Nasib Mencintai Seorang Penulis


Pernahkah kau berpikir bagaimana rasanya dicintai oleh seorang penulis. Aku pernah suka pada penulis meski diriku tak selalu ada di tulisannya. Tetapi setidaknya ada percikan-percikan rasa bangga tatkala nama kita disebut olehnya dalam tulisan yang keluar dari lentik jemarinya.

Kini kubiarkan diriku menuliskan seluruh kisah cinta sepanjang hidupku. Meski rasa-rasanya tak pernah sempurna, itu tetap lebih baik daripada dipendam begitu saja dalam dada. Menuangkan kisah-kisah kita dalam kata menjadi ritual yang harus kulakukan sepanjang waktu. Mungkin yang kulakukan sudah cukup terlambat, tetapi bukankah pepatah mengatakan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
Maka, dengan tulisan-tulisan ini kumulai untuk merangkai cerita-cerita lama yang berkelebatan dalam kepala. Kurasa tak ada salahnya. Aku begitu bersyukur bila orang lain bisa mengambil banyak hikmah dari apa yang telah kutulis. Bila tidak pun, setidaknya aku bisa menikmatinya sendiri di sudut ruang kerja sambil menanti ungu senja berubah menjadi orange kemerahan di ufuk barat sana. Mengantarkan Sang Raja Siang kembali ke peraduannya, berganti posisi dengan bulan yang siap hadir mengisi kekosongan langit malam. Juga bintang penghias cakrawala yang dengannya kita pernah sama-sama melangitkan mimpi dan doa terbaik. 
Ingatlah bahwa meski kisah cintamu dengan seorang penulis telah usai, tulisannya senantiasa mampu kau nikmati kapan pun dan dimana pun kau suka. Memang ragamu tak lagi bersua dengannya, tetapi yang pasti riwayat cintamu kan selalu abadi tak lekang oleh waktu dalam rangkaian kata indahnya. Kau selalu menjadi inspirasi malam-malamnya yang sepi berteman rindu dalam dada. Kuharap kau tak pernah menyesal mencintai seorang penulis karena patah hati terhebatnya mampu melahirkan karya penuh hikmah bagi banyak orang. Sekali lagi terimakasih bagi siapa saja yang telah hadir menawarkan cinta meski harus berakhir dengan meninggalkan luka. 

M. Amin | 8 Mar 2017


Komentar