Tumbuhkan Kesadaran Dirimu!


Menjadi pangasuh termuda di antara yang lain, tidak membuat seorang pemuda jebolan kampus ternama urung dari amanah kepengasuhan kelas XII. Dengan ucapan bismillah, ia berdoa kepada Allah supaya diberikan kemudahan dan kesabaran dalam mengasuh ssantri tingkat akhir di sebuah pondok pesantren pusat kota.

.
Masalah tanggung jawab yang harus dipegang sesungguhnya sama saja. Yang membedakan hanya objeknya. Sebelumnya sang pemuda mengasuh santri baru, kelas X, tetapi satu bulan berikutnya setelah kedatangan pengasuh baru, ia dipindahtugaskan untuk mengasuh santri tingkat akhir bersama seorang pengasuh senior. Sebagai pengasuh yang berada di tengah santri, sang pemuda tentu lebih banyak mengenal dan akrab dengan santri tingkat akhir.
.
Dari banyak tanggung jawab yang diamanahkan kepada sang pemuda, salah satu di antaranya adalah mengajak para santri untuk jamaah di masjid dan tutor di kelas selepas isya. Malam itu, sang pemuda berkeliling dari lantai empat sampai lantai dua untuk mengajak para santri tutor di kelas yang telah ditentukan. Masih banyak di antara mereka enggan dan bermalas-malasan pergi tutor, padahal ujian sudah ada di depan mata. Berbagai rangkaian ujian akan mereka laksanakan mulai bulan depan. Para santri, meski tingkat akhir ternyata belum menjamin mereka memiliki kesadaran diri yang tinggi. Masih banyak yang lebih mementingkan ego dan nafsu masing-masing. Ego untuk belajar di kamar lah, ego untuk bermalas-malasan lah, dst.
.
Sebagai santri tingkat akhir, seharusnya mereka layak menjadi contoh yang baik bagi adik kelasnya. Tidak malah memberikan teladan yang buruk sehingga ditiru oleh adik-adiknya. Berkali-kali pemuda mengingatkan para santri tingkat akhir akan hal itu. Namun, sepertinya mereka hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, tak mempan. Kesadaran diri itu penting dalam hidup. Setelah ini, santri tingkat akhir akan memasuki jenjang perkuliahan. Sebagai mahasiswa nantinya, mereka akan hidup sendiri, mandiri. Bila kesadaran mereka untuk belajar, mengaji, bertukar ilmu masih amat rendah, maka bagaimana nasib mereka ke depannya? Padahal mereka adalah generasi emas yang dielu-elukan bangsa dapat membanggakan bangsa ini sepuluh dua puluh tahun ke depan. Tantangan era globalisasi yang semakin menyeramkan setiap harinya seharusnya mampu mengetuk kesadaran pikiran dan hati mereka untuk berusaha dan berjuan lebih keras saat ini.
.
Terkadang, ketika diingatkan masalah kesadaran diri, mereka akan berkilah dan berdalih bahwa nanti sajalah ustad, kita pasti akan sadar kok. Tapi kapan? Apa mereka punya jaminan hidup satu tahun, sat hari, bahkan satu detik dari waktu mereka berbicara? Tidak kan? Oleh karena itu, selagi nyawa masih dikandung badan, maka segeralah sadar diri. Tetapkan tujuan dalam hidup, jalani hari-hari dengan penuh semangat dan target-target hidup supaya tak menyesal nanti. Jangan menunggu kesadaran akan hadir lima atau sepuluh tahun lagi. Jangan, itu sudah terlambat. Maka, sebagai generasi muda mari senantiasa memupuk kesadaran diri sejak dini supaya harapan-harapan masa depan dapat tercapai dengan maksimal. Jadi, apa masih mau menunggu nanti dan nanti untuk sadar diri?
.

@muhamin25 | #day53 #dailywritingchallenge #210817

Komentar