(16) Deretan Buku Menjadi Saksi Bisu Pertemuan Kita


            Ada potongan-potongan masa lalu yang tak mudah lapuk dimakan waktu. Deretan buku di perpustakaan itu seolah menjadi saksi pertemuan kita kala itu. Ia memang tak tak mampu berbicara layaknya manusia, tapi diriku yakin ia merekam semuanya. Disana ada kita yang mencoba membangun cinta dan menyatukan dua hati yang berbeda. Memang kita tidak sama persis, tapi aku begitu yakin di masa depan kita akan bersama, setidaknya kalau kau punya kemauan yang serupa.

            Di antara lembaran buku itu kita pernah bersua. Kita bertukar cerita, menanggapi pendapat satu sama lain. Ah, betapa indahnya masa itu. Entah kau ingat atau tidak setidaknya aku bisa merekamnya dengan sangat baik dalam memori otakku. Aku selalu belajar dari setiap perjumpaan singkat kita. Aku tahu hal-hal unik tentangmu sedikit demi sedikit, aku tahu kesenanganmu, hobimu, keadaan keluargamu dan hal-hal lain yang berhubungan denganmu. Di atas meja perpustakaan itu sesekali aku mencuri pandang, menatap lamat-lamat indah wajahmu, seolah bidadari syurga sedang turun ke bumi lalau menjelma menjadi dirimu. Tak jarang kita tertawa bersama meski hanya sebab perihal yang sangat sederhana.
            Awalnya semua terasa sempurna sebelum akhirnya aku sadar bahwa harapanku sudah melampaui batas. Aku sadar mimpiku terlalu tinggi untuk mendapatkanmu. Kini, tiada lagi kupandang wajah indah itu. Aku hanya bisa memandangi fotomu sembari menanti senja yang sebentar lagi hendak pergi. Aku selalu berharap di seberang sana ada seseorang yang mengerti apa yang tersirat dalam hati.
            Percayalah dan terus saling mendoakan hal-hal baik. Setidaknya ini yang bisa kita lakukan meski raga tak lagi dapat berjumpa seperti biasanya, meski kata-kata tak lagi mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam dada. Akhirnya, tatkala diri melewati deretan buku rapi itu seakan mereka berkata padaku “hai, aku pernah melihat kalian bersua meski pada akhirnya semesta tak selalu memberkati semua impian hambaNya karena Tuhan tahu mana yang hambaNya butuhkan dan mana yang hanya angan-angan kosong yang bisa jadi membahayakan dirinya sendiri”.

M.Amin | 29 Jan 2017

Komentar