BEGINI YA RASANYA KULIAH SAMBIL BEKERJA


     Dulu semasa kuliah S1 saya membayangkan bagaimana ya rasanya kuliah sambil bekerja. Nah, saat ini saya sendiri merasakan bagaimana sensasinya. Selepas wisuda sarjana, saya memutuskan untuk langsung lanjut studi magister di magister pendidikan bahasa Arab di kampus yang sama dengan kampus S1 saya. Setelah masuk magister, ternyata memang perkuliahannya tidak sepadat kuliah masa sarjana, tetapi yang saya rasakan adalah beban tugas yang semakin banyak dari hari ke hari. Entah karena memang tugas itu adalah tuntutan 3 sks atau memang karena sudah banyak pikiran dalam otak sehingga semakin mempersempit porsi pengerjaan tugas. 
      Setelah masuk masa perkuliahan magister, saya mendapat panggilan dari ketua Ma'had Al-Qalam MAN 3 Malang untuk membantu mengajar disana. Sebagai alumni yang pernah dibesarkan disana, tentu saya tidak mampu menolaknya. Maka, dengan tekad dan niat yang kuat saya mengiyakan untuk membantu mengajar di almamater saya sendiri 4 tahun yang lalu. Mengajar di almamater sendiri sesungguhnya menjadi kesempatan emas dan kebanggan tersendiri. Saya teringat banyak kawan lulusan sesama sarjana yang masih pontang-panting kesana kemari mencari pekerjaan untuk penghidupan. Berarti memang Allah hanya memilih orang-orang tertentu untuk ditempatkan di tempat-tempat yang terpilih juga sesuai kadar kemampuannya masing-masing. Maka dari itu, saya pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang saya yakin tak akan datang untuk kedua kalinya. Awalnya saya harus pulang pergi (PP) Batu Malang setiap Ahad sampai Jum'at malam. Tiap sore saya berangkat dari Batu menuju Malang karena memang jadwal mengajar di ma'had adalah bakda maghrib. Malam hari saya menginap di ma'had, pagi hari usai subuh saya kembali mengajar ta'lim dan usai ta'lim biasanya saya sarapan lalu kembali ke kontrakan di Batu. Keseharian itu berbarengan dengan perkuliahan yang kala itu sangat padat di hari Senin mulai pukul 7 sampai maghrib menjelang sehingga sungguh tubuh ini cukup kelelahan untuk mengemban tugas kuliah dan juga tanggung jawab mengajar. Setelah berjalan 2 bulan dan sungguh menjadi dua bulan yang melelahkan, saya akhirnya diizinkan untuk tinggal di ma'had. Saya pun pindahan. Saya pindahkan semua barang saya dari Batu ke Malang selama 1 minggu. Sesungguhnya saya berat meninggalkan kontrakan saya di Batu karena saya sudah membayarnya penuh satu tahun, meski bayarannya tidak seberapa, tetapi biarlah, setidaknya kalau saya pas kuliah di kampus pasca dan mungkin kelelahan atau kehujanan saya bisa mampir sebentar untuk istirahat sejenak. 
      Memang, keasyikan mencari penghidupan sungguh menguras otak dan tenaga. Beberapa kali saya jatuh sakit tetapi untungnya masih bisa saya kendalikan dengan baik sehingga tanggung jawab mengajar dan kuliah masih bisa berjalan dengan wajar. Saya sebenarnya berkeinginan untuk melamar kerja menjadi muta'awin di PPBA UIN Maliki Malang, tetapi sepertinya tidak mungkin karena jadwalnya bertabrakan dengan mengajar ta'lim di ma'had terutama seusai maghrib. Akhirnya saya urungkan saja keinginan itu, mungkin tahun depan atau 2 tahun lagi selepas wisuda magister saya akan melamar ke tempat tersebut. 
      Pada intinya, ketika tanggungan kuliah dan kerja sama-sama ingin mendapatkan porsi yang seimbang, maka kita sebagai pelakunya juga mau tidak mau memberikan porsi seimbang dan jangan lupa jaga kesehatan. Karena kalau sudah sakit, keduanya tentu tidak tertunaikan dan banyak kalangan yang dirugikan. Tidak hanya kita, tetapi juga lembaga, murid, dsb. Kemudian, pintar-pintar juga membagi waktu untuk mengerjakan kedua tanggung jawab itu secara proporsionalitas. Jangan terlalu memaksakan kehendak bila memang kita sudah tidak sanggup mengerjakan suatu tanggungan pekerjaan. Selanjutnya keep produktif. Jujur saja, setelah masuk rutinitas kerja dan kuliah magister yang bagi saya cukup membosankan karena lebih banyak berbau formalitas dan rutinitas, sesekali butuh adanya refreshing atau penyegaran otak juga berbagai aktivitas positif. Maklumlah, dulu kan sering disibukkan dengan aktivitas organisasi, kuliah dsb yang sangat menguras waktu tenaga, dan juga uang kadang-kadang. Maka sesungguhnya kalau kita sudah terbiasa sibuk, maka sekali waktu kita menganggur maka kita akan senantiasa mencari sesuatu yang dapat dikerjakan, tentunya yang dikerjakan yang positif ya. Karena ada sebuah kalimat bijak yang berbunyi kalau kau tidak sibukkan dirimu dengan kebaikan, maka kejahatan akan menggerogoti keseharianmu. Maka dari itu isilah keseharian dan waktu-waktu kosong denga hal-hal positif, misalnya memnaca buku, stalking akun-akun positif, penggugah semangat, memutar musik penyejuk kalbu, pengingat Allah, baca qur'an, diskusi kemasyarakatan dsb. Karena sungguh banyak orang yang sudah keasyikan bekerja, kadang kelewatan sampai terlalu gandrung dan akhirnya stres tak berkesudahan kalau misalkan pekerjaannya tidak selesai tepat waktu. Maka, seimbangkan sisi duniawi dan ukhrowi. Cari uang jalan, ibadah kepada Allah yang sudah menetapkan rezeki kita masing-masing tentunya lebih wajib di atas segalanya karena tugas utama penciptaan kita di muka bumi adalah beribadah kepadaNya. 

Semoga senantiasa menginspirasi. 

Komentar