New Year 2014. Ada pula yang mengadakan pesta bakar-bakar, baik bakar jagung, bakar ikan, dll. Ada pula yang naik gunung, nonton film, de el el dech. Pokoknya apa aja yang bikin mereka seneng. Untuk momen akhir tahun 2013 ini, aku bareng temen2 IMM Reformer UIN Maliki Malang ngadakan bakar jagung di rumah mantan ketua IMM Reformer UIN Maliki Malang, yaitu Ust. Umar Al-Faruq. Kita berbincang kesana-kemari mulai dari hal sepele mengenai kawan-kawan IMM sampai pada kampus, rektor, dekan, dan lain-lain. Pokoknya lain banget deh, momen pergantian tahun 2013 ini ke tahun 2014. Tahun 2013 begitu berkesan, meninggalkan kesan tak terlupakan. Banyak hal telah kulakukan di tahun 2013. Hasil gemilang di akhir semester 1 dan 2, musyrif, MC di berbagai acara, anggota baru IMM Reformer. Super sekali. 
Back to top