Pertemuan Direnggut Perpisahan


Ada satu waktu di mana hati sedang ingin bertemu dengan orang-orang terkasih. Namun, sayang seribu sayang orang terkasih harus segera berpisah. Ia beralasan sebab waktunya sudah habis. Ah, ayolah, bertahan di sini sejenak lagi. Lebih lama sedikit tak jadi soal. Kalau perlu nanti aku antarkan pulang.

Dunia mungkin sedang bercanda dengan orang yang berpijak di atasnya. Ia ingin menguji kesetiaan insan-insan yang mengaku mampu mempertahankan hubungan sampai kapan pun.

Kasih, tulisanmu menarik. Caption dari akun instagrammu memukau diriku. Ingin rasanya mengenal lebih dalam dirimu. Dari mana kau dapat inspirasi-inspirasi tulisan itu? Kehidupan? Kisah cinta? Renungan mendalam? Kajian? Atau yang lainnya.

Asal inspirasi tak terlalu penting, tapi ada pertanyaan yang mengusik hatiku akhir-akhir ini. Mengapa akhir-akhir ini aku suka dengan wanita penulis. Terlebih akhlaknya terpancar pada tulisan-tulisannya. Auranya tampak pada goresan tinta. Pesona tergambar pada tiap deret kata. Benarkah ini cinta? Entahlah.

Lalu, yang kutahu kau tertarik dengan tulisanku. Aku sangat senang mendengarnya. Ah, aku sepertinya ke-geer-an. Duhai hati, biasa saja. Dia hanya terkesan. Ia sukai beberapa postinganku. Ia berencana mengundangku ke pondok literasi. Pengasuhnya adalah dosen magisterku. Aku sangat bahagia mendengar tawaran itu. Semoga saja suatu saat benar menjadi kenyataan. Aku akan datang bila diundang. Meski yang mengundang tak datang tak jadi masalah. Semoga lain kali berkesempatan bertemu. Di hari yang penuh kegembiraan. Di hari yang penuh keberkahan, penuh doa dan restu semesta. Semoga.

Dari pengagum rahasiamu. MA to NN.

Komentar