(7) Kau Pun Berpindah Hati Padanya


      Aku tak pernah menyalahkanmu jika suatu saat kau tak lagi menghubungiku seperti biasanya. Aku akan sangat memaklumimu yang kurasa sudah bisa menentukan yang terbaik untuk masa depanmu. Mungkin kelihatannya sulit bagiku, tapi aku yakin aku akan terbiasa tanpamu. Bukankah sebelum sampai padamu aku seorang yang mandiri yang menghasilkan banyak kebermanfaatan. Aku yakin mungkin ini cara Tuhan yang terbaik agar aku bisa kembali bertemu lebih sering denganNya daripada denganmu. Satu momen dimana Tuhan ingin melihat hambaNya kembali menebar kebermanfaatan yang lebih luas daripada yang selama ini hanya kucurahkan kepadamu. 

      Awalnya, aku kaget, tetapi sungguh aku tahu kabar itu sudah lama terngiang di telinga melalui teman-temanku dan aku pun sudah memastikannya langsung kepadamu. Jadi, aku rasa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Pertengahan ramadhan lalu, aku bertanya padamu melalui sebuah pesan singkat dan kau berkata bahwa dirimu telah dilamar seorang pria baik yang entah aku tahu atau tidak. Awalnya memang terasa menyakitkan tapi kutahu kau sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depanmu. Aku akhirnya hanya bisa mendoakan yang terbaik bagimu. Bukankah begitu tuntunan utusan Tuhan yang mulia. Seburuk apa pun orang bertingkah kepadamu, kau harus tetap menyisakan ruang maaf agar kau masih bisa terus berkawan dengannya. 
      Sungguh, aku sangat ingin hadir di hari bahagiamu, dan aku yakin itu juga hari bahagiaku. Meski aku gagal bersanding denganmu, setidaknya aku tahu bahwa kau telah menemukan orang yang baik yang akan mendampingimu mengarungi beratnya biduk kehidupan sampai maut memisahkan. Tanpa dinyana pun kau mendoakan yang terbaik untukku. Atas semuanya, aku berucap terima kasih tak terhingga telah mengizinkan diriku hadir dalam beberapa masa mengisi keseharianmu. Meski kini kutahu kau akan semakin jarang berkomunikasi denganku tapi jangan sampai membuat jalinan ukhuwah kita menjadi semakin renggang dari waktu ke waktu. 

M. Amin | 23 Jan 2017

Komentar