(20) Karena Cinta Adalah Dua Yang Sepakat Bersama


            Mungkin aku terlalu berlebihan untuk berharap suatu hari nanti aku bisa bersanding denganmu di pelaminan. Aku juga pernah bermimpi kita membangun istana cinta dalam mahligai rumah tangga bahagia. Membesarkan anak-anak kita lalu menua sambil mengenang kisah kita di masa muda.

            Tapi kurasa hal itu sudah keterlaluan. Setidaknya bagiku. Aku tak pernah mampu untuk benar-benar mengatakan cinta di hadapanmu. Aku terlalu lama menyimpannya dalam hati, berharap kau tahu layaknya peramal cinta, dan nyatanya hal itu tak pernah terjadi di dunia nyata. Aku benci dengan cinta yang harus dikatakan lewat kata-kata. Apa tidak ada cara lain? Aku dengar nasyid pun mendendangkan hal serupa.
            Kau tentu paham bahwa cinta adalah dua yang sepakat untuk berjalan bersama, menerjang rintangan di depan mata. Tidak melenggang sendiri ke depan lalu menyeret dengan paksa yang lain untuk mengikutinya. Tetapi hakikat cinta sejati adalah berjalan bersisian dengan langkah seirama, teriring canda mesra sepanjang kaki melangkah.
            Namun, disini ada aku yang dengan rahasia terus saja memujamu. Aku yang setiap waktu mengkhawatirkanmu tanpa memperdulikan lagi bagaimana diriku. Aku hanya ingin selalu memastikan kau dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi semakin kesini aku sadar bahwa kau tak pernah sekalipun menggubris perasaan cintaku yang begitu dalam padamu. Hingga pada akhirnya rasa cinta itu berlalu dan tiba-tiba saja dicuri orang lain yang tampak lebih berani daripada diriku. Aku tak berhak marah akan hal itu. Aku hanya akan merutuki diriku sendiri sembari bermuhasabah diri atas apa yang telah kulakukan selama dan sejauh ini, yang bagimu mungkin tidak begitu berarti.
            Pada akhirnya aku paham bahwa yang benar-benar cinta akan memperjuangkan segalanya bersama. Tak peduli apa yang terjadi nantinya, selama langkah beriringan disertai keyakinan akan takdir Tuhan, maka semuanya terasa sempurna. Ia yang cinta dengan sebenar-benarnya cinta akan menemani menjejaki tangga-tangga kesedihan dan kebahagiaan sampai pada akhirnya tiba di puncak bahagia di dunia juga akhirat kelak. Bukan disebut cinta sejati bagi mereka yang berjalan sendiri-sendiri meski tampaknya bersama, selalu mengedepankan ego daripada mau saling mengalah karena sesungguhnya hal-hal tersebut akan secara tidak langsung membunuh rasa cinta yang telah lama bersemi dalam dada dengan perlahan namun pasti. Lalu akhirnya kisah itu berhenti di satu titik dan menyadari bahwa semuanya sudah terlambat dan tak dapat diulang kembali. Akhirnya mereka berdua hanya mampu menyudahi apa yang telah disepakati tanpa peduli pada apa yang dikatakan oleh hati karena mereka berdua tahu bahwa cinta hakiki akan senantiasa menghormati dan saling melengkapi, bukan yang saling menyalahkan dan mengedepankan diri sendiri.     


M. Amin | 29 Jan 2017

Komentar