Penyesalan Dunia vs Penyesalan Akhirat


Membaca ayat ini membuat diri ini takut akan penyesalan tiada arti ketika sudah memasuki alam akhirat. Langsung teringat banyak dosa yang belum sempat dimintakan ampun dalam panjangnya doa selepas salat dan banyaknya istighfar yang seharusnya terucap sepanjang waktu. Meskipun ayat ini berbicara seorang kafir yang menyesal mengapa tidak berislam semasa di dunia, bukan berarti yang Islam berdiam diri, berbangga diri, dan merasa suci sendiri sehingga tak ada perubahan menuju kebaikan.

Bila kita mengenal hijrah dari keburukan menuju kebaikan di dunia ini, maka itu wajar adanya. Allah masih memberi tenggat waktu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Selama nafas masih dihirup, selama nyawa belum meregang, maka masih ada pengampunan Allah di sana. Penyesalan masih berbuah perubahan dan peralihan. Masih bisa kembali.

Tapi coba bandingkan dengan alam akhirat. Betapa banyak hadis nabi disebutkan bahwa hamba meronta-ronta dan meminta kepada Allah supaya mampu dikembalikan ke dunia. Ia akan berjanji untuk memperbaiki diri meski sekejap, beribadah sebanyak-banyaknya, brersedekah, dan lain sebagainya. Namun, Allah menjawabnya dengan,

“Duhai hamba, waktumu sudah habis. Mengapa kau baru menyesal ketika sudab di akhirat? Selama di dunia aku beri banyak ujian kau belum juga sadar. Sekarang rasakan azabku yang pedih padamu. Ini semua sebab kelalaianmu sendiri.”

Maka, selagi nyawa masih dikandung badan, maka sebagai hamba-Nya kita harusnya menggunakan kesempatan yang ada untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Meningkatkan kuantitas juga kualitasnya sepanjang waktu. Sembari berdoa semoga diberikan kesabaran di atas jalan kebaikan sampai maut datang.

Komentar