Kamu Mungkin Mati, tapi Tulisanmu Abadi


Saya membayangkan suatu saat ketika saya telah tiada, sanak saudara juga keluarga akan bertanya dalam hati kecil mereka,
"Apa sesungguhnya yang telah ditinggalkan oleh mendiang suami/ayah/saudara saya?" 
Maka mereka akan kebingungan untuk menemukan jawaban pasti sebab selama hidup sang suami atau ayah tersebut tidak banyak meninggalkan jejak peradaban. 
.
Berbeda halnya bila sang ayah setidaknya memiliki kenang-kenangan entah harta benda atau apa pun. Terlebih bila ada peninggalan pesan-pesan hikmah yang tertulis rapi di akun media sosialnya. Yang mungkin saja siapa saja yang kangen dengan sang ayah akan segera membuka dan membacanya. Menakjubkan bukan. Penulisnya mati, tapi tulisannya abadi tak lekang oleh waktu. 
.
Menulis adalah suatu kegiatan menjejak peradaban. Sebuah usaha mengabadikan diri, menyembulkan makna di balik kata dan rasa dalam jiwa. Bagi seorang penulis, tidak menulis satu hari saja seperti belum memasukkan sesuap nasi ke dalam perutnya. 
.
Maka, ketahuilah kawan, menulis bagi saya adalah mengungkapkan isi hati dan menuangkan ide dalam otak yang terus berjejalan sepanjang hari. Menulis juga akan menjadi amal jariyah bilamana tulisannya terus dibaca oleh generasi penerus. Bukankah itu menyenangkan?
.
Diriwayatkan dalam sebuah hadis nabi bahwa ketika anak adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal. Yaitu sedekah jariyah, anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat. Untuk sedekah jariyah dengan harta, saya sendiri masih pas-pasan. Apalagi anak sholeh, menikah saja belum. Maka peluang besarnya ada pada ilmu. 
.
Dengan menulis sesungguhnya kita sedang membagi ilmu kepada orang lain. Ada simpul-simpul cinta dan ilmu di antara deretan aksara yang menyatu. Apalagi bila tulisan kita mampu menggugah pembaca untuk segera melakukan perubahan dalam hidupnya menuju arah yang lebih baik. Maka lagi-lagi tak terbayang berapa banyak pahala yang terus mengalir kepada sang penulis tersebut. 
.
Maka, begitulah selayaknya penulis. Ia harus memiliki niat yang tulus ikhlas. Niat menyebarkan ilmu yang didapatkannya, niat mencari ridho-Nya. Bukan mencari ketenaran nama, mendulang pundi-pundi rupiah yang tak terhitung jumlahnya. Kalaupun dapat anggap saja itu bonus. Semoga niat-niat menulis ini terus terpatri dan tak tergoyahkan sampai mata tak mampu melihat lagi.

.
27 Desember 2017

Komentar