Unduh Ebook Menjadi Organisatoris Andal

Untuk unduh ebook Menjadi Organisatoris Andal (MOA), klik tautan berikut: https://bit.ly/EbookMOA Password pdf : MOAMANTAP25 ...

Senin, 30 April 2018

Mencetak Generasi Sholih


Malam ini saya berkesempatan menghadiri acara walimatul aqiqoh adinda Hilwa Futuhan Fatiya, putri ketiga dari Ustad Muchlis. Acara dihadiri beberapa warga sekitar dan guru madrasah. Saya sangat beruntung bisa berada di tengah-tengah mereka. 

Ilmu Negosiasi


Menjadi bagian persidangan (perlengkapan) dalam suatu acara yang cukup besar benar-benar membuat saya banyak belajar. Kalau pada acara lingkup mahad yang sekupnya kecil, saya masih bisa menanganinya dengan cukup baik. Tetapi, untuk sekup yang lebih luas tentu bukan satu hal yang mudah. Meski bukan berarti satu hal yang sulit juga selama mau belajar.

Minggu, 29 April 2018

Menyambutmu di Kota Sejuta Rindu

Sabtu, 28 April 2018
Selalu ada kejutan dalam hari-hari bersamamu. Beberapa waktu lalu, tersiar kabar kehadiranmu di kota tempat kita pernah menimba ilmu beberapa tahun lalu. Aku begitu senang mendengarnya. Aku persiapkan segalanya. Aku begitu siap menyambutmu. Ini spesial, sangat spesial.

Sabtu, 28 April 2018

Kekhawatiranku Atasmu


Ada yang berbeda ketika kutuliskan aksara ini untukmu. Kamu akan selalu menjadi seorang yang senantiasa kukhawatirkan. Kamu menjadi satu sosok yang tak pernah henti kudoakan. Satu orang yang tak akan pernah menyesal ketika diriku mengenalnya.

Adinda. Ada selarik rasa khawatir tatkala tulisan-tulisanku tak berbalas sebagaimana mestinya. Ada selarik kecewa ketika di antara tulisanku ada yang menyinggung hati adinda. Ingatkan kakanda ya dik. Gak usah sungkan.

Ketahuilah adinda, menjadikanmu bahagia sudah dan akan terus kulakukan. Melihat senyum indahmu, meski hanya lewat tulisan atau emotikon bagiku sudah cukup membuat hatiku tenang. Terlebih mendengar suaramu yang merdu, duh, aku di sini merasa tak berdaya atasmu.

Adindaku. Ketahuilah bahwa bila di sana dirimu gundah, hatiku di sini juga resah. Meski aku tak tahu persis apa alasan dan masalahnya. Tetapi, itulah yang kurasakan beberapa kali.

Perihal balasan-balasanku yang kau tak berkenan adanya, aku tak bermaksud menyinggung hati kecilmu. Mohon maaf kalau memang baru sebatas itu aku memberi perhatian padamu.

Ke depan, aku akan sering memberi kabar tentangku di sini. Tak perlu risau. Mungkin beberapa hal tak kuceritakan padamu, tapi percayalah aku baik-baik saja di sini. Senandung doamu sudah cukup menemani keseharianku di sini.

Adinda, kakanda paham bahwa sebagai wanita memang terkadang manja. Itu wajar adanya. Tapi aku yakin adinda mampu mengendalikan dan menempatkan manja sebagaimana mestinya. Tak mengumbarnya berlebihan, pun tak menyimpannya sendirian.

Adinda. Izinkan diriku di sini terus berusaha membahagiakanmu. Apa pun yang bisa kulakukan akan kulakukan selama itu membuatmu di seberang sana bahagia. Mungkin untuk saat ini perhatianku padamu masih kurang adanya. Semoga diri bisa segera memperbaiki dan memperbanyaknya.

Adinda, kesepahaman itu sebuah proses panjang. Tak bisa hanya satu hari atau satu minggu saja. Seperti yang pernah kutuliskan, saling memahami akan terus kita lakukan sepanjang masa. Di sana ada adaptasi dua manusia dari kutub yang berbeda dan mencoba untuk hidup berdampingan, bersama, berkasih sayang dalam payung cinta kepada-Nya.

Terima kasih atas segala pemahaman. Terima kasih atas segala perkenan. Terima kasih atas segala perhatian.

Terima kasih atas segala yang bersama kita usahakan dan doakan.


Dari Kota Hujan Kedua, menantimu di batas waktu. 
Malang, 28 April 2018 05:48 

Kini Segalanya Berubah

Dahulu aku pindah ke tempat ini dengan segala harapan baru
Sebuah harap akan ketenteraman yang padu
Sebuah harap akan kesepahaman yang beradu
Sebuah harap akan kebersamaan yang syahdu

Jujur saja aku bersyukur bisa mengasuh kalian
Di antara panjangnya deret tugas harian
Di antara pinta pada-Nya yang terus dilakukan
Di antara deru waktu yang yang terus berjalan

Esok kalian akan diwisuda
Satu momen bahagia bercampur duka
Bahagia sebab jenjang pendidikan di sini telah usai adanya
Duka sebab tak akan ada lagi canda, tawa, atau pun sapa

Duhai para santriku
Berjalanlah dengan tegak menantang laju
Melangkahlah dengan tegap menghadapi hari-hari baru
Baru saja dimulai perjalanan panjangmu

