(17) Pesona Yang Tak Akan Pudar


            Kala itu masih pagi, kududuk dengan tenang menghadap laptop sambil mencari referensi tugas akhirku. Tiba-tiba saja kau hadir di hadapanku. Tuhan, betapa indahnya. Senyummu menentramkan jiwa, wajahmu senantiasa memancarkan semburat cahaya keimanan dalam dada. Sungguh, aku tak bisa berpaling darimu. Sambil kutulis cerita ini, kulirik dirimu di seberang bangku yang kelihatannya juga sedang asyik membolak-balik halaman buku atau sekadar mengetikkan
sesuatu di laptopmu. Sejauh ini, aku tak mampu bekata-kata. Aku hanya kagum dengan sikapmu selama ini. Lagi-lagi rasa itu hadir tanpa mengetuk hati pemiliknya. Ia bagai malaikat yang hendak mengambil nyawa tanpa permisi pada empunya jiwa.
            Kau sungguh mencuri perhatianku. Kuakui ayu wajahmu, juga kuakui akan kemuliaan akhlakmu. Kerudung panjang biru itu begitu lekat dalam ingatanku. Meski hanya beberapa saat, tetapi indahnya begitu hangat melekat. Maukah kau menoleh sejenak ke arahku, barangkali sekadar mengulum senyum indahmu yang tak lekang oleh waktu. Kenapa pula pesonamu tak pernah pudar nona. Aku yakin kau hiasi keseharianmu dengan sholat lima waktu dan wudhu-wudhu nafilahmu. Itu terpancar jelas meski tanpa kau jelaskan padaku. Kau tentu paham bahwa ekspresi wajah telah menggambarkan segalanya.
            Kau mungkin tak merasa sedang aku perhatikan dengan seksama. Tetapi, menginjak umur yang tak lagi muda ini, izinkan aku menyapa sosok indahmu. Aku selalu berharap seseorang yang tepat akan hadir di waktu yang paling tepat. Waktu akan memberikan jawabannya segera. Sembari menunggu, mari sama-sama berbenah semoga rencana-rencana masa depan kita menjadi kenyataan yang indah.
  
(Untuk wanita di seberang meja)

M. Amin | 26 Jan 2017 

Komentar