Kamis, 04 Februari 2016

,

Refleksi Selama PKLI FITK di Thailand


Senin, 4 Januari 2016
       Pengalaman hari ini di negeri orang untuk pertama kalinya. Kesulitan pertama tentu dari sisi bahasa. Saya sendiri mempelajari sedikit kosakata Thailand beberapa minggu terakhir guna bekal disini. Meski tak banyak paling tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi misalnya untuk beli makan, harga, berkenalan dengan orang baru. Kesan pertama dari percakapan orang Thailand mereka berbicara cukup cepat. Saya mencoba menggunakan bahasa Thailand meski belum selancar mereka. Awalnya, mereka tertawa mendengar logat Jawa ini mengucap bahasa Thai. Tetapi, kalau tak dicoba tentu akan semakin tidak bisa. Saya ingat satu hal, kunci belajar bahasa yang pertama adalah braveness atau keberanian. Bila satu kunci ini sudah dapat ditaklukkan insyaAllah untuk selanjutnya akan lebih mudah untuk berbahasa. Dari sini, saya akhirnya mengerti bahwa bahasa Thailand memang cukup susah tetapi bukan berarti tidaka mungkin untuk dipelajari, setidaknya kosakata sehari-hari yang penting. Jadi, saya putuskan mulai saat itu untuk menambah kosakata bahasa Thailand guna mempermudah berkomunikasi dengan orang Thailand asli terutama kosakat yang berkaitan dengan pelajaran dan sekolah.
 
       Pengalaman lainnya adalah mengenai makanan. Sempat kaget untuk pertama kali mencoba makanan Thailand. Awalnya saya mencoba memilih lauk di sebuah kedai makanan. Saya memilih sayur ikan. Ikan disini seperti ikan jambal di Indonesia. Tetapi, saya tidak tahu apa namanya jika di Thailand. Kata Mas Ridho yang sudah hampir satu semester di Thailand, menu yang kupilih adalah menu yang memang benar-benar menu Thailand. Lalu, saya menimpali, malahan yang saya pilih itu yang paling mirip dengan masakan Indonesia. Ketika mencicipi pertama kalinya masakan Thailand, kesan saya adalah masakan Thailand itu pedas, asam. Hampir semua sayur dan makanan di Thailand ini berasa asam. Seakan-akan menjadi aneh bila masakan Thailand itu tidak berasa asam. Akhirnya, sejak saat itu, lidah ini harus menyesuaikan diri memakan masakan yang serba pedas dan asam. Lalu, hal kedua yang saya temukan mengenai makanan adalah minuman disini wajib ada es. Rasanya aneh bila usai makan tidak minum es batu dengan air putih atau air berasa lainnya. Awalnya, saya merasa aneh juga karena di Indonesia minum es itu adlah sesuatu yang jarang karena ditakutkan akan menyebabkan sakit pilek. Tetapi, saya lihat disini semua orang minum es batu dengan air putih dsb mereka tetap tampak sehat-sehat saja dan tidak berpenyakit. Prediksi saya karena air yang digunakan untuk membuat es batu tersebut adalah air matang yang sudah dimasak sehingga tidak menyebabkan penyakit bila diminum.

Selasa, 5 Januari 2016
       Hari kedua di Bangkok, kami bangun setengah 4, kami kira sudah hampir subuh seperti di Indonesia, ternyata itu masih sangat pagi karena subuh disini pukul 5.30 pagi. Akhirnya saya sendiri menunggu sampai pukul 5.30 baru kemudian sholat subuh. Selepas itu, saya bersama teman-teman berjalan-jalan di sekitar Rajamangala National Stadium, selain berolahraga, kami tak lupa berfoto ria disana karena nanti sore kami akan segera meninggalkan Bangkok menuju Chana. Menurut penuturan Bitul, teman jurusan PIPS di Thailand ini setiap pukul 8 pagi akan diputar lagu kebangsaan Thailand dan semua aktivitas berhenti untuk menghormati lagu ini. Menurut saya ini bagus untuk ditanamkan di Indonesia. Bila ini diterapkan di Indonesia tentu akan semakin menguatkan rasa memiliki Indonesia dan bangga menjadi bangsa Indonesia.