Rasanya aku ingin menangis dengan tersedu
Begitu singkat pertemuanku denganmu
Begitu cepat waktu berlalu
Begitulah dunia yang terus memperagakan adegan-adegan tanpa rasa malu

Setelah ini tak akan kudengar lagi berisik suaramu
Selepas ini tak akan kudengar lagi cerewet pinta dan izinmu
Sesudah ini tak akan kudengar lagi indah suara gitar atau lantunan ayat sucimu
Setelah ini, semuanya akan terasa berbeda, tanpamu

Duhai santri-santriku
Pesanku padamu jagalah salat lima waktu
Kerjakan dengan berjamaah dan di awal waktu
Jangan sekali-kali kau ulur ia sampai akhir waktu

Duhai para santri
Lantunkan selalu senandung kalam Ilahi
Menghiasi hari-harimu tiada henti
Menyinari kalbumu yang mungkin hampir saja mati

Duhai anak-anakku
Jaga selalu akhlak kesopananmu
Sebab ia adalah bekal yang berharga bersama ilmu
Sebab akhlak adalah perhiasan indah meski tak tampak oleh mata orang di sekitarmu

Duhai anak-anakku
Tetaplah berbuat baik di segala waktu
Tak perlu pedulikan segala cela di sekitarmu
Sebab sebenarnya mereka iri akan perbuatan baikmu itu

Duhai santri terbaikku
Kenangan kita mungkin tak semanis madu
Tapi tetap saja pintaku pada-Nya tak pernah jemu
Beradu dengan doa-doa lain yang beradu padu

Selamat berjumpa kembali di lain kesempatan
Pada kesempatan yang lebih membahagiakan
Pada kesempatan yang lebih menggembirakan
Pada kesempatan yang penuh dengan rona keceriaan

Di mana pun kalian berada
Semoga kesuksesan senantiasa bertahta
Semoga kemuliaan akhlak senantiasa terjaga
Semoga usaha, doa dan tawakkal senantiasa menjadi senjata utama

Dari pengasuhmu yang senantiasa rindu
Pada sapa senyummu sepanjang waktu
Pada rengek pintamu
Pada kelucuan juga keharuan yang terus mengendap dalam kalbu

Malang, selepas tahajud di hari wisuda madrasah M3M Divergent, M2KM First Generation, 28 April 2018 04:04

Rabu, 25 April 2018

Hari Bahagia dan Puisi

Ada semburat bahagia yang menyeruak sejak pagi. Beruntung aku bangun lebih dahulu hari ini. Adinda menyapa beberapa waktu kemudian. Sepertiga malam rasanya begitu syahdu untuk meminta apa pun. Hari ini diri ini akan melaksanakan sidang proposal tesis. Satu hal yang ditunggu hampir sebulan lalu. Suntuk kala itu telah berganti bahagia yang tiada terkira. 

Selasa, 24 April 2018

Kata Maaf Untuk Cerita Masa Lalu

Bagi dua orang yang telah mengikatkan diri untuk membangun mahligai rumah tangga, tentunya tak patut untuk masing-masing kembali mengingat bahkan bercerita tentang masa lalu. Terutama cerita masa lalu yang bila diceritakan semakin membuat hubungan keduanya menjadi tidak lagi harmonis.

Senin, 23 April 2018

Write, Read, and Share Your Own Book

Hari ini adalah peringatan hari buku sedunia. Saya sendiri baru mengetahui beberapa waktu lalu melalui berbagai postingan di sosial media. Saya pastikan dengan bertanya kepada Mbah Google dan hasilnya benar.

Minggu, 22 April 2018

Katanya, Hujan Itu...

Rintik kembali turun 

Bersama berkah yang mengalun 
Membangunkan diri yang sedari tadi melamun 
Menyadarkan diri yang sedari tadi tertegun

Sabtu, 21 April 2018

Memahami Pasangan (Halal) Sepanjang Waktu

Bagi dua orang yang telah bersepakat bersatu, tentu yang disebut dengan memahami satu sama lain haruslah menjadi agenda utama sepanjang waktu. Tak mengenal batas usia.

Kamis, 19 April 2018

Mensyukuri Jarak yang Terbentang

Jarak biasanya dijadikan kambing hitam renggangnya suatu hubungan.

Rabu, 18 April 2018

Kesombongan Mementahkan Kebenaran dalam Hati

Ketika membaca ayat ini, saya teringat salah satu pertanyaan yang diajukan oleh peserta DAD (Darul Arqam Dasar) Bersama yang diadakan oleh Koordinator Komisariat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang beberapa minggu lalu. Waktu itu, saya didapuk menjadi pemateri keislaman.

Selasa, 17 April 2018

Jangan Egois

Bagi dua orang yang telah bersepakat bersama, memahami satu sama lain menjadi satu hal yang tidak bisa dimungkiri lagi. Memahami kelebihan dan kekurangan pasangan tentu menjadi keharusan sepanjang waktu. Tidak hanya ketika sebelum melangkah ke arah yang lebih serius seperti lamaran atau pernikahan. Sesudah pernikahan terjadi pun, saling memahami harus terus dilakukan. Sebab, tentu kita sama-sama paham bahwa dua manusia tidak bisa tiba-tiba sesuai dalam segala sesuatunya. Ada pemakluman di sana-sini, ada penyesuaian yang berperan. 

