Pegang Amanah, Jangan Pernah Rusak!


Hari ini kembali aku dapat pelajaran berharga mengenai penghargaan terhadap waktu. Betapa tidak, sejak pagi aku berkutat dengan tugas studi hadits yang tak kunjung usai. Sudah dua hari ini dari sejak selesai tadarus subuh sampai malam menjelang kumengerjakannya. Memang, bias dibilang tugas terakhir ini butuh sedikit tenaga ekstra. Bulan puasa menjadi lebih bermakna dengan tugas-tugas UAS tersebut, setidaknya tidak ada rumus menganggur untuk hal-hal yang tak berguna.

.
Siang menjelang, satu per satu email teman satu kelas belum sempat kubuka dan kubalas. Bagaimana mau membalas, tugasku sendiri saja belum selesai. Selain itu, tiba-tiba whatsappku berbunyi dan ternyata ada teman satu kampus yang minta tolong menerjemahkan abstraknya. Aku sanggupi saja, meski aku belum tahu ia dari jurusan apa dan apakah aku benar-benar dapat menyelesaikan terjemahan dalam waktu singkat. Singkat cerita selesailah tugas hadits tersebut meski harus bersusah payah dan menghabiskan banyak waktu.
.
Adzan ashar berkumandang. Pesan whatsapp masuk lagi. Ternyata teman yang minta tolong menerjemahkan abstraknya tadi yang mengirim pesan. Kujawab sepertinya belum bias kalau sore ini. Dia langsung tidak terima. Alhasil makian dan cacian langsung saja meluncur bebas. Tak peduli lagi meski ini bulan puasa. Aku paham betul, bisa jadi dia sedang benar-benar butuh terjemahan abstrak itu segera. Akhirnya aku mengambil langkah cepat. Kuterjemahkan dengan bantuan google translate dan sedikit kuubah bagian-bagian yang sepertinya kurang sesuai dari sisi kaidah dan susunan kalimat bahasa Arab. Alhamdulillah setengah jam berlalu dan selesai juga terjemahan abstrak teman saya jurusan arsitek. Saya mohon maaf kepadanya karena pelayanan yang kurang memuaskan.
.
Dari kisah tersebut saya belajar untuk lebih teliti terhadap apa yang diamanahkan kepada kita. Cek dulu apakah kita benar-benar mampu mengerjakannya atau hanya setengah saja. Lalu, berusahalah untuk senantiasa memberikan pelayanan terbaik. Apa pun itu dari yang kau persembahkan atau kau jual (baca: keterampilan) kepada orang lain. Dengan begitu, niscaya akan lebih banyak lagi orang yang percaya padamu dan teruslah seperti itu maka kehormatan akan senantiasa meliputi dirimu.

@muhamin25 | 15 Juni 2017   

Komentar