Apa Daya Masih di Tanah Rantau


Mungkin Ramadhan kali ini benar-benar menjadi Ramadhan yang paling berbeda selama hidup. Betapa tidak, sampai 3 hari terakhir sebelum hari raya, saya masih berada di tanah rantau. Apa daya, sebab tanggung jawab harus diselesaikan dengan sempurna.
.
Pagi ini, berseliweran foto reuni dan buka bersama Ikatan Alumni Arrahmat dari angkatan 1-12 di Pondok Pesantren Arrahmat. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya tidak pernah absen untuk menghadirinya. Namun, untuk kali ini, maaf beribu maaf masih belum bisa hadir pada momen “kangen-kangenan” tersebut.
.
Jujur, saya rindu nasihat-nasihat para asatidz pondok. Saya bisa sampai di titik ini masih harus dan terus membawa nilai-nilai yang ditanamkan di pondok dahulu. Misal saja masalah kemandirian dan kesederhanaan. Semakin dewasa diri, maka keduanya benar-benar akan dituntut untuk dilaksanakan. Bagaimana tidak, kalau di usia yang hampir menginjak seperempat abad ini seseorang belum bisa mandiri dan belum benar-benar mengerti arti kesederhanaan dalam hidup, mungkin ia akan tergilas zaman yang sudah semakin edan setiap harinya. Kemandirian berarti memiliki prinsip hidup, tujuan hidup yang jelas yang mampu mengarahkan kehidupannya menuju masa depan cerah. Kesederhanaan bermakna bahwa sebagai hamba Allah, kita tidak boleh sombong berada di atas muka bumi-Nya. Kita harus tetap menunduk dan mematuhi segala perintah-Nya, bersahaja dalam hidup, sebab kalau tidak begitu, maka ke bumi mana lagi kita akan berpindah? Karena semua yang ada, selain bumi ini pun adalah milik-Nya. Maka, hakikatnya kita akan senantiasa bergantung kepada-Nya.
.
Akhirnya, semoga nilai-nilai pondok Arrahmat dahulu senantiasa tertancap dengan mantap dalam jiwa sampai kapan pun jiwa ini siap menghadap kembali kepada Sang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Pesan lagi, kalau sudah sampai pada titik kesuksesan, jangan pernah lupakan orang-orang yang telah berjasa membawamu sampai pada titik tersebut. Sebab tanpa mereka, dan Allah tentunya, maka semuanya tak akan berarti apa-apa. Sesekali, tengok dan jenguklah sekolahmu dahulu. Sekadar mengurai kenangan dan menjadikannya pelajaran di hari depan. Bukan terjebak disana, hingga tak ada lagi harapan dan kemauan untuk bergerak mencapai kesuksesan. Oh ya, ngomong-ngomong ternyata yang saya tulis di baris-baris terakhir persis dengan apa yang disampaikan oleh ustadz semalam ketika ceramah tarawih di masjid.
.
Ditulis di Malang, menjelang subuh.
@muhamin25 | 22 Juni 2017

Komentar