(15) Kita Pernah Saling Percaya


            Kau pernah bercerita padaku bahwa kau takut akan hal-hal tertentu. Aku pun berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa menguatkanmu, bagaimanapun keadaanmu. Kita juga pernah berbagi mimpi-mimpi masa depan kita. Masih ingatkah kau pada rencana menulis buku bersamaku. Saat itu kau terlihat begitu semangat sehingga membuatku semakin menggebu demi mewujudkan hal itu. Dari percakapan di telepon kala itu, aku bisa merasakan bahwa disana matamu bersinar-sinar dan hatimu bergejolak bahagia dibarengi senyuman indah di wajahmu itu.

            Aku pun pernah begitu besar menaruh percaya padamu. Saat masalah datang mendera, kau selalu menjadi pendengar yang baik. Aku tak pernah menjadikanmu kambing hitam dari semua hal yang menimpaku, sebaliknya aku banyak berterimakasih karena saat itu kau yang senantiasa hadir meringankan beban-beban yang menyesakkan dada. Aku pernah kau buat begitu nyaman sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa hubungan kita tidak lebih dari seorang teman.
            Waktu terus bergulir dengan cepat dan tak mau diputarbalikkan begitu saja. Masa terus menguji kesetiaan kita berdua. Kita pada akhirnya semakin jarang bertatap muka, bertukar gagasan dan ide cemerlang, bahkan pesan-pesan dariku tak pernah lagi kau menarik hatimu. Aku tidak banyak berharap padamu. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja meski jauh dariku atau mungkin ketika aku tak lagi mampu merengkuh dirimu. Kulangitkan doa-doa pada Sang Maha Baik. Senantiasa kusebut namamu di antaranya. Tidak saja kamu, tapi kita. Semoga pengharapanku sampai kapan pun tak pernah menjadi sia-sia karena Tuhan tahu siapa yang terus berusaha dan siapa pula yang mencoba mencederainya dengan luka.


M. Amin | 26 Jan 2017 bakda subuh

Komentar