Selasa, 07 Oktober 2014

,

Esensi Idul Adha


       Pagi tadi, kembali memasuki aktivitas perkuliahan seperti biasanya. Matakuliah pada pukul setengah 7 pagi ini adalah PTK. Sembari menunggu teman-teman yang belum hadir meski waktu telah menunjukkan pukul 7 lebih. Beberapa saat kemudian, ust. Bisri Musthofa membuka perkuliahan dengan bercerita sedikit masalah berqurban karena baru saja diriku berkata kalau teman-teman masih banyak yang pesta sate di kediaman mereka. Beliau berkata bahwa sesungguhnya ada banyak hikmah yang dapat kita ambil dari momen idul adha ini. Salah satunya adalah forum silaturrahim. Islam sangat pintar mengatur berbagai ritual ibadah, tak terkecuali idul adha ini. Idul adha sebagai forum silaturrahim tentu dapat dimaknai beragam. Mulai nyate bareng-bareng, menyembelih hewan qurban dengan warga sekitar, dsb. Dalam budaya kita, bila kita diundang dalam sebuah perjamuan, tetapi tak ada maksud seperti membicarakan suatu hal atau hanya sekadar untuk mengisi keinginan perut, maka dirasa perkumpulan tersebut sia-sia belaka. Maka dari itu, dengan adanya idul adha, orang-orang berkumpul untuk paling tidak makan bersama-sama. 

       Pelajaran lain yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS adalah bahwasanya seorang anak adalah sebuah harta yang sangat berharga. Kata anak seringkali disangkutpautkan dengan kata harta dalam Al-Qur'an (innamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnah). Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa seorang anak adalah salah satu lambang kesenangan dunia. Maka, dengan momen idul qurban, diharapkan kita dapat mengekang nafsu keduniawian kita. Memang, secara dzahir atau kasat mata kita hidup di dunia. Tetapi, jangan sampai dunia ini menjadi tujuan kita. Alangkah lebih baiknya bila dunia ini kita jadikan sebagai ladang atau investasi akhirat sebagaimana pepatah yang sering kita dengar (ad-dunya mazro'atul aakhirot) yang artinya bahwa dunia adalah ladang untuk akhirat. 
      Kemudian, berbicara masalah nyate tadi, sesungguhnya kita sebagai seorang muslim dilarang untuk berlebih-lebihan dalam segala hal sebagaimana firman Allah yang artinya, "makanlah dan minumlah dan janganlah berlaku berlebih-lebihan atau melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan". Momen idul adha yang berbeda seeprti terjadi pada tahun ini juga merupakan kebahagiaan tersendiri bagi beberapa kalanga, seperti penjual kambing yang biasanya menjual kambingnya hanya 4 hari bisa menjual kambingnya selama 5 hari dsb. Sebagai seorang muslim yang baik, hendaknya adanya sebuah perbedaan pendapat dapat disikapi dengan lapang dada, karena sesungguhnya semua itu bermuara pada satu hal, yaitu keharmonisan umat Islam. Ingatlah, sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa kepadaNya. 
(disarikan dari uraian Ust. Bisri Musthofa sebelum memulai perkuliahan PTK 7 Oktober 2014).  

MUHAMMAD AMIN

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar