Selasa, 21 Oktober 2014

Pelajaran dari Bapak Kebersihan Kantin Putra


       Semalam, usai rapat mabna Ibnu Kholdun membahas masalah bedah kitab Fathul Izaar, aku bergegas menuju kantin putra karena lapar yang tak mau sedikit diajak kompromi. Maklum, waktu sudah agak malam, pukul 20.30 dan biasanya semakin malam, maka keadaan perut kosong menjadi satu masalah yang harus segera dicarikan solusi, yaitu makan. Sejurus kemudian, aku menemui Fikri, teman sekelas di MAN 3 Malang dulu yang kini sedang fokus di UNIOR. Terdengar percakapan kesana-kemari membahas seputar UNIOR. Malumlah, UNIOR sedang menjaring anggota baru. Aku menuju ke salah satu penjual nasi di kantin itu lalu memesan mie instan dan nasi. Sambil menunggu aku pun ikut nimbrung ngobrol kesana-kemari bersama Fikri dan kawan-kawan lainnya. 
       Setelah beberapa saat, aku ambil pesanan makanku lalu mengambil satu tempat kosong di dekat temanku. Baru makan beberapa suapan, seketika orang yang biasa bersih-bersih piring mendekatiku sambil bertanya tentang hp yang dari tadi kumainkan. Bapak tersebut langsung saja mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Bapak itu bertanya kesana-kemari dan kami pun asyik mengobrol mengenai hp, sedikit riwayat hidup. Kuketahui beliau adalah orang Gondanglegi yang memang masih baru di kantin ini. Beliau punya saudara yang dulu pernah beliau suruh untuk ikut sekolah teknisi hp yang diadakan oleh Dompet Dhuafa beberapa tahun yang lalu. Hasilnya mereka semua sukses menjadi teknisi hp di konter-konter tempat mereka bekerja. Ketika kusebutkan diriku berasal dari Bojonegoro, beliau menimpali bahwasannya beliau pernah punya saudara dan saudaranya meninggal ketika mengendarai truk yang mengangkut cabai di perbatasan Babat-Bojonegoro. Aku pun ikut sedih mendengarnya. 
       Beliau melanjutkan bertanya tentang jurusanku. Kubalas bahwa aku mahasiswa jurusan PBA. Seketika beliau berkata, "Oh, yang mengadakan lomba di atas tadi siang ya mas?" Kubalas "ya, pak". Beliau berkata lagi, "Itu saya kasih kardus-kardus di tangga agar anak-anak disini tidak naik ke atas, karena di atas adalah kantin khusus dosen dan tidak boleh dipakai mahasiswa. Terkadang beberapa mahasiswa bandel dan ngotot untuk tetap makan dan minum di bawah sampai-sampai meninggalkan bekas piring dan gelas dan tidak membawanya ke bawah. Kalau begitu kan saya yang susah." Ia melanjutkan perkataannya, "Setiap yang memakai ruang di lantai 2 selalu saya pesan untuk tidak meninggalkan sampah sedikit pun dan mengembalikan kursi dan meja sesuai susunan awal" Dalam hati aku berkata, "Oh, yaya. Aku juga baru dengar kalau di atas itu khusus untuk dosen". Setelah itu beliau pamit untuk membersihkan kantin. Aku pun mengiyakan dan kembali ke mabna untuk melanjutkan aktivitas. Pada intinya, kenalilah siapa pun karena kau tak tahu dari akan nasibmu di masa depan. Bisa jadi yang kau ajak bicara sekarang menjadi jembatan kesuksesanmu di masa depan.  

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar