(22) Pertemuan Tanpa Rencana Istimewa


            Jujur, aku selalu menikmati perjumpaan-perjumpaan singkat kita. Perjumpaan kita di perpustakaan, ruang kuliah, sepanjang jalan kampus, dan lain sebagainya. Awalnya aku merasa itu adalah hal biasa. Tapi lama-kelamaan aku begitu merindukannya.

            Mungkin bagi yang lain, pertemuan sekejap mata tak berarti apa-apa, tapi rasanya teori itu tak berlaku pada diriku. Semenjak perjumpaan pertama itu, kita senantiasa dipertemukan semesta dan tanpa perlu kita rencanakan dalam agenda kita sebelumnya.
            Tatkala kita bersua kita hanya saling bertatapan mata, melempar senyum sambil sesekali mengucap salam, bertanya kabar hari itu lalu berlalu menuju tujuan masing-masing. Kali lain kita bisa bercerita panjang lebar, berbasa-basi dan tak jarang menertawakan hal-hal sederhana dalam kehidupan kita, atau bahkan bersama-sama mencari pemecahan atas suatu masalah yang menimpa diri kita.
            Saat itu, rasanya kita seperti dua yang saling menguatkan tanpa sadar. Layaknya seorang klien yang sedang berkonsultasi pada seorang psikolog kenamaan meski terkadang yang kita butuhkan tak lebih dari saling mendengarkan.
            Pertemuan-pertemuan itu terus saja membelenggu jiwa. Menyisakan kenangan-kenangan indah di antara kita berdua. Sayang, rencana terakhirku belum terlaksana denganmu. Mungkinkah karena terlalu sering dipertemukan secara tak sengaja membuat rencana pertemuan kita selalu tidak tercapai dengan sempurna? Semoga saja kita dapat mengambil hikmah di balik setiap pertemuan indah di antara kita berdua.


M. Amin | 31 Jan 2017 

Komentar