Rabu, 6 Januari 2016
       Hari ini saya sampai di Chana pada pukul 11 siang. Kami sudah dijemput oleh ustad Syukur dan beberapa orang lain dengan menggunakan bus dan van. Kami dibawa ke Chariyathamsuksa Foundation School untuk acara pelepasan mahasiswa PKL. Hadir disana perwakilan dari berbagai sekolah yang akan kami tempati. Tak lupa hadir perwakilan konjen Songkhla dan juga mas Ridho dan Mas Fahmi, kakak kelas kami di PBA yang sekarang sudah mengajar di Singanakhon, Thailand selama hampir 5 bulan. Kesan saya ketika sampai Chana adalah Thailand secara umum panas. Ya, karena memang bulan-bulan ini Thailand sedang musim panas. Panasnya melebihi Indonesia. Kipas angin menjadi kebutuhan pokok selain sandang pangan papan. Kembali saya coba bercakap bahasa Thailand untuk membeli minum di kantin Chariyatham usai makan siang. Paling tidak untuk angka saya harus sudah mulai terbiasa demi memudahkan komunikasi dengan penduduk Thailand asli. Sore menjelang maghrib, kami pun berpisah karena harus menuju ke sekolah masing-masing. Aku sendiri bersama Agung berangkat ke Sassanabamrung yang dapat ditempuh sekitar 10-15 menit. Dari sini cerita dimulai. 
Kamis, 7 Januari 2016
       Hari kedua menginjakkan kaki di Sassanabamrung Sogkhla. Hari ini agendanya acara children Day atau hari anak yan sejatinya akan dilaksanakan pada ahad, 10 Januari atau Senin, 11 Januari. Peringatan hari anak nasional ini memperingati hari lahirnya anak pertama raja Thailand. Biasanya mereka bersepeda berkeliling kota. Itulah kenapa Children Day digelar di sekolah-sekolah dengan hadiah utama sepeda. Di Sassanabamrung sendiri, disediakan sekitar lebih dari 20 sepeda sebagai door prize. Di sekolah lain ada juga yang mengadakan acara tukar kado antar guru, antar siswa. Intinya semuanya berpesta. Di Sassanabamrung, selain hadiah doorprize, ada juga penampilan dari murid anuban, praktum dan juga mothyum. Ada yang menampilkan drama berjudul English through ASEAN Community. Disana murid-murid membawa bendera ASEAN dan 10 bendera negara anggota ASEAN, termasuk di dalamnya Indonesia. Saya sangat senang dengan hal itu. Saya rekam show drama mereka yang diiringi musik. Rasa-rasanya di Thailand ini hawa ASEAN Community lebih terasa meski bisa dibilang sebatas simbol bendera, daripada bila kita bandingkan dengan tanah air Indonesia. Di Thailand bendera, bangunan sekolah, dinding sekolah, buku tulis dll banyak bertuliskan ASEAN atau bendera 10 negara anggota ASEAN. Seharusnya Indonesia sudah waktunya menyiapkan sumber daya untuk menyambut ASEAN Community ini, misalnya mengenal raja atau presiden di 10 negara anggota ASEAN, lagu kebangsaan, khas mereka, dsb sehingga mampu bersaing dengan sehat dengan 9 negara anggota ASEAN yang lain.
