(26) Selalu Ingin Hadir di Hari Bahagianya


            Sudah sejak lama aku memendam rasa pada wanita. Ketika aku sudah cinta pada seroang wanita maka aku selalu merapalkan doa pada Tuhan “kalau ia baik menurutmu, maka satukan kami dalam naungan cintaMu, tapi bila kami tak berjodoh, izinkan aku hadir di hari pernikahannya untuk sekadar memberikan restu, begitu pula sebaliknya”.

            Entah sejak kapan keinginan itu hadir. Tetapi banyak kawan bilang “kalau ada undangan dari mantan tidak perlu dihadiri, takutnya sakit hati.”. Tapi aku punya pemikiran yang sedikit berbeda. Bagiku selain karena seorang muslim wajib menghadiri undangan kecuali ada udzur syar’i, dengan hadir di undangan itu – pernikahan mantan – maka sesungguhnya aku ingin menunjukkan sisi penerimaanku yang sesungguhnya. Akan aku ucapkan selamat padanya, beriring restu dan doa semoga keduanya menjadi keluarga bahagia dunia sampai akhirat. Bukankah itu indah? Selain itu, ada juga harapan agar diriku yang masih saja hadir di pesta pernikahan akan segera menyusul dan didekatkan jodohnya oleh Tuhan. Kita tak pernah tahu dari siapa doa itu dikabulkan, mungkin saja doa kedua mempelai itu bisa lebih merayu Tuhan daripada doa seorang diri. Bisa jadi doa mereka mengangkasa lalu beberapa saat berikutnya doa itu menjelma menjadi nyata di depan mata.
            Aku pernah hendak menghadiri pernikahan seseorang yang pernah mengisi jiwa, tetapi sayang seribu sayang kala itu tiba-tiba saja ada agenda yang harus lebih diutamakan. Tetapi sebagai seorang hamba kita hanya boleh berprasangka baik kepada Tuhan sembari terus menggali hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Mungkin saja hari itu aku tidak ditakdirkan hadir tetapi semoga saja ia dan pasangan halalnya mau hadir di hari bahagiaku suatu saat nanti.
            Aku yakin hati manusia dapat dengan cepat berubah suasana. Paginya ceria, siangnya gundah gulana. Sore hari bahagia, bisa jadi malamnya terisak karena luka. Maka, senantiasakanlah bermohon padaNya agar hati yang mudah berganti-ganti cuaca it uterus diberi ketetapan iman dan terus istiqomah berada di atas jalanNya. Akhirnya, semoga kita menjadi pribadi yang senantiasa ikhlas menerima segala ketentuanNya, entah baik atau buruk adanya karena sungguh Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi hambaNya.

M. Amin | 13 Feb 2017

Komentar