Senin, 16 April 2018

Perihal Diriku, jauh Sebelum Kehadiranmu

Jauh sebelum mengenalmu, atau lebih tepatnya dipertemukan oleh Pencipta denganmu, aku sudah berkali-kali, entah berapa kali aku lupa, mengetuk pintu-Nya terlebih dahulu. Memohon izin agar diperkenankan hadirnya satu rasa untuk selamanya. Satu rasa yang disukai dan diharap seluruh umat manusia di dunia ini. Rasa cinta dalam bingkai kehalalan yang disebut pernikahan.

Misi Menikah

Beberapa waktu lalu, saya mendengarkan ceramah salah seorang ustad tentang nasihat pernikahan. Buya Yahya berpesan bahwa dua hal yang harus menjadi misi utama dalam menikah adalah kedua belah pihak bersepakat untuk bahu membahu dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Minggu, 15 April 2018

Allahu Akbar, kuasa-Nya Sedang Bekerja

Berkali-kali air mata menetes untuk malam ini. Terlebih setelah membaca tulisannya tentang mimpi beberapa hari lalu. Ternyata itulah jawaban istikharah panjang ini. Aku tak menyangka mimpi itu akan hadir pada yang didamba. Siapa punya kuasa? Allah Sang Maha Sebaik-baik Perencana dan Penentu.

Tatkala Dua Keluarga Telah Berjumpa

Pagi ini masih menjadi rentetan pagi yang penuh keceriaan. Rona bahagia terus memancar dari wajah. Ada harapan yang terus menjadi pinta, ada doa yang terus menjadi semoga di antara kita berdua.

Sabtu, 14 April 2018

Tentang Menemukanmu di Antara Detik Waktu

Dahulu, kita adalah dua yang tak pernah tahu menahu tentang apa arti sebuah jumpa. Dahulu, kita adalah dua orang asing yang berjalan sendiri. Mencoba menggapai mimpi masing-masing. Dahulu, rencana-rencana kita gantungkan di langit-langit doa. Tak ada perasaan akan berjumpa dalam waktu yang cukup singkat dengan ia yang didamba.

Pertemuan Dua Keluarga

Sampailah kita berdua pada satu titik di mana dua keluarga berjumpa. Esok hari akan menjadi momen yang sangat berharga. Momen yang sudah sangat ditunggu-tunggu, olehku dan olehmu.

Jumat, 13 April 2018

Obat Rindu Itu Kamu

Hari ini kembali menjadi hari paling membahagiakan dalam hidup saya. Pertemuan pertama sejak seminggu lebih sekian hari ini benar-benar berkesan. Jujur saja, adinda terlihat jauh lebih memesona dari yang saya kira. Cara bicaranya, cara makannya, cara duduknya, caranya berinteraksi dengan saya. Terlebih, saya dapat kesempatan menemaninya belanja di salah satu pusat perbelanjaan kota. Satu hal yang cukup seru dan tak terduga.

Kamis, 12 April 2018

Mengobati Kerinduan dengan Perjumpaan (1)

Sepertinya hari ini menjadi hari yang sangat bahagia bagi saya. Saya pulang dari Malang menuju kampung halaman dengan senyum yang terus saja tersungging. Entah mengapa, mungkin karena memang suasana pulang kali ini sedikit berbeda.

Tentang Perjumpaan dan Rasa Percaya

Ada yang tidak tenang ketika dua insan yang dimadu cinta belum pernah berjumpa. Paling tidak bertatap mata, sekejap percakapan, dan seulas senyum yang terlempar akan mencairkan suasana. Ah, mungkin benar kata para pujangga. Bahwa obat dari rindu adalah jumpa dan sua.

Mari Berdiskusi untuk Memecahkan Masalah

Duhai adinda, jujur saja sejak menyatakan rasa padamu sore itu, ada kemelut dalam hati dan jiwa. Bukan tentang petemuan yang belum tercipta, tetapi perihal bagaimana setelah janji suci terucap. Adinda mungkin berada pada satu posisi yang sulit. Sebagai anak semata wayang, tentu berat untuk meninggalkan kedua orang tua. Itu adalah satu pintamu tatkala azan zuhur akan berkumandang. Keinginan lainnya adalah adinda tetap bekerja di persyarikatan sebab ada rasa kompak yang tertinggal, ada kekeluargaan yang menjadi magnet dan berat hati bila harus meninggalkannya. 

Rabu, 11 April 2018

Perihal Menemukanmu

Terkadang berpikir tentang jodoh itu unik ya. Ada yang bertahun-tahun menjalin hubungan, pergi ke sana-kemari, jalan-jalan ke berbagai tempat yang indah. Tetapi bila memang belum diperkenankan, maka ia akan terhenti di tengah jalan.

Mari Saling Memahami

Ketika janji suci telah terucap, ketika buliran restu terus mengalir, ada tanggung jawab berat di baliknya. Hal itulah yang perlu dipahami oleh kedua belah pihak. Ketahuilah dik, ketika kita  memutuskan untuk menikah, maka seorang suami harus selalu mendahulukan ibunya. Tapi tenanglah, ibumu juga tetap aku perhatikan. Kuharap kamu siap kembantuku untuk terus berbakti kepada orang tuaku. Tenang, aku pun akan siap membantumu mewujudkan baktimu kepada kedua orang tuamu.

