Mungkin Waktunya Memang Sudah Habis


            Jujur, aku tidak benar-benar melupakan kejadian-kejadian yang terjadi di antara kita berdua. Rintik hujan penghias pertemuan, canda tawa renyah yang menghiasi setiap perjumpaan, perbincangan-perbincangan kesana-kemari nyatanya tak pernah benar-benar membuat diriku lupa padamu.

            Tapi sekarang tampaknya segalanya berubah. Dirimu tak lagi seperti dulu. Sapaku tak lagi menggugahmu untuk sekadar membalasnya dengan jawaban singkat. Pesan-pesan singkatku tak lagi kau tanggapi seperti dulu. Apakah ini tanda-tanda bahwa memang waktuku untuk mencintaimu telah habis?
            Kuharap kita tidak berhenti di titik ini. Kita telah lama berjanji merajut mimpi bersama, merayakan indahnya pesta, dan menua dengan impian yang berubah nyata. Aku benci kau ingkar janji. Semudah itukah kau mengkhianati diri? Demi membuat lelakimu cemas sepanjang hari, tetapi nyatanya kau melakukannya lagi dan lagi. Sekali kau mengingkari janji, masih kuberi kesempatan kedua, tetapi yang kau lakukan hanyalah meninggalkan bekas luka dalam dada tiada terkira.
            Yakinkah kau ingin mengakhiri semuanya? Kalau memang begitu adanya aku akan selalu siap sedia. Lagipula untuk apa bertahan mencintai orang yang hanya membuat hidupmu semakin rumit setiap harinya. Hidup ini terlalu singkat untuk meratapi hal-hal yang seharusnya cukup berlalu begitu saja. Mungkin saat ini yang perlu kita lakukan hanyalah mengakhiri semuanya. Sebelum sesak dalam dada membuatku semakin meronta-ronta. Mungkin sudah saatnya kita menuliskan kisah yang benar-benar baru. Kisah yang mampu membuat kita bahagia pada akhirnya, bukan hanya kisah mengharu-biru penuh pura-pura.

M.Amin | 4 Mar 2017

Komentar