Selasa, 31 Maret 2015

Sepenggal Cerita Pak Chumaidi, Alumni Akademi Angkatan Laut

       Siang ini sungguh menjadi siang yang amat berharga. Tak dinyana, seketika masuk ruangan B110, bu Umi kedatangan tamu yang ternyata adalah adik kelas semasa kuliah dahulu. Beberapa saat kemudian, bu Umi mempersilahkan salah satu tamunya, pak Chumaidi untuk berbagi pengalaman dan cerita.
       Beliau berdiri dengan gagah. Gaya bicara ala tentara tampaknya masih sangat tampak dari beliau. Beliau memulai cerita dengan memperkenalkan diri. Beliau bernama Chumaidi, nama bahasa Arab dariisim tashghir dalam ilmu shorof. Semasa kuliah ternyata beliau aktif di Menwa. Tak mengerankan bila usai kuliah di kampus ini, beliau langsung masuk ke akademi Angkatan Laut. Beliau disana sekitar 5 tahun. Beliau banyak bertugas dalam misi perdamaian, misalnya di NTT, dsb. Sebagai alumni PAI, beliau menyebarkan perdamaian di berbagai daerah. Beliau sudah lebih dari 20 kali masuk ke dalam gereja untuk memberikan ceramah perdamaian dengan mengutip firman Allah sesungguhnya, tetapi beliau menggunakan retorika yang lebih dapat diterima banyak orang seperti Tuhan berfirman dalam KitabNya. Beliau mengajak orang-orang untuk menjaga kelestarian lingkungan alam Indonesia karena manusia diciptakan Tuhan untuk mengatur bumi dan tidak merusaknya.

       Yang menarik beliau juga bercerita bahwa di Angkatan Laut ada pula yang disebut balai bahasa. Disana diajarkan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Hal ini dimaksudkan untuk membekali prajurit yang akan melakukan misi perdamaian di luar negeri seperti Lebanon. Beliau menuturkan bahwa Angkatan Laut Indonesia selalu mengirim 100 orang tiap sekian bulan sekali ke Lebanon untuk misi perdamaian dan hal tersebut telah dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan.
       Setelah selesai bercerita panjang lebar mengenai pengalaman hidup yang mengaarkan banyak hal tentang arti memahami perbedaan antara satu suku dengan suku lain bahkan antar agama, beliau berpesan kepada kami untuk senantiasa terus berusaha mewujudkan cita-cita setinggi-tingginya dan mengingat bahwa setiap kita memiliki corak dan karakter masing-masing yang mana kita bertugas untuk saling mengingatkan dan saling melengkapi satu sama lain.
       Sungguh, hal ini bisa dibilang memiliki sedikit persamaan dengan kuliah tamu gubernur Maluku beberapa waktu lalu yang diadakan di rektorat lantai 5 yang pada intinya bagaimana kita bisa bergaul dengan orang dari berbagai latar belakang ekonomi, ras dan agama demi terwujudnya Indonesia Jaya di masa yang akan datang.
SALAM PERDAMAIAN












0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar