HIJRAH MENUJU KEBAIKAN (REFLEKSI TAHUN BARU HIJRIYAH 1438 H)


Berikut adalah materi yang saya sampaikan pada siaran "Mutiara Hati" di Simfoni FM beberapa waktu yang lalu. 
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
الحمد لله رب العالمين. هُوَ الذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَاْلقَمَرَ نُوْرًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ. نصلى ونسلم على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم. منشر دعوة الإسلام والإيمان في العالم.
Alhamdulillah wa syukru lillah, kita masih diizinkan Allah untuk senantiasa menambah ilmu melalui kajian mutiara hati yang mengudara di 107,7 Simfoni FM.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda nabi Muhammad SAW. Penyebar dakwah Islam di seluruh jagad.
Di awal saya sebutkan firman Allah SWT surat yunus ayat 5
 هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (5)
Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
[669]. Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.
Allah SWT telah menentukan jumlah bulan dengan perhitungan yang sempurna. Beberapa hari lagi, tepat pada 2 Oktober 2016 kita akan memasuki tahun baru hijriyah. 1 Muharram 1438 H. Sudah dekat ya ternyata. Banyak muslim yang mungkin tidak ingat. Coba saja kita bandingkan antara kemeriahan menyambut tahun baru hijriyah dengan tahun baru masehi. Betapa ramainya perayaan tahun baru masehi tiap tahunnya. Semua bahagia, bahkan larut di dalamnya. Sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya salah, tetapi marilah kita juga tidak melupakan dan meramaikan tahun baru kita, tahun baru Islam.
      Tahun Baru Islam misalnya, kebanyakan masyarakat Indonesia (mungkin) lupa dengan momen bersejarah ini, (mungkin) lupa dengan tahun baru dari agamanya sendiri, dan (mungkin juga) hilang ingatan dan pura-pura tidak tahu dan mau tahu dengan tahun baru Islam.
      Sangat disayangkan, ketika tahun baru masehi lebih di ingat dan di kenang ketimbang tahun baru Islam. Dan sangat disesalkan, apabila tahun baru masehi itu lebih di persiapkan dengan matang dengan penyambutannya yang kadang melampaui batas -menghambur hamburkan uang- sedangkan tahun baru Islam? Hanya di jadikan momentum semalam dan berkata “selamat tahun baru Islam, yuk kita istirahat, besok ada tugas yang lebih penting lagi dari pada sekadar merayakannya” atau “eh besok libur karena tahun baru Islam ya? Ya udah yang penting liburnya, yuk besok jalan…”
      Sangat tidak menghormati, sangat tidak disambut dengan baik, minimal kita ingat dan berdoa pada momentum ini. Agar momentum ini tidak hanya menjadi moment yang ‘hanya lewat’ dalam setiap tahunnya.
      Padahal di tahun baru Islam ini (kita menyebutnya tahun Hijriah) ada peristiwa hebat yang sangat menyejarah. Sebuah peristiwa perintah dari Allah melalui seruan Rasul-Nya kepada seluruh umat muslim untuk berhijrah (berpindah tempat) dikarenakan Mekkah sudah tidak aman. Dan makna yang terkandung di dalam kisah ini adalah keharusan kita untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lain bilamana tempat tersebut sudah tidak kondusif. Hijrah dari yang buruk-buruk ke yang baik-baik, hijrah dari tidak pernah shalat berjamaah kepada shalat berjamaah, hijrah dari tidur setelah subuh menjadi baca Al Quran setelah subuh dan hijrah yang lain-lainnya. Intinya Hijrah ke ARAH yang LEBIH BAIK. Ah, mungkin teman-teman lebih tahu seperti apa contoh lainnya…
Tahun baru Islam sungguh menjadi sarana bermuhasabah diri. Bagaimana kita selama setahun ke belakang. Apakah kita lebih banyak menghabiskan satu tahun ke belakang dalam kesia-siaan, atau alhamdulillah kalau kita sudah mampu mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun sesama.
      Memang, Tahun Baru Hijrah tidak perlu disambut dengan kemeriahan pesta. Namun demikian, sangat penting jika Tahun Baru Hijrah dijadikan sebagai momentum untuk merenungkan kembali kondisi masyarakat kita saat ini. Tidak lain karena peristiwa Hijrah Nabi saw. sebetulnya lebih menggambarkan momentum perubahan masyarakat ketimbang perubahan secara individual. Peristiwa Hijrah Nabi saw. tidak lain merupakan peristiwa yang menandai perubahan masyarakat Jahiliah saat itu menjadi masyarakat Islam. Inilah sebetulnya makna terpenting dari Peristiwa Hijrah Nabi saw.
Makna Hijrah
      Secara bahasa, hijrah berarti berpindah tempat. Adapun secara syar‘i, para fukaha mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam. (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Tetapi, kali ini kita akan memperluas pengertian hijrah bahwa hijrah itu adalah berpindah dari satu keadaan menuju kedaan yang lain. Tidak lain dan tidak bukan adalah dari kejelekan menuju ke arah kebaikan.

إن الله لايغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka merubah diri mereka sendiri (Ar-Ra’du: 11).
Umat Islam hendaknya menyambut hari esok dengan hari yang lebih baik daripada kemarin sebagaiman hadits Rasulullah:
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ
Siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka dialah orang beruntung. Siapa yang hari ini sam dengan hari kemarin, maka dialah orang tertipu. Siapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka dialah orang yang terlaknat”.
      Perubahan itu mesti dan niscaya. Sesuatu yang stagnan lebih cenderung hilang ditelan jaman. Sementara yang lain melakukan inovasi pada bisnisnya, ia malah diam di tempat tidak melakukan lompatan apapun, maka bisnisnya bisa dipastikan akan berhenti.
      Seperti halnya air. Air yang tidak mengalir merupakan sarang nyaman bagi bakteri dan kuman-kuman jahat. Warnanya pun akan berubah menjadi hijau. Pertanda bakteri dan kuman sudah mendiami rumah barunya itu. Begitu pun dengan diri kita. Jika tidak mengalir melakukan perubahan, maka yang ada adalah diri kita dihinggapi “kuman” dan “bakteri” kesuksesan. Alhasil, sukses yang diharapkan hanya sebuah harapan yang disangsikan perwujudannya.
Objek Perubahan
Lalu, apa yang harus dirubah? Banyak. Kita bahas tiga saja.

Pertama, wawasan dan ilmu. Sudah menjadi tradisi bahwa salah satu penyokong kesuksesan adalah berwawasan dan berilmu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Berbisnis dengan ilmu itu lebih mengutungkan ketimbang berbisnis apa adanya kita. Membangun rumah dengan ilmu hasilnya lebih indah dan lebih efektif pula budget-nya. Apappun, dengan ilmu akan mudah diraih. Ini pasti!
Kedua, sikap. Merubah malas menjadi semangat, sangat penting. Merubah bodoh menjadi pintar dan cerdas, sangat penitng. Merubah pelit menjadi dermawan, sangat mesti. Jika kamu selalu bangun kesiangan, mulai saat ini bangun harus di awal waktu. Jika kamu saat ini ketergantungan kepada orang tua, menjadi mandiri dan berdikari adalah sikap hebat. Intinya, lakukan perubahan dalam sikap dan perilaku. Sikap dan perilaku yang baik selalu menghadirkan sesuatu yang baik.
Ketiga, ibadah. Yupz, tepat. Ibadah perlu perubahan. Seperti disurat dalam hadits Rasulullah di muka, ada tiga tipe orang dalam amliah hariannya. Yaitu (1) rabih, orang yang beruntung karena kualitas dan kuantitas amalnya lebih baik dari sebelumnya, (2) maghbun, orang yang tertipu karena kualitas dan kuantitas amlanya tidak lebih baik dari sebelumnya, stagnan; dan (3) mal’un, orang terlaknat karena amal-amalnya hari ini lebih buruk.
Jadi, kesimpulannya adalah orang yang mau merubah nasib seharusnya ia merubah keadaan diri saat ini yang mencakup tiga aspek tadi, yaitu ilmu, sikap dan ibadah. Sejatinya, perubahan yang sudah dilakukan akan mengantarkan pelakunya ke lembah kesuksesan dan kebahagiaan.
Mensyukuri Nikmat Allah
      Salah satu nikmat yang wajib disyukuri adalah nikmat umur. Sebab dengan umur ini kita dapat merasakan hidup dan segala pemberian Allah SWT. Nikmat ini Allah anugerahkan kepada kita supaya kita mengabdi kepada Allah dalam artian beribadah sesuai tuntunan syariat Islam sebagaimana firman Allah
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون (الذاريات: 51)
Tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali beribadah kepadaku. (Adz-Dzaariyat: 51).
Apalagi dengan hadirnya teknologi yang seharusnya semakin memudahkan kita dalam mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai kehadiran berbagai macam perkembangan pengetahuan dan teknologi menyebabkan kita semakin jauh dari hidayah Allah.
Memanfaatkan waktu dan umur
      Umur dan waktu yang telah diberikan oleh Allah kepada kita sebagai hambaNya sungguh harus gunakan untuk beramal sholeh karena itu adalah sebaik-baik manusia bila dibandingkan yang panjang umurnya namun jelek amal perbuatannya. Hadits Rasul
عن أبي صفوان عبد الله بن بشر الأسلمي ـ رضي الله عنه ـ قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( خير الناس من طال عمره وحسن عمله وشر الناس من طال عمره وسِيْءَ عمله) رواه الترمذي(79) . وقال : حديث حسن .
Kita tidak tahu kapan ajal menjemput karena bila ajal telah datang, ia tidak dapat diajukan maupun diundurkan barang sedetik pun. Maka dari itu, mari kita senantiasa introspeksi diri tentang apa saja yang sudah kita lakukan selama ini, apakah sudah memenuhi kriteria hambaNya yang bertaqwa? Apa juga yang telah kita siapkan untuk menghadapi hari kematian dan sesudahnya? Maka, mari kita memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa yang telah kita perbuat.
Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Iman
      Menuju awal Muharrom hendaknya kita memperbaharui iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, sehingga pada hari selanjutnya kita akan senantiasa mempertebal iman kita dan meningkatkan amal sholeh. Salah satu caranya adalah dengan merenungkan dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita.
Setiap yang terjadi tentu mengandung hikmah, entah itu suatu kebahagiaan atau pun sebuah kesedihan. Kita harus senantiasa berkhusnudzon atau berprasangka baik kepada Allah, jangan sampai kita berkhusnudzon kepadaNya.
Peristiwa Hijrah, paling tidak, memberikan makna sebagai berikut:
Pertama: pemisah antara kebenaran dan kebatilan; antara Islam dan kekufuran; serta antara Darul Islam dan darul kufur. Paling tidak, demikianlah menurut Umar bin al-Khaththab ra. ketika beliau menyatakan: Hijrah itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. (HR Ibn Hajar).
Kedua: tonggak berdirinya Daulah Islamiyah (Negara Islam) untuk pertama kalinya. Dalam hal ini, para ulama dan sejarahwan Islam telah sepakat bahwa Madinah setelah Hijrah Nabi saw. telah berubah dari sekadar sebuah kota menjadi sebuah negara Islam; bahkan dengan struktur yang—menurut cendekiawan Barat, Robert N. Bellah—terlalu modern untuk ukuran zamannya. Saat itu, Muhammad Rasulullah saw. sendiri yang menjabat sebagai kepala negaranya.
Ketiga: awal kebangkitan Islam dan kaum Muslim yang pertama kalinya, setelah selama 13 tahun sejak kelahirannya, Islam dan kaum Muslim terus dikucilkan dan ditindas secara zalim oleh orang-orang kafir Makkah. Demikianlah sebagaimana pernah diisyarakatkan oleh Aisyah ra.:
“Dulu ada orang Mukmin yang lari membawa agamanya kepada Allah dan Rasul-Nya karena takut difitnah. Adapun sekarang (setelah Hijrah, red.) Allah SWT benar-benar telah memenangkan Islam, dan seorang Mukmin dapat beribadah kepada Allah SWT sesuka dia.” (HR al-Bukhari).
Setelah Hijrahlah ketertindasan dan kemalangan umat Islam berakhir. Setelah Hijrah pula Islam bangkit dan berkembang pesat hingga menyebar ke seluruh Jazirah Arab serta mampu menembus berbagai pelosok dunia. Setelah Rasulullah saw. wafat, yakni pada masa Khulafaur Rasyidin, kekuasan Islam semakin merambah ke luar Jazirah Arab.
KESIMPULAN

Pada akhirnya semoga menuju tahun baru hijriyah 1438 H kita senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT dalam artian menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Momen pergantian tahun harus menjadi sarana perubahan menuju arah yang lebih baik. Yang lebih penting setiap saat, setiap hari kita harus senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik dari berbagai sisi agar pada akhirnya kita meninggal dalam keadaan husnul khotimah.    

Komentar