Aku akan rela mendengarkan celotehmu sepulangku dari kerja. Ingatkan saja kalau aku lupa adinda. Lalu, kita makan malam bersama, syahdu. Ditemani canda tawa juga cerita seharian dariku. 

Aku paham bahwa adinda sebagai anak satu-satunya akan rindu berat dengan orang tua. Kau boleh mengunjunginya. Ajak Mas ya dik. Biar kita bisa sama-sama berbakti kepada kedua orang tua kita dengan maksimal. Orang tuaku adalah orang tuamu, pun orang tuamu adalah orang tuaku juga. 

Mari saling terus memahami bahwa kita berdua berasal dari galaksi yang berbeda. Sekian tahun kuhabiskan bersama keluargaku, dirimu juga menghabiskan sekian masa dengan keluarga besarmu. Tapi ketika aku dan kamu telah menjadi kita, berjanjilah untuk terus mengisi kekurangan diri. Berjanjilah untuk saling meningkatkan kapasitas diri. Kekurangan diciptakan bahwa sebagai hamba, ada sisi kosong yang dapat diisi dengan kelebihan-kelebihan lainnya. Adapun kelebihan yang ada mestinya digunakan untuk disebarkan kepada mereka yang membutuhkannya. Jangan hanya dinikmati seorang diri. 

Adinda, mari jadikan rumah tangga kita adalah representasi rumah tangga islami dan surgawi. Keluarga yang merepresentasikan keluarga penuh kerendahan hati dan terus mensyukuri nikmat Ilahi. Putar saja tilawah kalam Ilahi itu. Mari membiasakan mendengarkannya. Supaya kelak anak-anak kita terbiasa mendengarnya bahkan sampai dewasa. 

Selanjutnya, mari hiasi rumah kita dengan bacaan Alquran. Sebab bila tidak, ia semacam kuburan, gelap, tak bercahaya. Malaikat enggan sekadar untuk melihatnya. Kemudian, biasakan pula untuk mendengarkan berbagai kajian keislaman dan hal-hal positif supaya terbentuk miliu keluarga pecinta ilmu. Mari saling mengingatkan, tanpa ada rasa jenuh dan bosan. 

Kemampuan saling memahami satu sama lain memang sangat penting. Bila ada silap kata dari diri, ingatkan dengan lemah lembut. Sebaliknya, bila kudapati padamu ada kekurangan, aku harus lapang dada menerimanya, bersama kita terus perbaiki. Mari terus bersinergi dalam kebaikan, menciptakan mahligai rumah tangga penuh ketenangan, cinta kasih dan juga penuh rahmat. 


Selasa, 10 April 2018

Tentang Kepastian (Sebuah Renungan atas Jawabmu)

Ada yang tercekat di antara aksara yang terucap.
Ada kecemasan dalam harap.
Ada kegundahan dalam ratap.
Namun kini segalanya terjawab dengan mantap.

Kenikmatan Ini Juga Ujian

Bagaimana seharusnya seorang hamba Allah bersikap atas karunia nikmat yang tiada terbatas? Lantas bila kebahagiaan itu hadir di depan mata, akankah ekspresi kebahagiaan itu terlampau berlebihan? 

Senin, 09 April 2018

Mari Terus Saling Menjaga

Sore ini, skenario semesta sedang bermain. Didukung sebesar usaha yang dilakukan, juga doa yang dipanjatkan. Seakan takdirnya sedang berperan tanpa sungkan. Mempertemukan dua insan pada sebuah kesempatan. Menjadi begitu indah dan menawan. 

Perihal Karya dan Kepastian

Perihal menulis buku itu, mari segera kita diskusikan. Untuk tulisan-tulisan kita beberapa hari ini sebenarnya bisa juga dimasukkan ke dalamnya. Kita tinggal menggabungkannya, menyusunnya dengan padu lantas berulang kali membaca sambil mengoreksinya. Baiklah, akan kita mulai dengan segera. Masalah teknisnya kita bahas kemudian.

Minggu, 08 April 2018

Mengikat Cinta dalam Karya

Di sela-sela tugas kerja yang menumpuk. Di antara tanggungan tugas akhir yang membuat suntuk. Selalu kuingin menyapamu dalam tulisan-tulisanku. Apa pun yang bisa kutulisankan untukmu.

Persiapan Menempuh Perjalanan Terpanjang

Kita sudah sama-sama dewasa. Setelah jenjang sarjana didapat, tentu ada tanggung jawab yang harus diemban. Sebab memang begitulah kewajiban seorang sarjana.

Berani Bilang Tidak

Seminggu yang lalu, salah seorang adik kelas memohon bantuan kepada seorang kakak kelas yang dianggapnya mampu menyelesaikan masalahnya. Sebut saja adik kelas itu bernama Ayu dan kakak kelas bernama Indra. Indra mahir dalam menerjemah. Ayu butuh bantuan Indra untuk menerjemahkan beberapa tugasnya ke dalam bahasa Arab. Saat itu Indra menyanggupinya.

