Juru damai dari Maluku (Kuliah Tamu Gubernur Maluku Ir. H. Said Assagaff)

       Jum'at penuh berkah, mentari merekah tanda pagi yang cerah membawa semangat menggugah kepada siapa saja yang punya itikad untuk berubah. 
       Jum'at ini cukup berbeda. Usai mengikuti kuliah pengelolaan kelas oleh ustadz Ridwan yang lebih bersifat kuliah tamu atau seminar karena banyak mahasiswa kelas lain yang ikut kelas D. Pra acara diisi oleh sholawat klasik dari JDFI Pusat Ma'had Al-Jami'ah dilanjutkan pembukaan dan qiro'ah yang dilantunkan oleh Abdul Charis Fauzan jurusan Teknologi Informatika fakultas Saintek, teman semasa OPAK Universitas 2012 lalu. Sambutan rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo mengawali pidato dengan memberi gambaran sejarah serta masa depan UIN Maliki Malang kepada gubernur Maluku. Beliau berkelakar mengenai Prof. Imam Suprayogo dan berjanji tidak akan mengubah filosofi kampus hijau dan meminta Prof. Imam untuk senantiasa mendampingi sampai Prof. Mudjia purna tugas. Beliau juga mengungkapkan kepada rektor IAIN Ambon yang hadir untuk segera merubah perguruan tingginya menjadi universitas agar mampu melebarkan sayap di berbagai lini kehidupan. 
       Kuliah tamu kali ini mengusung tema "Success story membangun perdamaian di Maluku melalui pendidikan." Pak rektor meminta kesediaan gubernur Maluku untuk ikut serta mnyuarakan dan mendendangkan UIN Maliki Malang di seantero negeri. Sebelum kuliah tamu dilaksanakan, peserta disuguhi tontonan sebuah film dokumenter yang telah memenangkan beberapa kali perlombaan baik di dalam maupun luar negeri mengenai provokator damai di Ambon. 
       Hadir dalam kesempatan ini rektor IAIN Ambon, rektor STATPEN, ketua SINODE GEREJA PROTESTAN Maluku, rektor UKIM, beserta dosen UKIM dn STATPEN. Gubernur Maluku mengawali kuliah tamunya dengan ulasan sejarah konflik di Maluku pada tahun 1999 sampai 2002 yang mana terjadi konflik antara Islam dan Kristen. Konflik ini menyebabkan pembangunan di Maluku menurun sebesar 27 persen dari tahun sebelumnya. Semua orang di Maluku menghormati simbol agama apa pun. Bila tidak, maka pecahlah konflik. Hal ini disebabkan politisasi agama. Simbol agama banyak digunakan sebagai justifikasi untuk perpecahan konflik. Hal ini berimbas pada konflik yang masif dan tak terhitung jumlah korbannya. Komflik ini membawa dampak yang sedikit meresahkan seperti terpecahnya kantor pemerintahan menjadi beberapa kantor hanya karena aparat pemerintah di dalamnya berbeda agama. Terjadinya pekelahian antara preman dan sopir angkot adalah sebab utama pecahnya konflik yang menyebabkan lahirnya konflik antar etnis sampai pada agama. Pergeseran konflik berjalan dengan cepat. Menurut teori konflik, konflik yang menjalar dengan cukup cepat tentu dipicu atau dilahirkan oleh seseorang atau sekelompok orang sebegai entrepreneur atau provokator konflik yang sampai hari ini hal itu belum terpecahkan sehingga ada ungkapan bahwa provokator ini semacam hantu yang tak kunjung tampak. 
       Berikut adalah beberapa sebab mengapa konflik Maluku dapat lahir dan terus bergulir, 
a. Penghancuran akar budaya Maluku (Belanda dengan devide at impera nya dalam hubungan agama, antara Islam dan Kristen dan juga antar etnis di Maluku) 
b. Kebijakan pembangunan dalam ORBA (lebih pada keinekaan daripada kebhinnekaan)
c. Kebijakan pembangunan yang terlalu sentralistik (padahal Maluku memiliki leih dari 1000 pulau kecil) 
       Sesungguhnya bila orang Indonesia atau bahkan siapa saja yang ingin mempelajari ilmu maritim, hendaknya belajarlah ke Maluku, bukan ke IPB. Gubernur berharap agar Maluku dapat dijadikan poros maritim dan lumbung perikanan nasional karena Maluku terdiri dari 1.412 pulau yang mana 40 persennya berpenghuni dan sisanya tidak. Gubernur berkelakar kalau di Jawa ketika seorang suami berangkat kerja istrinya akan bertanya kepada suami apakah hari ini kita masih dapat makan atau tidak. Tetapi lain lagi bila dibandingkan dengan pasutri di Maluku. Di Maluku, ketika seorang suami berangkat kerja, maka ia akan bertanya kepada istrinya, malam ini mau makan apa, bilang saja. Maluku kaya akan suku, budaya, dan bahasa serta tokoh-tokoh penting yang mengisi pos-pos sentral di Indonesia seperti menteri dan sebagainya. Contohnya seperti Dr. Lamena yang menggantikan posisi presiden selama 3,5 bulan ketika presiden bertandang ke luar negeri untuk urusan kenegaraan. Tetapi setelah ORBA, orang Maluku dan orang timur menjadi kurang perannya di pentas nasional. 
       Beliau juga mengungkapkan bahwa sesungguhnya orang yang pertama kali mengelilingi dunia sesungguhnya orang Maluku yang dikenal dengan nama Enrico Maluku. Berbicara mengenai juru damai, saat ini berbagai universitas di Maluku sudah ada dewan perdamaiannya. Pendidikan multikultural menjadi salah satu matakuliah di berbagai universitas disana, tak terkecuali IAIN Ambon. Beliau menghimbau seluruh pihak dan mengajak menyuarakan bahwasannya Maluku adalah laboratorium konflik sekaligus laboratorium perdamaian dan multikulturalisme tidak hanya lingkup nasional bahkan internasional. 

Komentar