Jurusan Sosial VS Jurusan Sains

      Memasuki dunia perkuliahan memang memasuki dunia yang tak lagi melulu menunggu ilmu dari seorang pengajar. Di tingkatan ini, seseorang yang belajar disebut dengan mahasiswa. Tambahan "maha" pada siswa saya kira sudah menjelaskan semuanya. Seorang mahasiswa dapat dengan leluasa mengakses berbagai ilmu pengetahuan yang sejalan dengan jurusannya atau bahkan di luar jurusan yang ia pilih. 
      Tahun ini, adik saya yang paling cantik, 'Iffah Khosyyatillah telah memasuki jenjang baru. Ia menjadi mahasiswa di Universitas Airlangga dengan jurusan Pendidikan Apoteker. Beberapa waktu saya berkirim pesan dan menelepon adik saya untuk menanyakan kabar diri dan juga kabar perkuliahannya. Seringkali adik saya mengeluh karena banyaknya tugas kuliah di jurusannya. Saya sendiri pun menyadari akan hal itu. Kalau coba saya bandingkan antara jurusan sains yang ada di UIN Malang (kampus saya) dengan jurusan sains di kampus sekelas UNAIR tentunya jauh berbeda. Di UIN Malang mahasiswa maksimal kuliah reguler dalam sehari sampai pukul 14.00. Sedangkan di UNAIR, mahasiswa bisa kuliah sampai petang (menjelang maghrib) dan tentunya hal ini juga dirasakan oleh adik saya. Akhirnya saya hanya bisa memotivasi adik saya untuk tetap semangat karena memang kuliah di jurusan sains dimana pun berada saya yakin tidak mudah. 
      Saya coba membandingkan jurusan sains dengan jurusan sosial. Jurusan sains disini misalnya jurusan kedokteran, farmasi, kimia, fisika, biologi, keperawatan, dsb yang intinya membutuhkan praktek laboratorium baik tiap minggu atau bahkan hampir setiap hari. Hal ini cukup berbeda dengan jurusan sosial yang terkesan normatif, mempelajari dan mendiskusikan berbagai teori dari pakar suatu keilmuan, sambil sesekali diselingi oleh observasi dan tak jarang juga dimanfaatkan sebagai ajang main atau pergi ke tempat wisata alias jalan-jalan. 
      Memang jurusan sains terkesan lebih susah. Jurusan ini dituntut untuk bisa menjaga konsistensi antara teori dan praktek yang terus dibenturkan dan dikorelasikan satu sama lain. Berbeda dengan jurusan sosial yang mohon maaf kadang terkesan utopis antara teori dan praktek di lapangan. Banyak hal berbeda di lapangan bila dibandingkan dengan apa yang didapat di ruang kuliah. Hal ini menurut saya wajar sebab di jurusan sains terkesan banyak dengan angka dan kuantitatif, alias bisa diangkakan dan dibuktikan melalui praktek laboratorium lalu ditulis laporan dengan sistem tertentu. Sesungguhnya perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan sudut pandang filsafat yang ada di setiap bangun keilmuan. Kelimuan sains hadir dari sudut pandang kualitatif yang menganggap segala sesuatu itu harus realistis, masuk akal, sesuai dengan kenyataan di lapangan. Berbeda dengan ilmu-ilmu sosial yang berangkat dari filsafat ilmu realita, artinya berangkat dari fenomena yang ada di lapangan lalu ditarik kesimpulan menjadi sebuah teori. Teori ini tentunya terus berubah sesuai dengan perbedaan fenomena yang ada di lapangan. Jurusan-jurusan sains terkesan membuktikan teori yang telah ada. Sedangkan jurusan-jurusan sosial mencoba mengungkap suatu fenomena secara mendalam dengan berbagai faktor-faktor yang melingkupinya. Mungkin hanya ini sedikit yang saya ketahui mengenai sains vs sosial. 

Semoga senantiasa menginspirasi

Komentar