Pada Suatu Senja

Di kala langit semakin menjingga
Di kala malam sudah semakin dekat datangnya
Di saat itulah kelelahan menjelma
Saat itulah rinduku hadir tiba-tiba

Rindu pada kediaman di desa
Rindu pada orang-orang di seberang sana
Rindu pula pada adinda
Sebab raga belum pernah bersua

Di balik awan yang terus berarak
Di antara kawanan burung dengan sayap terkepak
Ingin segera kukatupkan kedua kelopak
Sebab lelah diri sudah tampak

Tiba-tiba kuingat tugas-tugas tergeletak di meja
Rapat-rapat yang menguras tenaga
Kesibukan yang tiada akhirnya 
Juga berjubel-jubel pikiran yang menyita

Begitulah kehidupan dunia
Penuh nikmat dan coba
Terus bergantian hadir memberikan warna
Menguji kesetiaan hamba kepada Sang Pencipta

Tapi begitulah kehidupan dunia
Ia tiada kekal, tetapi fana adanya
Jangan sampai kita terlena
Persiapkan segalanya untuk kehidupan di akhirat sana

Kota Sejuta Rindu
Malang, 8 April 2018

Sabtu, 07 April 2018

Bagaimana Aku Tidak Rindu?

Pada kata yang berbaris sempurna 
Pada diksi kata yang begitu memesona 
Pada rima kata yang tertata
Bagaimana aku tidak merindukannya? 

Memaknai Kembali Keberislaman Kita (Bagian 1)

Hari ini saya merasa beruntung sekali. Mengapa? Lantaran saya bisa kembali mengisi materi pada salah satu acara organisasi yang pernah saya geluti selama kuliah sarjana. Saya diberi kesempatan mengisi materi keislaman pada DAD (Darul Arqam Dasar) Bersama Koordinator Komisariat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kali ini, saya berangkat pukul enam lewat sebab saya mengisi materi pukul 7.15. Beruntung, saya sampai di lokasi DAD pada pukul 7 pagi. Saya beristirahat sebentar sebelum akhirnya masuk forum. 

Seperti biasa, panitia menghampiri saya, mengajak saya berdiskusi hal-hal menarik. Bisa seputar Muhammadiyah maupun hal-hal lainnya.  Saya isi daftar riwayat hidup sebelum masuk ruangan. Tepat pukul 7.15 saya masuk ruangan. Saya nyalakan laptop dan membuka slide materi yang akan saya sampaikan. Saya merasa kali ini akan jauh lebih baik dan menarik daripada yang sudah-sudah. 

Saya awali materi dengan perkenalan diri saya. Kalau kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Saya jelaskan riwayat pendidikan, prestasi, pengalaman organisasi, juga karya-karya selama S1 dan S2. Tak lupa berbagai media sosial yang saya miliki juga saya perkenalkan kepada seluruh peserta. Bukan bermaksud apa-apa, hanya sedikit memotivasi bahwasanya sebagai insan yang dikaruniai banyak kenikmatan, hendaknya kita bisa memanfaatkannya dengan baik melalui berbagai aksi positif seperti berprestasi di bidang yang kita sukai dan lain sebagainya.

Setelah dirasa cukup, saya baru masuk ke materi utama. Pertama saya jelaskan mengenai syahadatain. Mulai makna syahadatain di mana syahadatain yang kita kenal terbagi ke dalam dua macam, yaitu syahadat tauhid (asyhadu an laa ilaaha illallah) dan syahadat Rasul (asyhadu anna Muhammadur Rasulullah). Laa ilaaha illallahu mengandung dua makna utama, yaitu peniadaan (laa ilaaha) dan penetapan (illallahu). Peniadaan berarti kita meniadakan Tuhan-tuhan selain Allah. Kita hanya meyakini Allah sebagai satu-satunya tuhan yang berhak disembah dengan haq (benar). Sedangkan makna penetapan adalah menetapkan bahwa Allah adalah satu-satunya yang patut untuk disembah. Salah satu dalil termaktub dalam Al-Quran surat Al-A'raf ayat 59 yang artinya,  

"Telah Kami utus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat)"

Adapun makna syahadat Rasul adalah mengikrarkan dengan lisan dan mengimani dnegan hati bahwa Muhammad adalah Rasul Allah kepada semua makhluk dan mengamalkan konsekuensinya, menaati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, sebagaimana firman Allah surat Al-A'rof ayat 158 yang artinya, 

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada sesembahan selain Dia, yag menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”

Selanjutnya masuk ke dalam rukun syahadatain. Untuk syahadat tauhid (Laa Ilaaha Illallah) sesungguhnya sama dengan makna syahadat yang saya jelaskan di awal yaitu mengandung dua makna. Makna peniadaan dan makna penetapan. Sedangkan syahadat Rasul memiliki dua sisi, yaitu abdun dan Rasul. Sebagai abdun (hamba), hendaknya kita memandang Rasulullah sebagai manusia biasa yang tidur, makan, minum, menikah, dan sebagainya. Sebagai utusan Allah, Rasulullah memberikan hak beribadah kepada Allah, bukan kepada yang lain. Selain itu, hendaknya kita menjauhi sifat ifrath (melebih-lebihkan) dalam artian sampai mengkultuskan beliau, kemudian menjauhi juga sifat tafrith (meremehkan). Lantas, sebagai Rasul, beliau adalah orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah, pemberi kabar gembira bagi mereka yang berbuat amal kebajikan dan pemberi peringatan bagi mereka yang berbuat kemungkaran dan ksyirikan. 

