(21) Benarkah Itu Pertemuan Terakhir Kita


            Terkadang aku masih tidak percaya bahwa dirimu telah benar-benar tidak hadir di sisi. Masih sangat kuingat pertemuan terkhir itu. Entah apa yang menggerakkanku untuk senantiasa membutuhkanmu, tetapi rasanya itu datang begitu saja dari hati. Hari itu pementasan drama, semuanya disiapkan sedemikian rupa. Hanya saja aku masih membutuhkan sesuatu yang sebenarnya bisa saja kupinjam kepada rekan-rekan putri sejurusanku, tetapi aku lebih memilihmu. Kutulis pesan
singkat itu, kau balas beberapa saat dan kita bersepakat untuk bertemu. Cukup lama kutunggu dirimu, ah, bukankah ini yang selalu aku lakukan, menunggumu sejak lama dengan harapan dapat berlama-lama menikmati indah ciptaanMu dari kejauhan.
            Kala itu gerimis menyelimuti langit, kau paham kan, hujan selalu saja mampu membuat segala pertemuan kita bertambah syahdu, tak terkecuali di hari itu. Kerudung coklat itu berpadu indah dengan busana yang kau kenakan. Kau selalu saja indah dengan busanamu. Aku percaya itu. Cukup lama kita bercerita, bertukar ini dan itu sampai lupa waktu. Berharap sekitar menjadi kosong sejenak dan membiarkan kita berdiri berlama-lama sambil menatap senja yang begitu mempesona.
            Kau sodorkan kerudung merah itu. Lalu aku memintamu untuk hadir malam itu menonton penampilanku. Beberapa saat kemudian, hujan pun reda. Kita terpaksa untuk menyudahi pertemuan kita mengingat langit sudah semakin gelap. Senyummu selalu saja melekat di akhir pertemuan, diterima oleh panca indra lalu direkam oleh otak untuk kenangan selamanya. Beberapa kawan berlarian di belakang sana sambil memandangi kita berdua. Sejujurnya aku malu, tapi sekaligus bahagia karena hari itu kita mampu bertemu. Akhirnya terima kasih sudah mau hadir di malam itu meski tak mampu bersua empat mata. Usai itu, intensitas komunikasi sudah tak seperti biasanya, aku paham kalau kita sedang fokus pada tujuan masing-masing. Semoga pertemuan terakhir itu menjadi kenangan indah di masa depan. Permohonan terbaik selalu kupanjatkan untuk masa depan kita, kemana pun kisah ini akan bermuara.

M. Amin | 31 Jan 2017

Komentar