(27) JANGAN SEKARANG, TAKUTNYA ITU NAFSU BUKAN CINTA


            Hari itu hari dimana pertama kali kudapati senyum yang begitu tulus menyapa diri. Senyum dari pemilik wajah ayu yang kuyakin senantiasa terbasuh wudhu. Busananya sederhana dan ah, kerudung khas itu selalu saja berkelebatan dalam ingatan dan tak mau beranjak pergi. Lihatlah, dirimu begitu mempesona. Urusan umur memang kau lebih muda, tapi kuperhatikan semangat belajarmu di atas rata-rata teman seumuranmu.

            Aku memang tipe orang yang suka berkompetisi. Aku selalu berusaha untuk mendapat sederet prestasi sejak aku duduk di bangku MI dahulu. Dan hal itu masih terus kubawa sampai saat ini. Tak terkecuali ketika aku mengenalmu dengan segala kelebihan yang kau tunjukkan, aku selalu menjadi manusia yang nomor satu, dan kutahu sekarang aku punya sparing partner yang sempurna, kamu.
            Beberapa waktu gunjingan kisah cinta kita berdua mencuat dan menyebar dengan begitu cepat. Tapi hal itu tidak pernah mengendorkan semangat belajarmu sedikit pun, terlebih marah. Kau tanggapi mereka dengan lekuk pipi indahmu itu. Aku ingin katakana bahwa memang saat itu aku suka padamu. Aku suka semangatmu, aku suka wajah cantikmu, aku suka cara berkerudungmu, sikapmu dan apa pun yang melekat pada dirimu. Ada yang mencibir, “ah, sudahlah, untuk apa kau main cinta-cintaan? Lebih baik belajar dengan serius!”. Kukatakan padanya “memang usia kita beda, tapi cinta soal hati”.
            Setahun kita kenal lalu pada akhirnya kau putuskan untuk pindah sekolah. Satu sisi aku senang karena pesaingku berkurang satu, kamu. Tapi ada ruang dalam hati yang terus berteriak untuk memintamu tetap tinggal disini. Sejak saat itu tak ada lagi wajah ayu itu, taka da lagi si otak cemerlang itu, juga taka da lagi yang bisa dengan sembunyi-sembunyi kulihat wajahnya dari kejauhan. Beberapa saat berikutnya aku mencoba untuk mengungkapkan apa yang kurasa kepadamu melalui media social. Jawab kau, “sudah, nanti saja membahas itu, sekarang lebih baik fokus belajar aja dulu. Takutnya kamu ngomong seperti itu sekarang tidak berlandaskan cinta, tetapi tak lebih dari nafsu.”. Kurenungkan nasihatmu dan mulai saat itu kuputuskan untuk melangkah mantap menata masa depan cerah. Tak masalah sekarang masih sendiri, mungkin Allah membiarkanku berprestasi dengan mandiri, baru di kemudian hari dihadirkan sosok pelengkap hati, melangkah beriringan menuju syurgaNya dengan pasti.


M. Amin | 6 Feb 2017 

Komentar