Ayomilah Yang Kau Pimpin!


Terkadang ketika seorang pemimpin telah mencapai tingkatan tertinggi di sebuah institusi, ada beberapa hal yang berubah darinya. Mungkin sebagian ada yang semakin peduli terhadap bawahannya. Namun, beberapa di antaranya justru semakin menjauh dan tak “merakyat” terhadap yang dipimpinnya. Nah, hal inilah yang berbahaya.

.
Rasul mengingatkan dalam haditsnya bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Maka, bila seorang pemimpin sudah semakin menjauh dari yang dipimpinnya bisa menyebabkan ia semakin dibenci sebab terkesan tak peduli. Apalagi bila sang pemimpin lebih sering mengurus urusan luar institusi daripada dalam institusinya sendiri. Ada yang beralasan untuk branding, cari nama di kancah nasional. Sehingga untuk bertemu sekadar 5 menit saja susahnya minta ampun. Seorang pemimpin yang baik akan senantiasa menyiapkan waktu untuk mendengar bawahannya. Mungkin saja ia tidak sempat mengecek bagian-bagian di bawahnya sehingga membutuhkan laporan, tetapi karena kesibukannya yang menggunung, pesan-pesan dari bawahan tak pernah sampai pada sang pemimpin.
.
Maka, untuk menjadi pemimpin yang baik, cobalah untuk memberi ruang kepada bawahan untuk memberikan sedikit laporan. Konsekuensinya, selalu sediakan atau agendakan waktu barang 10-15 menit setiap harinya untuk mengecek semua bagian yang ada di bawah kepemimpinannya. Niscaya, pada masa-masa selanjutnya, aka nada kesinambungan dan tidak akan terjadi kesalahpahaman. Semua masalah yang terjadi dapat diselesaikan dengan tuntas dan segera, tidak menunggu nanti dan nanti.
.

@muhamin25 | 19 Juni 2017

Komentar