Sabtu, 23 April 2016

Menghadiri Pernikahan


      Menghadiri pernikahan bagi orang seumuran saya mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Padahal, masih sangat hangat kenangan dalam memori saya betapa dulu saya malas-malasan untuk mengikuti dan menganggap bahwa acara semacam itu hanya untuk orang dewasa saja. Mungkin waktu itu, yang membuat saya akhirnya mau ikut karena memang diajak orang tua dan juga urusan “perut”. Tetapi, seiring berjalannya waktu, pemikiran itu berubah sedikit demi sedikit. Memasuki usia berkepala dua membuat saya mau tak mau menghadiri berbagai resepsi pernikahan teman-teman seperjuangan saya, kakak kelas, teman ayah, teman ibu, bahkan sampai adik kelas saya sendiri. Ya, mungkin juga sudah masanya. Masa dimana menghadiri pernikahan menjadi sesuatu yang sangat lumrah bahkan sering terpikir untuk selalu mengajak teman wanita untuk menghadirinya. Entah, itu pemikiran darimana, tetapi seakan pikiran itu hadir begitu saja menyelinap ke dalam otak tanpa bisa dikendalikan, padahal belum tentu juga teman cewek yang saya ajak mau untuk menghadiri pernikahan. ‘alaa kulli haal, menghadiri pernikahan sesuai hadits Nabi merupakan suatu kewajiban bagi kita dalam konteks menjawab undangan yang ditujukan kepada kita. Terlepas dari itu, momen pernikahan menjadi ajang untuk bertemu kawan lama. Maklumlah, mahasiswa semester akhir mungkin hanya sesekali bertemu di kampus untuk urusan seminar proposal, ujian kompre, dan ujian skripsi. Mungkin di luar itu sudah sangat jarang sekali. Karena memang sudah sibuk sendiri-sendiri. Ada yang lagi ayik-asyiknya dengan bisnis yang dibagunnya, ada yang terus bersemangat menyelesaikan tanggungan skripsinya, termasuk saya. Ada pula yang keasyikan nge-trip kesana kemari, ada pula yang kerjaannya jalan-jalan melulu setiap hari. Ya memang sekali lagi sudah masuk masanya yang seperti ini. Masa yang menyenangkan dan menyulitkan. Menyenangkan karena memang kita dalam hal studi akan segera usai, tetapi juga menjadi momen menyedihkan tatkala sebentar lagi kita akan berpisah dengan teman-teman seperjuangan di bangku perkuliahan yang menemani kita selama 4 tahun ini. Akhirnya, selamat garap skripsi. Ingat, jadilah kebanggaan orang tua dengan menghadiahkan gelar sarjana dan tentu saja nantinya harus dilengkapi dengan menghadiahkan suami atau istri sebagai hadiah terindah bagi keduanya. Selamat malam, selamat melanjutkan mimpi yang tertunda. 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. :)

Podcast Sang Pembelajar