Jaga Diri Selepas Khitbah



Duhai kawan, kadang aku prihatin dengan pemahaman sebagian kita yang merasa sudah benar-benar paham agama tetapi masih salah dalam menerapkannya. Beberapa waktu aku perhatikan banyak kawan yang baru selesai khitbah langsung pamer kemesraan di sosial media. Ada yang berpegangan tangan, berdekat-dekatan, dan seterusnya dan seterusnya.
.
Begini kawan. Bukannya aku mau sok menggurui sebab aku belum pula merasakan khitbah itu. Tetapi, yang pernah kupelajari dari hadis-hadis Nabi bahwa selepas khitbah hendaknya keduanya tetap harus saling menjaga diri dari maksiat, dari khalwat. Sebab, tahukah kamu bahwa setan selalu suka menggelincirkan manusia lewat nafsu, salah satunya ketika dimabuk cinta. Tak terkecuali ketika telah terlaksana khitbah.
.
Maka, sebab godaan setan yang besar itu, sesungguhnya ketika laki-laki telah khitbah dan belum akad, maka akan ada banyak godaan di sana. Ketika melihat teman perempuan sekantor, ada rasa bahwa ia lebih cantik dari yang dilamar kemarin. Pun wanita, ketika melihat teman laki-laki satu profesi setelah proses khitbah, maka ia merasa kok laki-laki ini lebih cocok daripada yang kulamar beberapa waktu lalu. Begitulah setan bekerja memberi umpan kepada manusia. Tinggal manusianya punya benteng kuat atau tidak untuk menangkalnya.
.
Maka, saranku hapus saja foto-foto kemesraan setelah khitbah itu. Simpan rapat-rapat. Sebab sabda rasul menyatakan bahwa hendaknya mukmin itu merahasiakan pinangan (khitbah) dan mengumumkan pernikahan. Hal ini mengandung unsur-unsur kebaikan. Sebab, bisa jadi selepas khitbah ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Paling jauhnya adalah batalnya pernikahan dengan yang sudah dikhitbah sebab satu dan lain hal. Bila pinangan itu telah diumumkan ke khalayak, bukankah kau akan malu dan bingung menaruh muka di hadapan teman-temanmu? Maka dari itu, untuk kesekian kalinya, jaga rahasia khitbahmu. Umumkan nanti bila sudah menjelang akad. Dengan begitu, semoga pernikahanmu menjadi pernikahan yang diberkahi sebab mengikuti ajaran Nabi.
.
Wallahu a'lam.
.

Komentar