Jum’at, 8 Januari 2016
       Hari ini, saya dan Agung tidak mengajar di Sassanabamrung karena sekolah libur selama 10 hari. Guru-guru pergi berwisata ke Thailand Utara, Ciang Mai, Chiang Rai, dsb. Kami tinggal di rumah ustad Syukur selama 10 hari ke depan. Pagi ini, saya ikut membantu mengajar di Chariyathamsuksa Foundation School, sekolah dimana ustad Shukur mengajar. Kami ikut membantu mengajar siswa kelas Phraktum disana bersama Titin dan Kiky dari jurusan ICP PAI UIN Malang. Cukup seru mengajar di Phraktum. Ya, hitung-hitung ingat masa-masa SD dahulu. Wajah mereka yang lugu nan lucu benar-benar menarik hati kami untuk bersemangat mengajar di sekolah ini, meski mungkin hanya satu minggu kami mengajar di sekolah ini. Kami ajarkan lagu-lagu berbahasa Arab seperti lau anta sa’idun, hunaa nafroh sampai ahlan wa sahlan tahiyyatan min thullabil ‘arobiyah yang kami gubah menjadi ahlan wa sahlan tahiyyatan min thullabi chariyatam. Pelajaran hari ini adalah bahwa mengajar siswa SD di Thailand butuh perjuangan ekstra untuk memahamkan bahasa Arab kepada mereka. Untung saja mereka kelas internasional yang sedikit banyak sudah paham bahasa Arab dan Inggris, hal itu menjadi satu keuntungan tersendiri bagi kami yang baru mengajar pertama kali di negeri gajah putih.   
Sabtu, 9 Januari 2016
       Hari ini, pagi hari usai subuh, saya berwisata ke tempat peribadatan buddha di Kanjanawas Wat, sebuah wihara. Saya berfoto disana. Hari ini, saya hanya bersantai di rumah, brejejaring sosial di dunia maya. Saya upload foto-foto di Kanjanawas Wat tadi pagi. Malam harinya, saya dichat oleh Kak Robeeah Sakom, seorang ustadzah di Chariyathamsuksa. Beliau meminta saya untuk menghapus foto di depan Kanjanawas Wat tadi. Menurutnya, tak sepatutnya kita sebagai seorang muslim berfoto di depan tempat peribadatan agama lain. Saya awalnya tak terlalu meggubris hal itu, tetapi beliau terus mendesak saya untuk menghapus foto-foto itu.
Ahad, 10 Januari 2015
       Pagi hari, ketika izin ke ustad Shukur hendak pergi ke Shamila Beach, beliau berpesan untuk menghapus foto di depan Kanjanawas Wat kemarin. Pengalaman hari ini ke Shamila Beach Songkhla. Di Thailand pantai ada dekat jalan raya. Tak perlu melewati jalanan berkelok menuju hutan rimba dan perkamungan. Selain itu, pantai di Thailand ini gratis. Maksudnya tidak ada pungutan atau ongkos untuk masuk ke wilayah pantai. Berbeda sekali dengan Indonesia yang setiap masuk wisata termasuk pantai harus membayar beberapa ribu rupiah. Shamila Beach bersih. Bila hari libur cukup ramai pengunjung baik domestik maupun mancanegara. Di sekitar pantai banyak orang berjualan cinderamata khas Thailand, mulai dari gantungan kunci, magnet kulkas, dompet, tas, dsb. Harganya ada yang 10, 20 bahkan sampai 250 baht. Tapi itu sudah cukup murah bila melihat kualitas cinderamata yang dijajakan. Mereka menggelar dagangannya dengan rapi meski bersebelahan dengan penjual yang menjual barang yang sama. Hal ini bisa menjadi refkeksi bagi pariwisata Indonesia untuk menjadikan wisata itu lebih bersih, ramah lingkungan, sehingga orang tidak segan berkunjung atau berwisata. Selain itu, saya tahu bahwa muslim Thailand cukup keras dalam hal-hal yang bersinggungan dengan agama lain, misalnya saja kita tidak boleh berfoto di depan tempat peribdatan agama lain, karena menurut mereka hal itu merupakan asas dan hal utama yang menyangkut aqidah. Padahal bila dibandingkan Indonesia yang demokrasi, Indonesia tampak lebih luwes dalam hal ini. Tetapi, saya juga tidak tahu mengapa, padahal di Thailand ini negara liberal yang orang itu bebas mau memeluk agama apa, malah beberapa orang berkeyakinan keras seperti itu. Seharusnya mereka dapat lebih bersikap tengah-tengah daripada bersikap keras seperti itu.
