Tentang Memaknai Arti Kerja Sama




Penanggalan miladiyah 2018 baru saja memasuki hari kedua bulan Januari. Tetapi aku harus berjibaku kembali dengan tumpukan rapot yang sejak dua minggu lalu memusingkan kepala.
.
Bagiku tak jadi soal. Ini sudah menjadi kewajiban sekaligus ladang pengabdian. Ini soal pilihan hidup. Mau santai-santai atau menjadi produktif sepanjang hari.
.
Masalah pembagian rapor sesungguhnya sudah menjadi rutinitas tiap semester. Tetapi tentu selalu saja ada masalah yang hadir. Saya sendiri lupa tidak memastikan apakah semua rapor sudah terkumpul dan tercetak. Meskipun saya bukan panitia ujian, saya mewajibkan diri saya sendiri untuk melakukan pengecekan tersebut.
.
Dugaan saya benar. Ternyata ada banyak rapor yang belum dikumpulkan juga beberapa belum dicetak. Para orang tua mengernyitkan dahi melihat saya kebingungan mencari rapor tersebut, bolak-balik ke kantor untuk mencetak dokumen rapor. Ya sudahlah. Anggap saja belajar bekerja dengan cepat dan cekatan.
.
Yang saya sayangkan adalah koordinasi di antara panitia dengan pihak-pihak terkait seharusnya ditingkatkan. Memang personel panitia hanya segelintir orang, tetapi kita berusaha menjadi super team, bukan super man atau super-super yang lain. Panitia harusnya lebih aktif meminta bantuan, pihak lainnya pun harus mendukung hal tersebut supaya segala macam kegiatan termasuk penerimaan rapor berjalan lancar.
.
Hari ini saya belajar bagaimana agar teliti terhadap banyak hal. Saya juga belajar bagaimana koordinasi dan kerjasama yang lebih apik untuk ditunjukkan. Ini bukan tentang panitia yang begadang tiap malam untuk mencetak rapor, tapi tentang makna kebersamaan yang dilandasi rasa cinta untuk melancarkan semua program yang telah direncanakan. Tanpa kerja sama yang baik mungkin suatu acara akan tercapai, tetapi tentu akan lebih maksimal bila acara tersebut disokong oleh banyak orang-orang yang bersedia memimpin, dipimpin, dan tentunya siap membantu dan bekerja sama.
.

Komentar