Refleksi Hari Buku Nasional


Pagi ini kubuka beberapa grup kepenulisan dan ternyata saya baru sadar kalau hari ini adalah hari buku nasional. Berangkat dari ramainya tema tersebut, pada tulisan kali ini saya akan membahas seputar buku.

.
Hari Buku Nasional dapat diartikan dengan banyak hal. Ada yang menerjemahkannya ke dalam semangat membaca buku, menulis buku, menjual buku, menelaah buku, dsb. Namun, apa pun itu saya kira sah-sah saja memaknai mengenai peringatan hari buku nasional. Bagi saya sendiri, momentum kali ini akan menjadi hari dimana buku pertama saya akan segera saya terbitkan. Proses self-editing telah saya selesaikan sehari sebelumnya. Hanya perlu menambahkan ucapan terima kasih dan desain sampul.
.
Beruntung saya punya teman yang sama-sama berasal dari Bojonegoro. Beberapa bulan lalu, ia mendirikan penerbit di Malang. Rencananya, buku pertama saya akan terbit lewat penerbit yang ia miliki. Ia adalah sosok penulis produktif yang karyanya telah membawanya terbang mengenal para pembesar di Bojonegoro. Itulah hebatnya menulis, kadang tulisanmu terlebih dahulu menggapai impian yang tak pernah terbersit dalam pikiranmu sebelumnya.   
.
Saya juga berterima kasih kepada grup-grup whatsapp dan facebook yang telah mengenalkan pada penulis-penulis muda produktif. Saya belajar bagaimana menulis, menyunting, dan menerbitkan buku. Pada akhirnya, saya menemukan terapi jiwa yang selama ini saya cari. Selain mendekatkan diri kepada Ilahi Robbi, melalui menulis saya dapatkan ketenangan hati sebab keresahan dan kegundahan hati dapat dengan indah tertuang dalam indahnya prosa atau puisi. Selamat merefleksikan diri pada Hari Buku Nasional. Semoga literasi di negeri ini masih terus mendapatkan apresiasi seperti pada masa-masa sebelumnya.    

@muhamin25 | 17 Mei 2017

Komentar