Menunda Kebahagiaan


Pernah kubaca tulisan dalam sebuah buku bahwa hendaknya kita menunda kebahagiaan. Maksudnya kebahagiaan-kebahagiaan yang sebenarnya sesaat bisa kita tangguhkan sampai pada waktu yang tepat. Kukira hal ini cukup sesuai bila diterapkan bagi kita yang ingin memulai cinta baru setelah sakit hati terdalam. 

Jangan buru-buru menyayangi seseorang bila dalam diri kita masih ada sisa-sisa kenangan masa lalu yang belum sepenuhnya hilang atau kita ikhlaskan keberadaannya. Takutnya, bisa-bisa kita lampiaskan rasa sakit hati itu pada orang yang sama sekali baru. Seseorang yang bisa jadi tak tahu menahu tentang masa lalumu. Berhentilah sesaat, muhasabah dirilah sejenak. Aku yakin hal itu akan membuat diri kita jauh lebih baik.
Mari mencoba untuk menunda kesenangan-kesenangan sesaat. Yakinlah akan ada masa yang tepat untuk menikmatinya, tetapi bukan sekarang waktunya. Mari merubah diri ke arah yang lebih baik. Mempersiapkan diri dengan terus menambah ilmu seputar pengembangan diri, mengikuti kajian keislaman seputar pemuda, mempelajari sejarah nabi Muhammad untuk kemudian kita aplikasikan dalam dunia nyata. Saya menuliskan ini secara sadar dan tidak dalam rangka menggurui siapa pun. Nasihat ini juga menjadi bahan renungan bagi penulis sendiri. 
Mulai sekarang, berhenti menggalaukan tentang dia yang tak lagi mau peduli pada bagaimana keadaanmu saat ini. Lebih baik fokus untuk terus berbenah diri, mempersiapkan masa depan dengan lebih baik, menyongsong indahnya hari tua bersama seseorang yang menjadi ketetapan terindahNya. Yakinlah bahwa Ia adalah zat yang tiada pernah sekali pun mengingkari janji. 

M. Amin | 15 Mar 2017 

Komentar