Pembelajaran Era Abad ke-21



  • Rasa-rasanya sudah lama saya tidak mengikuti seminar. Maklum, saya memang pecinta seminar, apa pun selama waktunya tidak mengganggu agenda utama dalam keseharian. Hari ini saya diizinkan kembali mengikuti International Collaborative Seminar yang digagas pasca sarjana UIN Maliki Malang.


  • Acara dimulai sekitar pukul setengah sembilan pagi. Pemateri utama adalah Dr. Mohd. Ghazali bin Taib dan Mdm. Ooi Choon Meng dari Malaysia. Selain itu Dr. Wildana dan Dr. Istianah tak ketinggalan meramaikan seminar kali ini. Tema seminar adalah Applying 8 Thinking in Classroom Activities.

    Di awal, Dr. Ghaz, sapaan akrab Dr. Mohd. Ghazali meminta kami selaku peserta seminat untuk mengubah posisi tempat duduk. Leter U atau tapal kuda menjadi pilihan penataan tempat duduk pada sesi kali ini. Kata beliau dengan formasi semacam itu, maka peserta akan lebih fokus menerima materi dari siapa saja yang berbicara di depan. Sebaliknya, pemateri juga dapat menatap secara lebih menyeluruh daripada dengan formasi tradisional (formasi barisan seperti saf salat).

    Selain itu, beliau juga meminta kami untuk tidak mengoperasikan gawai dan tidak mencatat apa pun selama penyampaian materi. Menurut saya, inilah kontrak seminar yang mantap. Semacam kontrak kuliah atau kontrak forum ketika mengikuti pelatihan organisasi semasa kuliah sarjana dahulu.

    Beliau mengawali penyampaian dengan falsafah pendidikan di Malaysia. Setiap negara memiliki falsafahnya masing-masing. Malaysia dalam bidang pendidikan ingin mengembangkan manusia yang holistik, menyeluruh. Manusia kaffah dari berbagai sisi (intelektual, rohani, emosi, dan fisikal).

    Setelah itu, beliau menyampaikan bahwa sebelum menyampaikan materi hendaknya guru mengetahui pengetahuan terdahulu. Caranya dengan menanyakan hal-hal terkait pelajaran hari ini sebelum masuk materi inti. Selain itu, pengaturan tempat duduk juga penting dilakukan. Guru dituntut kreatif. Guru juga harus bisa memastikan apa yang disampaikan olehnya sama dengan apa yang diterima dan divisualisasikan oleh anak. Tugas guru itu berat, satu perkataan salah dan diamalkan oleh murid menjadi satu dosa jariyah bagi guru. Maka, berhati-hatilah dalam menyampaikan sesuatu kepada murid.

  • Sebelum masuk sesi tanya jawab, beliau menyampaikan kata mutiara, 
    IT'S NOT ABOUT HOW GOOD YOU ARE, BUT HOW GOOD YOU WANT TO BE. 
    Kata mutiara tersebut menyiratkan bahwa sebagai guru harus siap berubah mengikuti perubahan zaman. Guru tidak boleh stagnan, jalan di tempat. Sebab persaingan di masa mendatang begitu hebatnya. Manusia akan banyak digantikan mesin dan robot. Maka, dibutuhkan insan-insan yang mampu mencipta, kreatif menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mendayagunakan manusia lainnya untuk bergabung dalam pekerjaan tersebut. Sebab, sekolah masih saja mencetak manusia-manusia pekerja, bukan manusia wirausaha.
    Pada sesi tanya jawab, penanya pertama menanyakan tentang bagaimana menyikapi perbedaan di antara murid. Jawabannya adalah pertama, tata ulang bangku. Buat posisi 5 kelompok dengan satu kelompok di antaranya berada di tengah. Empat kelompok lainnya mengelilingi kelompok pertama tersebut. Berikan kesempatan menjawab pertanyaan di awal kelas kepada mereka yang tingkat kemahirannya rata-rata, mereka berada di kelompok tengah (pertama), baru kepada kelompok lainnya. Jadikan juga mereka yang sudah paham untuk mengajari mereka yang belum paham. Libatkan murid untuk aktif di dalam kelas.

  • Guru harus bisa berganti peran dengan cepat. Sesekali menjadi pengajar yang mentransfer ilmu, sesekali menjadi fasilitator, sesekali juga bisa menjadi teman. Hal ini disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa yang tergambar pada taksonomi Bloom, mulai mengetahui sampai menciptakan.

  • Dalam mengajar, jadilah dirimu sendiri. Jadi original. Perilaku yang dilakukan dalam kelas oleh guru juga merupakan pendidikan. Sebagai guru harus pintar membangun koneksi dengan siswa sehingga membuat kepercayaannya meningkat kepada seorang guru. Kepercayaan itu timbul bila murid mengatakan, "Saya ingin belajar sesuatu dari Anda (guru)". Maka, sedari pertama kali masuk kelas kita harus mampu menciptakan gambaran yang bagus di depan murid. Good teacher tidak dilihat dari seberapa cantik atau tampannya dia, tetapi bagaimana ia mampu membawa sesuatu baru di dalam kelas, ia mampu membuat murid setidaknya membawa satu pengetahuan baru ketika pulang sekolah.

  • Menjadi guru harus menganut prinsip long life education (belajar sepanjang masa). Guri harus mau belajar, membaca, meneliti dan hal-hal lain yang menunjang tugas guru itu sendiri.

  • Setelah Dr. Ghaz, Mdm. Ooi Choon Meng bercerita tentang berani bermimpi. Beliau menceritakan program kampusnya, IPGKBA Malaysia yaitu MTCP yang semua dananya ditanggung oleh Kemenlu Malaysia. Syarat-syarat seperti pengalaman mengajar minimal delapan tahun, umur lebih dari 30 tahun, keinginan untuk terus bertumbuh adalah syarat-syarat utama. Program dilaksanakan selama sekian hari di Malaysia. Selain kursus seputar pedagogik, juga ada kunjungan sekolah, kunjungan Kuala Lumpur, menginap di hotel bintang lima selama tiga hari dua malam, mendapat uang saku sekian ringgit per hari, juga mendapat berbagai macam sertifikat. Mulai sertifikat kursus, sertifikat soft skill, juga sertifikat TOURONKAI.


Itulah rangkuman yang agak panjang dari seminar pagi tadi. Sabtu nanti juga akan ada acara serupa tetapi lebih fokus kepada bahasa Arab. Semoga segala yang didapat dapat dipraktekkan dalam pembelajaran di kelas.


Komentar