Senin, 11 Januari 2016
       Subuh menjelang, hari ini kembali mengajar Mahdi bahasa Arab. Usai mengajar bahasa Arab, saya bersiap berangkat ke Chariyathamsuksa Foundation School. Hari ini tidak ada jadwal mengajar karena memang sehari ini dikhususkan untuk perayaan hari anak nasional seperti yang dilakukan di Sassanabamrung kamis minggu lalu juga di sekolah lainnya. Di tingkat anuban dan phratum acara tukar hadiah dan juga doorprize sepeda berjalan cukup seru. Mereka tetap tertib mengantre ketika menerima hadiah, meski tentu disana-sini mereka asyik dengan dunia sendiri, tak terlalu memperhatikan guru yang memandu jalannya acara. Mungkin bisa jadi mereka merasa bosan dengan acara yang monoton. Di tingkat mothyum, terasa lebih seru. Mereka menampilkan kebolehan mereka dari beberapa kelas. Ada yang drama musikal berbahasa Thailand, menyanyi lagu melayu, dsb. Mereka juga tampaknya melakukan tukar hadiah dengan hadiah utama sepeda. Satu hal yang seru lagi adalah adanya turnamen sepakbola di lapangan depan sekolah tingkat Mothyum. Pertandingan sepakbola ini antara tim guru dan tim siswa. Mereka beradu kebolehan memainkan si kulit bundar di atas lapangan hijau. Terbukti tim siswa mencetak banyak gol, sedangkan tim guru hanya mencetak 1 gol balasan. Hal ini tampak sangat mengakrabkan antara guru dengan guru, guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa. Dengan event-event menyenangkan seperti ini tentu rasa memiliki dan kekeluargaan di Chariyatham diharapkan terbentuk. Menurut saya, selain lomba-lomba seperti itu, alangkah lebih baik ada kompetisi-kompetisi antar kelas yang berbau keagamaan. Misalnya lomba adzan, lomba khutbah, dll mengingat sekolah ini adalah sekolah Islam yang di dalamnya semua beragama Islam, maka saya kira tak ada salahnya bila diadakan lomba-lomba bernuansa keislaman untuk menggali bakat murid di berbagai tingkatan.
Selasa, 12 Januari 2016
       Selasa kali ini Chariyathamsuksa Foundation School kembali beraktivitas seperti biasa. Pembelajaran kembali berjalan sebagaimana mestinya. Saya pun ikut membantu mengajar bahasa Arab. Pagi hari, murid Mothyum akan melaksanakan upacara bendera dan doa belajar bersama pukul 07.30. Mereka kibarkan bendera sambil mendendangkan lagu kebangsaan Thailand. Kadang beberapa guru memberikan arahan sebelum masuk kelas. Lalu mereka masuk ke kelas masing-masing. Kloter kedua pada pukul 08.00 akan diadakan upacara bendera bagi tingkatan Phraktum dan Anuban. Mereka berbaris dengan rapi dengan didampingi oleh guru-guru mereka. Kembali mereka turunkan dan naikkan bendera Thailand sambil mendendangkan lagu kebangsaan Thailand bersama-sama. Disusul dengan doa bersama sebelum masuk kelas dan juga beberapa pengumuman penting dari guru. Satu lagi, mereka juga diberikan mufrodat dalam 4 bahasa setiap pagi. Mufrodat atau kosakat tersebut berbahasa Thailand, Arab, Inggris, dan Melayu. Saya kira ini pembiasaan yang baik yang bisa ditiru di sekolah-sekolah di Indonesia.
Rabu, 13 Januari 2016
       Rabu pagi usai subuh saya ikut mengaji bersama santri QLCC sampai pukul 6 pagi. Lalu saya bersiap untuk berangkat ke sekolah. Usai sarapan, dengan menumpang mobil sekolah, saya berangkat ke Chariyathamsuksa bersama murid Anuban dan Phratum. Hari ini kami mengajar di kelas yang mudah diatur dan kelas yang muridnya super atau hiperaktif. Kami berempat harus berusaha keras untuk memahamkan mereka semua. Kembali kami ajak mereka menyanyikan lagu lau anta sa’iidun dan ahlan wa sahlan serta sholatullah salaamullah untuk mengambil hati mereka suka dengan bahasa Arab. Kami juga harus menggunakan bahasa Thailand beberapa kali untuk memudahkan mereka memahami pelajaran bahasa Arab. Di kelas terakhir kami ajak mereka untuk game melanjutkan kosakata. Mereka tampak bersemangat meski itu bahasa Inggris. Saya dan teman-teman tampak senang dengan hal itu. Pelajaran hari ini adalah perbanyak kosakata bahasa Thailand untuk komunikasi dengan siapa pun. Terutama kosakata untuk mengajar di dalam kelas, karena kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, atau terlalu idealis dengan apa yang kita pahami. Kita harus benar-benar terjun dan merasakan serta masuk ke dalam dunia mereka agar mereka mau memahami apa yang kita ajarkan kepada mereka.