Maka, sebagai konsekuensi dari Laa Ilaaha Illallah adalah meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala macam yang dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah. Beribadah kepada Allah tanpa syirik sebagai konsekuensi penetapan Illallah. Kemudian konsekuensi syahadat Rasul adalah menaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang dilarang, bid'ah dan muhdatsat, serta mendahulukan sabdanya di atas pendapat yang lain. 

Selanjutnya saya jelaskan mengenai tauhid. Secara umum pengertiannya adalah meyakini Allah dalam rububiyyah, ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-Nya. Sehingga dari pengertian tersebut akan muncul tiga macam tauhid, yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma wa sifat. 

Kalimat Laa Ilaaha Illallah merujuk pada tauhid uluhiyyah. Kita percaya bahwa tiada yang berhak untuk disembah kecuali Allah SWT semata. Maka, seluruh ibadah yang dikerjakan hanya kepada-Nya, bukan kepada yang lain. Rasulullah menjamin darah dan harta kaum muslimin dengan syarat mengucapkan laa ilaaha illallah dan mengingkari segala sesembahan selain Allah. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang berbunyi, 

"Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungannya) adalah terserah kepada Allah." (HR. Muslim)

Sedangkan menurut salafus saleh, tauhid uluhiyyah terealisasi dengan dua prinsip yaitu, a) semua jenis peribadatan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya, dan tidak boleh diberikan kepada makhluk sedikit pun dari hak-hak dan kekhususan Sang Pencipta; b) ibadah tersebut selaras dan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.  

Tauhid Rububiyyah berarti meyakini bahwa Allah yang menciptakan, memberi rizki, mengatur segala sesuatu yang terjadi. Intinya tauhid ini berkaitan dengan keimanan kepada perilaku Allah. Maka, orang non-muslim pun meyakini hal ini. 

Adapun tauhid asma wa sifat adalah percaya bahwa seluruh nama-nama Allah dan sifat-Nya yang tertera dalam Al-Quran dan hadis sohih itu benar adanya. Lantas menetapkan sifat-sifat tersebut hanya kepada Allah saja, dalam bentuk yang sesuai dan layak bagi-Nya, tanpa tahrif (perubahan), tanpa ta'thil (peniadaan), tanpa takyif (bertanya bagaimana), dan tanpa tamtsil (penyerupaan). Sebab sebagaimana firman Allah yang artinya, "maka tiada sesuatu yang serupa selain Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS. Asyura: 11). 

Untuk materi selanjutnya tentang Islam dan kepribadian seorang muslim sejati akan saya sambung pada postingan selanjutnya. Stay tuned ya!

 

Jumat, 06 April 2018

Ketika Kegundahan Bertahta

Duhai adinda
Tak perlulah bermuram durja
Sebab berbagai peristiwa yang menimpa
Belum sesuai dengan apa yang dicita

Sebagai manusia
Kita hanya diminta untuk terus berusaha
Diiringi doa dan berserah kepada-Nya
Percayalah janji-Nya selalu benar adanya

Duhai adinda
Jangan lagi ada dalam dirimu kecewa.
Sebab Dia pernah berkata
Jangan pernah ada rasa putus asa dari rahmat-Nya

Ketika cita belum berbuah sebagaimana mestinya
Di sanalah kita diminta mengoreksi kekurangannya
Sebab hidup ini adalah kumpulan rencana
Yang dilaksanakan dan dievaluasi dengan segera

Pada suatu senja
Di bawah kepak burung di cakrawala
Kutitipkan kata-kata bermakna
Lewat puisi pelipur lara

Untuk kesekian kalinya
Jadilah dirimu wanita bermental baja
Jangan lagi cengeng dan mengerutkan dahi saja
Sebab melihatmu kecewa tiadalah kusuka

Dari Kota Bunga
Kurajut untukmu berbaris-baris kata
Berharap semangatmu kembali membara
Seusai lelah yang terus saja mendera

Malang, 6 April 2018

Menengadahkan Doa di Sepertiga Malam

Di antara dengkuran manusia
Yang nyenyak dalam tidurnya
Di antara kesunyian suasana
Yang membuat hati tenang dengannya

Kamis, 05 April 2018

Berdoalah Ketika Hujan!

Apa yang biasa kamu lakukan ketika hujan turun dengan derasnya? Menggerutu sebab pakaian yang dijemur basah lagi? Mencaci maki sana sini sebab tak dapat pulang kerja tepat waktu? Astaghfirullah, semoga saja tidak demikian. 

Mari Saling Berebut untuk Mengalah

Dalam menjalani kehidupan rumah tangga nanti tidak selamanya mulus dan berjalan lurus. Batu terjal seringkali menghalangi langkah-langkah kecil kita dalam membangun mahligai rumah tangga. Tapi tak mengapa sebab hidup memang kelindan antara nikmat kebahagiaan dan sedih kegelisahan. Mari bersama menghadapi keduanya dengan bergandeng tangan. 

