Bisa Karena Terbiasa



Dua hari ini, bersyukur saya bisa kembali berolahraga. Kemarin sebab ada jalan sehat dalam rangka HAB ke-72 Kemenag Kota Malang. Sedangkan hari ini diajak teman ke taman merjosari.
.
Untuk jalan sehat kemarin tak menjadi masalah. Meski sudah lama tidak berjalan kaki ke mana-mana, semenjak ada motor yang setia menemani ke mana pun. Tetapi untuk olahraga hari ini saya merasa sedikit berat.
.
Saya diajak lari mengelilingi lapangan Merjosari sebanyak tiga kali. Saya mulai dulu dengan pemanasan seperti biasa. Setelah dirasa cukup, saya berlari tanpa berhenti sebanyak tiga putaran.
.
Putaran pertama tidak menjadi masalah. Putaran kedua, kaki sudah mulai lelah. Di putaran ketiga menjelang tempat awal berlari, saya mencoba sprint alias lari cepat. Saya hanya ingin menjajal kecepatan lari cepat saya. Ternyata hasilnya kurang maksimal. Jauh dari harapan. Meski hanya sekian ratus meter saya sudah ngos-ngosan. Huft. Lelah juga.
.
Teman di sebelah saya mulai ngos-ngosan ketika menuju garis akhir. Saya katakan padanya, kalau di putaran ketiga ini sudah lelah, sepertinya pemanasan kita kurang matang. Lalu, kebiasaan berlari kita masih perlu dipertanyakan.
.
Memang, kebiasaan yang membentuk kepribadian kita saat ini. Termasuk dalam hal olahraga. Jangan harap bisa berlari lima kali putaran kalau kebiasaan kita hanya dua kali putaran. Kita harus terbiasa bertahap dalam hal-hal yang ingin kita capai. Tidak ada yang instan. Ingat bahwa semua ada prosesnya. Mungkin saja ada yang memperoleh sesuatu dengan cepat. Tetapi yang cepat itu seringkali tidak diiringi proses yang sesuai, ngos-ngosan, lelah, dan tidak dinikmati. So, enjoy your habit, increase it, and you will achieve what do you want! 
.

Komentar