Kamis, 14 Januari 2016
       Hari ini menjadi hari terakhir saya mengajar di Chariyathamsuksa Foundation School karena esok kami akan kembali ke Sassanabamrung. Pagi hari tatkala upacara, saya dan Agung diminta memberikan sambutan perpisahan sekaligus pesan kesan kepada para murid dan guru. Agung menyampaikannya dalam bahasa Arab dan saya menyampaikannya dalam bahasa Inggris. Sungguh, kami sudah benar-benar nyaman di sekolah ini, tapi apalah daya memang masanya yang sudah habis. Moga lain waktu masih ada kesempatan untuk berkunjung di sekolah ini. Di hari terakhir mengajar di sekolah ini, saya membantu mengajar hanya di 2 kelas phraktum. Di sesi terakhir pun saya bersama teman-teman hanya mengobservasi cara mengajar ustad Bahrun, guru pamong bahasa Arab di Chariyathamsuksa. Terlepas dari itu semua kami senang bisa membantu mengajar disini sekaligus sedih karena harus segera mengajar di tempat saya yang sesungguhnya, Sassanabamrung. Pelajaran hari ini adalah kutahu bahwa Chriyathamsuksa Foundation School punya pembiasaan yang bagus bagi murid-muridnya. Pertama mereka membiasakan murid-muridnya untuk upacara pagi, doa belajar bersama, menghafal mufrodat dalam 4 bahasa, merapikan sepatu di depan kelas, antre makan siang, sholat berjamaah duhur. Semoga pembiasaan-pembiasaan ini bisa diterapkan di seklah-sekolah Islam di Indonesia agar karakter anak bangsa bisa tumbuh menjadi paripurna.
Jum’at, 15 Januari 2016
       Karena sudah terlanjur mengisi sambutan perpisahan, maka hari ini saya dan Agung hanya stay di rumah ustad Shukur. Para santri sudah berangkat ke sekolah semua. Menjelang siang, kami sholat jum’at di masjid sekolah depan rumah ustad Shukur. Saya kira saya sudah terlambat, tetapi pukul 12.45 saya berangkat, khatib baru naik mimbar untuk mulai khutbah. Tampaknya baru saja selesai adzan dzuhur berkumandang. Saya hanya duduk termangu karena tak paham khutbah yang disampaikan dalam bahasa Thailand. Sekali saya dengar kata Indonesia, meski tak paham, itu berarti bangsa Indonesia atau menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Ketika sholat jumah didirikan, saya dengarkan imam membaca bacaan salah satu surat yang mengingatkan saya pada ayah tercinta. Rencananya sore ini saya dan Agung akan ke Sassanabamrung karena kata Kak Wella dan Kak Hielda, kami diajak bersilaturahim ke kediaman murid pada hari Sabtu esok. Setelah bersiap-siap ternyata kami tidak jadi dijemput ke Sassanabamrung. Sehingga, saya dan Agung pada malam harinya memutuskan untuk tidur di tempat Hadi dan Alvin di Tasdikiah.
       Pelajaran hari ini adalah tidak semua yang direncanakan akan berjalan sesuai rencana. Kita harus memiliki rencana B, C bahkan kalau perlu sampai Z agar waktu kita tidak terbuang sia-sia karena satu agenda yang kita rencanakan ternyata tidak terlaksana.  
