Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Selasa, 21 Oktober 2014

Mimpi itu datang lagi


       Beberapa waktu lalu, tepatnya 19 September 2014 aku mendapat satu sms dari mahasantri Ibnu Sina tahun 2013, Azhari Mulyana, bahwa ia akan berangkat ke Maroko Rabu yang akan datang. Ia meminta maaf atas segala kesalahan dan minta doa agar semuanya lancar. Seketika aku langsung teringat pada mimpi-mimpiku yang tak pernah kandas, yaitu belajar agama dan bahasa arab di luar Indonesia. Bayangan itu tak pernah lekang oleh waktu, terus terpatri dengan kuat dalam jiwa dan juga otak ini. Intinya, bercita-citalah setinggi langit, maka semesta akan mendengar impianmu dan teruslah berusaha untuk meraihnya, maka semesta pun akan ikut andil menyampaikan impianmu. Tuhan pun akan memeluk mimpi-mimpi itu dan cepat atau lambat akan mewujudkannya meski tidak harus selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. 

Pelajaran dari Bapak Kebersihan Kantin Putra


       Semalam, usai rapat mabna Ibnu Kholdun membahas masalah bedah kitab Fathul Izaar, aku bergegas menuju kantin putra karena lapar yang tak mau sedikit diajak kompromi. Maklum, waktu sudah agak malam, pukul 20.30 dan biasanya semakin malam, maka keadaan perut kosong menjadi satu masalah yang harus segera dicarikan solusi, yaitu makan. Sejurus kemudian, aku menemui Fikri, teman sekelas di MAN 3 Malang dulu yang kini sedang fokus di UNIOR. Terdengar percakapan kesana-kemari membahas seputar UNIOR. Malumlah, UNIOR sedang menjaring anggota baru. Aku menuju ke salah satu penjual nasi di kantin itu lalu memesan mie instan dan nasi. Sambil menunggu aku pun ikut nimbrung ngobrol kesana-kemari bersama Fikri dan kawan-kawan lainnya. 
       Setelah beberapa saat, aku ambil pesanan makanku lalu mengambil satu tempat kosong di dekat temanku. Baru makan beberapa suapan, seketika orang yang biasa bersih-bersih piring mendekatiku sambil bertanya tentang hp yang dari tadi kumainkan. Bapak tersebut langsung saja mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Bapak itu bertanya kesana-kemari dan kami pun asyik mengobrol mengenai hp, sedikit riwayat hidup. Kuketahui beliau adalah orang Gondanglegi yang memang masih baru di kantin ini. Beliau punya saudara yang dulu pernah beliau suruh untuk ikut sekolah teknisi hp yang diadakan oleh Dompet Dhuafa beberapa tahun yang lalu. Hasilnya mereka semua sukses menjadi teknisi hp di konter-konter tempat mereka bekerja. Ketika kusebutkan diriku berasal dari Bojonegoro, beliau menimpali bahwasannya beliau pernah punya saudara dan saudaranya meninggal ketika mengendarai truk yang mengangkut cabai di perbatasan Babat-Bojonegoro. Aku pun ikut sedih mendengarnya. 
       Beliau melanjutkan bertanya tentang jurusanku. Kubalas bahwa aku mahasiswa jurusan PBA. Seketika beliau berkata, "Oh, yang mengadakan lomba di atas tadi siang ya mas?" Kubalas "ya, pak". Beliau berkata lagi, "Itu saya kasih kardus-kardus di tangga agar anak-anak disini tidak naik ke atas, karena di atas adalah kantin khusus dosen dan tidak boleh dipakai mahasiswa. Terkadang beberapa mahasiswa bandel dan ngotot untuk tetap makan dan minum di bawah sampai-sampai meninggalkan bekas piring dan gelas dan tidak membawanya ke bawah. Kalau begitu kan saya yang susah." Ia melanjutkan perkataannya, "Setiap yang memakai ruang di lantai 2 selalu saya pesan untuk tidak meninggalkan sampah sedikit pun dan mengembalikan kursi dan meja sesuai susunan awal" Dalam hati aku berkata, "Oh, yaya. Aku juga baru dengar kalau di atas itu khusus untuk dosen". Setelah itu beliau pamit untuk membersihkan kantin. Aku pun mengiyakan dan kembali ke mabna untuk melanjutkan aktivitas. Pada intinya, kenalilah siapa pun karena kau tak tahu dari akan nasibmu di masa depan. Bisa jadi yang kau ajak bicara sekarang menjadi jembatan kesuksesanmu di masa depan.  

Selasa, 07 Oktober 2014

Esensi Idul Adha


       Pagi tadi, kembali memasuki aktivitas perkuliahan seperti biasanya. Matakuliah pada pukul setengah 7 pagi ini adalah PTK. Sembari menunggu teman-teman yang belum hadir meski waktu telah menunjukkan pukul 7 lebih. Beberapa saat kemudian, ust. Bisri Musthofa membuka perkuliahan dengan bercerita sedikit masalah berqurban karena baru saja diriku berkata kalau teman-teman masih banyak yang pesta sate di kediaman mereka. Beliau berkata bahwa sesungguhnya ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dari momen idul adha ini. Salah satunya adalah forum silaturrahim. Islam sangat pintar mengatur berbagai ritual ibadah, tak terkecuali idul adha ini. Idul adha sebagai forum silaturrahim tentu dapat dimaknai beragam. Mulai nyate bareng-bareng, menyembelih hewan qurban dengan warga sekitar, dsb. Dalam budaya kita, bila kita diundang dalam sebuah perjamuan, tetapi tak ada maksud seperti membicarakan suatu hal atau hanya sekadar untuk mengisi keinginan perut, maka dirasa perkumpulan tersebut sia-sia belaka. Maka dari itu, dengan adanya idul adha, orang-orang berkumpul untuk paling tidak makan bersama-sama. 

Minggu, 05 Oktober 2014

Kebebasan Berserikat


       Sebagai manusia yang hidup di atas dunia yang fana, tentunya kita tak mampu untuk hidup sendiri. Dalam keseharian kita, kita pasti membutuhkan bantuan dan sokongan dari orang lain. Contoh saja dalam hal berpakaian, kita tak mungkin membuat baju sendiri, dst. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang akhirnya berserikat atau berkelompok dengan berbagai variasinya. Ada kelompok yang mendasarkan pada hobi, ada pula sebagian yang lain mendeklarasikan kelompok berdasarkan profesi, dsb.
       Lalu kemudian, muncul satu pertanyaan, apakah setiap orang bebas untuk mengikuti semua perkumpulan tersebut ataukah ada aturan-aturan yang mengatur akan hal itu? Sepanjang yang penulis ketahui, setiap orang berhak dan bebas untuk menentukan pilihannya mengikuti dan masuk golongan yang mana. Tak ada satu paksaan pun di dalamnya.
       Sore ini, aku mendapat satu pesan singkat dari adik kelas di jurusan yang memang mengikuti salah satu OMEK di kampus hijau ini. Isinya kurang lebih mengajak untuk masuk dalam kelompok atau komunitas OMEK nya. Dengan sedikit iseng aku menjawabnya, “Biarlah setiap orang menentukan pilihannya sendiri”. Sekilas terbayang dalam benakku bagaimana beberapa tahun lalu aku mengikuti orientasi jurusan dan ujung-ujungnya juga diminta untuk mengikuti salah satu OMEK. Kalau saya sebagai orang yang sudah lama bergumul dengan carut marut organisasi baik formal, informal, maupun sosial, maka sangat biasa mendapatkan propaganda semacam itu. Penulis merasa kasihan dengan kawan-kawan seperjuangan yang dengan mudah terbujuk rayu omongan kakak-kakak tingkat yang menjanjikan. Yang pada akhirnya, kawan-kawan saya pun  mendapatkan getahnya di belakang dan oleh kakak-kakak tingkat di OMEK tersebut tidak dibolehkan untuk meninggalkan OMEK tersebut dengan diimingi satu jabatan penting dalam sebuah kepanitiaan dan sebagainya.
Back to top