(28) Di Bawah Rinai Itu Kita Pernah Berjalan Bersama


            Terik matahari tak lagi menyengat sore itu. Kala kita bertemu bersama kawan-kawan untuk menghadiri salah satu pesta pernikahan salah satu teman kita. Di seberang gang itu kutunggu kehadiranmu. Sesaat kemudian, sosokmu hadir di hadapanku teriting senyum tulus nan indah itu.

            Perjalanan sore itu diiringi rintik hujan membuat suasana senja semakin romantis saja. Pengalaman hari itu begitu lekat dalam ingatan seakan tak bisa dilupakan. Sesampainya disana aku selalu ingin berfoto bersamamu disamping kedua mempelai dan berharap beberapa tahun ke depan bisa melangsungkan pernikahan seperti sahabat kita pada hari ini. Tapi, lagi-lagi hatiku menolak untuk melakukan semua itu. Lagi-lagi semua impian itu begitu utopis dan tak pernah menjadi nyata.
            Sepulang dari sana hujan turun begitu derasnya. Kita putuskan untuk berteduh sejenak. Mengingat hari sudah semakin malam, maka mau tidak mau kita lanjutkan perjalanan sampai tujuan. Tahukah kau bahwa aku berangan agar hujan saat itu tak pernah berhenti dan berharap bisa lama-lama bersamamu di bawah rinai indahnya. Atau mungkin kita memutuskan untuk menepi kembali, menyeruput kopi berdua samba bercengkrama tentang rencana masa depan kita.
            Namun, itu hanya akal liarku yang tak pernah disetujui oleh mulut dan juga tubuhku. Khayalan itu tak pernah berbuah kenyataan. Ya, mungkin karena niat awalku sudah salah. Lalu, sekarang aku baru memahami bahwa siapa yang kita sukai saat ini tidak harus menjadi milik kita di masa depan. Terkadang seseorang hanya singgah sejenak, meninggalkan bekas kenangan yang tak mampu dihapus. Meski ada beberapa lainnya memutuskan membersamai kita sampai menutup mata. Pada akhirnya, semoga kita menjadi insan yang selalu bijak menyikapi keberadaan siapa pun di sekitar kita.


M. Amin | 20 Feb 2017

Komentar