(25) Biarkan Rasa Itu Pergi


      Cinta itu penuh teka-teki. Kadang-kadang datang tanpa permisi, juga tak jarang hilang ketika rasa itu telah mengakar kuat dalam hati. Cinta juga kadang tak logis. Kita bisa melakukan hal-hal di luar nalar untuk orang-orang terkasih. Meski terkadang pengorbanan tersebut tak berbalas kasih. 
      Kumengenalnya sudah cukup lama. Intensitasnya meningkat gara-gara dunia maya. Ceritanya ia punya twitter baru dan lama-kelamaan aku mulai terpikat padanya. Awalnya aku biasa saja. Tapi lama-kelamaan aku semakin nyaman dibuatnya. Rahasia-rahasia kita secara tak sengaja terkuak begitu saja, meski belum tahu kemana kisah ini akan bermuara. 

      Aku mulai serius mengenalnya. Kutelusuri nasab keluarganya, kulacak foto-foto media sosialnya layaknya seorang detektif yang sedang memecahkan masalah krusial. Kucari juga kapan hari ulang tahunnya dan sebagainya. Di hari kelulusan itu dengan bahagia aku berfoto dengannya. Kuedit foto itu, kutambah sedikit kata-kata, kucetak dan kuberi pigura serta tak lupa kuselipkan surat di baliknya. Eits, jangan berpikir kalau itu surat cinta. Tidak sama sekali, itu hanya surat pemberi semangat di akhir masa-masa yang katanya masa paling indah dalam kehidupan manusia. 
      Kuberikan kado indah itu di hari ulang tahunnya, cukup membuatnya terkejut bahagia bahkan sekarang pun aku masih saja berpikir, dimana foto itu berada. Jujur saja, dia wanita pertama yang kuberi hadiah istimewa di atas rata-rata, juga satu-satunya wanita yang berani kuperkenalkan pada kedua orang tua. 
      Sungguh bahagian tak terkira ketika kutahu bahwa ia berada satu jurusan di kampus yang sama denganku. Untung saja kala itu rasa cintaku padanya sudah sedikit memudar, kalau tidak mungkin aku akan merasa tersiksa. Kini, kau telah mengikat rasa cinta pada pilihanmu dengan pernikahan. Sungguh bahagia aku mendengarnya. Kuharap persahabatan kita masih seperti yang dulu meski rasa dalam dada sudah tak akan pernah lagi sama. Akhirnya semoga perjumpaan kita di masa lalu penuh dengan hikmah berharga demi melangkah mewujudkan cita-cita, juga cinta tentunya. 

M. Amin | 3 Februari 2017

Komentar