(13) Lucunya Cinta Masa Kecil


            Kita pernah berada pada satu ruangan yang sama. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati siapa pula yang punya nama sepanjang gerbong kereta itu? Oh, rupanya ia adalah gadis cilik yang cantik parasnya. Kacamata yang dipakainya semakin menambah rona kecantikan pada wajahnya. Senyumnya yang begitu ramah pada setiap orang yang ditemuinya juga mampu meluluhlantakkan dinding hatiku. Lamat-lamat kuingat, hey, bukankah kau teman masa kecilku sewaktu masih di taman kanak-kanak dulu. Ah, dunia ini nyatanya begitu sempit dan hari ini kita bisa berjumpa kembali.

            Bila kuingat pada hari itu dimana aku bisa begitu mudah suka pada seorang gadis mungil itu, rasanya lucu sekali. Dengan menyukainya, semangat belajarku meluap-luap, tak mau barang sehari pun terlambat datang ke sekolah hanya demi dapat memandangmu masuk ke dalam kelas meski dari kejauhan. Rasanya aku mau waktu dapat melambat demi kita yang senantiasa merindukan perjumpaan meski hanya sesaat.
            Waktu itu, aku masih terkesan main-main dengan perasaan cinta. Belum hadir kedewasaan dalam menjalani komitmen-komitmen bersama. Aku dapat dengan mudah berpindah hati. Pagi ini suka kamu, malam nanti aku suka dia. Ah, lagi-lagi cinta masa kecil itu begitu lucu sehingga tak mudah untuk dilupakan begitu saja.
            Saking lucunya, cinta masa kecil itu lebih kepada banyak mimpi daripada kejadian nyata, cinta yang sebenarnya lebih banyak bahagianya daripada goresan luka dalam jiwa. Tidak seperti kisah-kisah romantisme remaja yang berujung sengsara karena harapan yang percuma. Aku benci rasa cinta yang penuh dengan kepura-puraan, keinginan rasa memiliki yang terkadang tak disertai dengan kesiapan untuk patah hati.
            Untuk kisah cinta masa kecil kita, biarlah ia jadi pelajaran berharga demi membangun cinta di masa-masa selanjutnya dan bahwa kita pernah menyemai rasa yang sama, meski entah sekarang kau sedang menikmatinya bersama orang yang benar-benar baru. Tetapi selalu ingat bahwa namamu selalu tersemat dalam permohonan terbaikku pada Tuhan agar hal-hal baik senantiasa menyertai langkah-langkah kita.


M. Amin | 24 Jan 2017

Komentar