Memaknai Pagi

Fajar telah lama menyingsing sedari tadi
Mentari telah gagah berdiri
Langkah-langkah insan ia temani
Beriring keberkahan yang tercurah dari Ilahi

Bersyukur atas karunia kehidupan
Yang senantiasa diberikan
Tak cukup hanya ucapan lisan
Namun perlu dibuktikan dengan perbuatan

Setiap insan Tuhan
Harus mau mengabdi dengan penuh keikhlasan
Jangan pernah turuti bisikan setan
Atau kau akan terjerumus perlahan-lahan

Bangunlah semangat dari dalam dirimu sendiri
Sebab sekitarmu terkadang tak lagi peduli
Mereka lebih banyak mencaci segala yang diperbuat diri
Maka atas perlakuan mereka jadikanlah telingamu tuli
.
Bersama awan-awan yang berarak
Juga laku diri yang terus bergerak
Bersama sayap burung yang berkepak-kepak
Mari terus berkarya dengan kompak

Kepadamu yang disemogakan
Jadilah pribadi menawan
Bersama doa-doa yang dimohonkan
Berharap kebaikan terus berkelindan

Dari insan yang masih sering alpa
Dari tempat yang senantiasa didamba
Dari hati yang terus saja meronta
Tentang indahnya sebuah jumpa

Malang, kota sejuta rindu
Untukmu yang setia menunggu
Dari kawan karibmu
5 April 2018

Rabu, 04 April 2018

Tentang Pertemuan dan Surat Balasan

Sebagai hamba, saya berpikir tentang betapa kuasa Allah atas segalanya. Tangan-tangan takdirnya memang terlampau sempurna. Ini tidak berlebihan, sebab memang begitulah seharusnya. Karena ia adalah Sang Maha Segala-galanya. 

Tentang Berpuisi

Di antara kesibukan yang melanda
Di balik gemintang yang bersinar terang sehabis senja
Balasan-balasannya terus menginspirasi karya
Kata-kata dan diksinya tak pernah terduga
.
Pada kesempatan yang kesekian kali
Aku masih terus mencoba menggali
Mengenali kebenaran rasa dalam hati
Sambil terus menyandarkannya pada Ilahi
.
Mari terus berpuisi
Mengulik makna di balik diksi
Berharap semua harap itu menjadi pasti
Tanpa keragu-raguan dalam hati


Malang, 4 April 2018

Selasa, 03 April 2018

Belajar Memaafkan

Di sebuah negeri antah berantah, ada sebuah kerajaan yang berdiri dengan megah. Raja dan ratu memiliki beberapa pegawai kerajaan yang sangat dibanggakan. Suatu hari, salah satu pegawai, sebut saja Nirah. Ia diberi tugas oleh sang raja untuk membuat jamuan makan untuk rakyatnya. Nirah pun meminta bantuan pegawai yang biasa memasak untuk mempersiapkan segala halnya. 

Cukuplah Seperti Itu

Saat baris-baris puisi dirampas oleh indahmu
Saat nada-nada lagu berisikan dirimu
Saat rintik hujan dan guntur beradu
Saat itulah aku bersyukur dapat mengenalmu
Duhai putri kebanggaan ayah dan ibu
.
Tapi aku akan selalu maklum pada khilafmu
Aku pun paham akan kekurangan dirimu
Aku siap menerima apa pun adanya kamu
Tanpa perlu ada rasa ragu
.
Kamu tak perlu bersolek layaknya putri melayu
Atau bergincu merah sembari merayu
Sebab pesonamu selalu saja berkilau
Oleh basuhan wudhu dan zikir yang didendangkan selalu
.
Pesonamu selalu terpancar
Mengalahkan matahari yang pagi ini berpijar
Izinkan diri ini belajar
Tentang makna ikhlas dan sabar
.
Akhlakmu mendebarkan hati
Tutur katamu menggetarkan diri
Kau layaknya bidadari
Begitu bersih dan suci
.
03082018 #puisi #foryou

Senin, 02 April 2018

Salam Dari Kota Hujan Kedua

Masih tentangmu 
Tak akan habis kutuliskan dalam berjuta buku 
Selalu muncul kosa kata baru untuk melukiskanmu
Senantiasa ada nada-nada cinta dan rindu

Hari-hariku penuh dengan puisi 
Mengisahkan pertemuan dua insan tuk saling mengisi 
Hendak melengkapi namun tidak mendominasi
Saling berkompetisi tetapi tidak menjatuhkan di satu sisi 

Dua insan mencoba menggulirkan cerita 
Di antara diksi berjuta makna 
Di antara prosa dan puisi yang beradu mesra 
Berharap keduanya dipertemukan semesta 

Di antara genangan hujan yang baru saja reda
Di antara desir angin malam kota hujan kedua 
Di antara deret kata yang coba kurangkai menjadi kalimat bermakna 
Di antara lagu-lagu cinta yang terputar begitu saja 
Kusampaikan salam rindu padamu
Semoga malammu senantiasa diliputi hal-hal indah nan syahdu 
Selamat istirahat saudariku

Dariku, 
Sekian ratus kilometer dari tempatmu berada 
2 April 2018 

Korelasi Akhlak dan Prestasi

Kemarin pagi, saya menjaga kantor. Meski terlambat, saya cukup diuntungkan sebab tidak begitu banyak tamu yang hadir. Maklumlah, santri kelas X dan XI masih liburan sampai sore. Sekitar pukul 10 pagi ibu santri kelas XII bertamu ke kantor. Semabri menunggu anaknya datang, beliau bercerita panjang lebar mengenai perjalanan hidup anaknya. 

Hujan Siang Ini


Langit kembali menghitam. Awan mendung merangkak sepanjang cakrawala. Sepertinya rintik sudah tak sabar ingin bertemu kekasihnya. Bumi pun telah siap menerima tumpahan rindu dari langit.

