(14) Temaram Lampu Jadi Saksi


            Masih hangat dalam memori bagaimana cinta begitu saja hadir. Malam itu kulayangkan pandangan ke sekitar sekadar mencari udara segar. Namun, tak dinyana mata ini tertuju pada sosok indahmu. Sosok yang akhirnya mampu kukenal sejauh ini, menyisakan rindu di malam-malamku.
            Lama aku mencoba mengobati luka masa lalu. Aku tahu itu tak mudah bagiku. Tetapi hanya dengan menatapmu malam itu, rasanya aku begitu yakin kau dihadirkan oleh Pencipta alam semesta untuk membantuku merajut kisah indah sekaligus penawar luka-luka masa lalu. Kau begitu baik pada orang baru. Aku pun yang biasanya begitu kaku dapat begitu mudah melancarkan kata-kata. Entah ini perasaan apa. Tapi kurasa ini yang dinamakan cinta.

            Seketika itu, kau selalu ada dalam rencana masa depanku. Berbagai hal tentangmu kutulis. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang hadir yang kurasa begitu berharga. Kupikir waktu itu aku begitu egois. Berharap kisah cinta yang begitu utopis dari wanita yang kuanggap bisa berbagi mimpi lalu menemaniku meneguk kopi sampai habis.
            Temaram lampu malam itu menemani pertemuan kita. Pertemuan pertama yang begitu sempurna. Malam puncak orientasi yang begitu berharga, setidaknya bagiku. Seakan temaram lampu itu menjadi saksi bisu perjumpaan sesaat kita. Karena kuanggap selama ini kaulah yang kucari dan berharap kau pun mengerti. Semoga kau tak hanya jadi harapan lalu berakhir menjadi kenangan. Tetapi kau adalah kawan yang pada akhirnya menemaniku melewati pahit manis kehidupan sampai ajal memisahkan.


M. Amin | 24 Jan 2017


Komentar