Sabtu, 16 Januari 2016
       Hari ini, saya bersama Agung, Alvin, dan Hadi bersama baboh Tasdikiah mendatangi masjid jami’ Songkhla karena baboh Tasdikiah ada meeting dengan jajaran majlis ulama Thailand. Bisa dibilang serupa dengan Masjlis Ulama Indonesia. Disana kami tahu ada lomba pidato tingkat anak-anak. Sesekali saya dengar nama Chariyathamsuksa disebut. Sepertinya, murid-murid Chariyatham banyak yang didelegasikan untuk mengikuti lomba ini. Perjalanan berlanjut ke sebuah resort dekat pantai di Songkhla untuk mengikuti acara Teachers Day. Perwakilan sekolah swasta Islam semua datang. Alhamdulillah, kami bisa bertemu kawan-kawan dari UIN Malang, UIKA Bogor, UMT, dll. Saya juga sempat bertemu guru Chariyatham yang berkesempatan datang saat itu. Sekilas yang saya tahu ada seorang presentator tentang teknologi pertanian modern yang menjelaskan teknologi terbaru di bidang pertanian. Ada juga seorang motivator yang diundang. Sore menjelang maghrib acara jamuan besar digelar di teras resor. Kami menikmati makan sore bersama teman-teman kami sambil memandang pantai yang ombaknya terus menderu. Usai sholat maghrib, makanan sudah tersedia lagi di meja masing-masing sekolah. Meja bundar besar dipenuhi makanan yang sekiranya dapat dimakan oleh lebih dari 10 orang. Kursi sekitar meja bundar itu berjumlah 10 irang. Saya dan Agung bertanya kepada panitia yang berbaju batik hijau dimana tempat sekolah Sassanabamrung. Kami mendapat tempat di belakang, di dekat pintu masuk dan keluar ruangan. Karena tak ada orang disana. Saya, Agung, Alvin, dan Hadi menempatinya. Setelah makan malam, kami menikmati sajian nasyid teman sjati oleh baboh (ustad/kyai) Tasdikiah. Kemudian, ada pula Fuzna dari UIKA Bogor bersama temannya yang tampil membawakan lagu Ayat-Ayat Cinta dengan sangat merdu.
       Pelajaran hari ini bahwa orang Thailand bila sudah berpesta makannya cukup banyak, melebihi makan-makan di luar acara resmi. Lalu, selalu ada yang namanya undian di setiap acara perayaan atau pesta. Yang pada malam hari Teacher’s day ini hadiah utama berupa kulkas dan sepeda. Secara keseluruhan, orang Thailand ini tergolong orang dengan tingkat ekonomi mengengah ke atas. Mereka suka berpesta di banyak tempat, makan sepuasnya. Tetapi, tak baiknya mereka kadang suka lupa karena dibawa acara hura-hura di dalam pesta. Saran saya, sebaiknya di event sebesar Teachers Day dan yang berkumpul adalah sekolah-sekolah Islam alangkah lebih baik bila ditampilkan penampilan dari guru-guru dan itu dilombakan. Saya kira hal itu terasa lebih kompetitif dan menggugah semangat guru-guru dalam berkompetisi dengan guru yang lain.
Ahad, 17 Januari 2016
       Minggu kedua ini kami kembali berwisata ke Shamila Beach seperti minggu lalu tetapi dengan kawan putra. Kami berangkat dari Halte Chana dengan naik tuktuk pukul 9. Pukul 10 pagi kita sampai di lokasi. Sebeum menuju pantai, kita lihat souvenir di toko-toko sekitar pantai. Mereka menjual baju, celana, sandal, sepatu, dll. Sampai di pantai kami berfoto ria. Puas berfoto dan bercengkrama, kami makan di penjual makanan sekitar pantai. Setelah itu, saya lihat ada jasa persewaan naik kuda dengan ongkos 50-100 baht. Masih banyak lahan kosong di sekitar pantai yang asri sehingga saya dan teman-teman dapat dengan mudah beristirahat di bawah rindangnya pohon tepi pantai. Di Shamila Beach ada patung putri duyung yang mana orang-orang yang berkunjung pasti antre untuk berfoto di sebelahnya. Maka, lengkap sudah pengalaman kami hari ini.

Lokasi: Bojonegoro, Bojonegoro Sub-District, Bojonegoro Regency, East Java, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar