Salahkah Diri Berharap?


Ada kalanya diri mematung seorang diri. Tiba-tiba selayang memandang wanita begitu anggun, pintar, baik, salehah. Ia tampak menafakuri ayat-ayat Quran. Dibacanya dengan penuh pemaknaan. Sesekali sesenggukan, air matanya tak terbendung. Diusapnya air mata yang jatuh dengan ujung kain rukuh.


Aku hanya bisa memandang dari jauh. Melihatnya dari balik jendela masjid itu. Sesekali mengintip melihat wajah ayunya. Maa Sya Allah. Bolehkah hamba bersanding dengannya?

Aku mengenalnya sejak pertama kali masuk madrasah aliyah. Kami sekelas selama tiga tahun. Terlibat berbagai konflik dan tergabung dalam berbagai kegiatan dan organisasi. Di kampus kami pun masih satu jurusan. Beberapa kali sekelas. Masih pula satu organisasi yang sama. Kami juga mengabdi di tempat yang sama. Bahkan sampai hari ini kutuliskan cerita ini. Kami masih berada di tempat yang sesungguhnya sama. Hanya berbeda posisi saja. Dahulu siswa, sekarang pengasuh.

Aku bukan bermaksud menjadi teman yang makan teman. Aku tahu dia suka teman semasa SMP dan MA. Tetapi di lain sisi, aku pun menaruh harapan besar padanya. Entah ia tahu atau tidak. Entah ia merasa atau tidak itu tak terlalu penting. Yang pasti lubuk hati terdalam berkata, ialah orang yang tepat menamani sisa hidupmu.

Kami sama-sama suka menulis. Karya miliknya memang lebih banyak. Kulihat ia orang yang begitu optimis terhadap mimpi-mimpi masa depan. Beberapa kali kami bercakap tentang pernikahan, bukan tentang kami berdua tentunya, hanya sebatas sharing mengenai persiapan pernikahan, hal-hal terkait pernikahan.

Ya Allah, aku masih belum tahu ke mana hati ini akan berlabuh. Aku hanya perlu terus berdoa pada-Nya. Memohonkan yang terbaik untuk masa depan. Entah denganmu duhai penulis dan organisatoris, atau denganmu penulis yang hafizah, atau dengan yang lain-lainnya. Berilah hamba-Mu arahan untuk menemukan jodoh terbaik yang telah Engkau siapkan.

Komentar