Suasana Pagi Hari

Fajar belum terbit
Dering alarm gawai nyaring terdengar 
Berharap empunya segera bangun
Bukan untuk mematikannya lantas tidur kembali
Tetapi mematikannya lalu mengambil wudhu untuk bersuci
.
Tak lupa menggelar sajadah
Bertafakur atas dosa dan salah
Seraya tangan menengadah
Semoga rahmat Allah senantiasa tercurah
.
Azan subuh bertalu-talu
Manusia terbagi menjadi dua kubu
Yang satu semangat ke masjid dengan menggebu
Sedang lainnya dengan selimut mereka kembali beradu
.
Duhai diri
Bangunlah pagi-pagi
Hirup udaranya yang menyegarkan
Udara yang bersih dari napas kamunafikan
.
Selepas subuh yang syahdu
Mari lanjutkan untuk membaca kalam-Nya dengan merdu
Tenggelam dalam makna yang bersatu padu
Menggugah hati untuk semangat selalu
.
Di pagi yang indah ini
Izinkan diri menyapamu
Semoga segala hajat tercapai
Dipenuhi keridaan dari Tuhan-Mu
.
Malang, 2 April 2018

Minggu, 01 April 2018

Hadirmu Mengalihkan Orbit Semestaku

Sejak kehadiranmu kemarin sore
Aku tak henti-henti berseru
Benarkah ini yang kucari?
Benarkah ini yang ditakdirkan oleh-Nya?
.
Meski raga belum pernah berjumpa
Meski mata belum pernah bersitatap
Bukan berarti kita tak mampu saling mengenal
Bukan berarti tak mampu saling memahami satu sama lain
.
Hadirmu membawa asa
Hadirmu memorakmorandakan orbit semesta
Hadirmu membuatku perlahan mengubah arah
Hadirmu mengusik mimpi indah
.
Tapi tak mengapa
Asal karenamu aku rela
Yang pastinya juga didasari oleh-Nya
Bukan karena nafsu atau cantikmu saja
.
Gundahku hilang sebab dirimu
Semangatku meluap-luap karenamu
Malam-malam kuhabiskan melahap tulisanmu
Dan tiap pagi kuseruput kopi sembari membaca tulisanmu
Lagi dan lagi
.
Di penghujung bulan ketiga
Di pembuka bulan keempat
Kau hadir menghangatkan suasana hati
Kau hadir menguatkan hati yang telah berkali-kali patah ini
.
Terima kasih
Di percakapan selanjutnya
Mungkin aku akan semakin sering berpuisi tentangmu
Tak akan habis kata untuk melukiskan indahmu
Tak purna cerita bila tanpamu di dalamnya
.
Dik, bolehkah aku memanggilmu semacam itu?
Aku tak tahu
Semenjak membaca tulisanmu
Kurasa pencarianku berakhir padamu
Akan segera kumantapkan langkah menujumu 

.
Bila niat ini suci karena-Mu
Izinkan hamba menujunya dengan keridaan-Mu
Tuk mengucap janji suci itu 
Memutuskan langkah untuk bersatu 
.
Meski kutahu 
Akan selalu ada batu terjal menghalau 
Tetapi aku begitu yakin pada-Mu 
Bahwa janjimu untuk menuntun kami tak pernah membuat hati risau
.
Malang, 1 April 2018

Telepati Hati

Pernah nggak ketika di pagi buta, sebelum subuh menjelang, kau ditelpon ayahmu untuk salat malam? Bagi saya itu spesial. Meski setelahnya ditanya tugas akhir itu tak jadi masalah. 

Rahasiakan Cinta Suci Ini

Sayang, bila kita dipersatukan dalam ikatan cinta suci ini, mari awali dengan niat karena-Nya. Aku akan mengkhitbahmu segera. Semoga kamu sabar menunggu di sana. Bila khitbah telah dilaksanakan, tak perlulah kita umbar kabar itu ke mana-mana layaknya orang berjualan barang di pasar. Cukup kita rahasiakan di antara dua keluarga besar. Bukankah begitu yang disabdakan Nabi? 

Penulis dan Organisatoris

Baru-baru ini 
Kumengenal seorang putri 
Tak sekadar rupawan parasnya 
Tetapi dirinya memancarkan aura 
Hobinya menuliskan kisah bermakna 
Ia pun ahli dalam beretorika 

Semenjak memasuki usia berkepala dua 
Selalu menarik membahas perihal cinta 
Pernikahan, komitmen, pertautan rasa 
Menjadi topik terpanas bagi para pemuda 

Sejak bertemu dengannya
Jujur saja
Aku tak kuasa lagi membendung rasa 
Puisi-puisi seketika tercipta 
Prosa-prosa yang terjeda 
Kembali menemukan bahan bakar untuk melanjutkan cerita 

Beginikah cinta? 
Yang diagungkan para pujangga 
Menginspirasi lirik lagu berteman nada 
Menjadi ide para penulis pemula bahkan yang telah melegenda 

Cinta 
Banyak orang mencoba menafsirkan artinya 
Sungguh, ia hanya mampu dirasa oleh hati dan jiwa 
Jiwa yang bersih dan senantiasa bersimpuh di haribaan-Nya

Terima kasih telah membukakan pintu 
Bagi diri yang masih baru 
Mencoba memasuki kehidupanmu 
Semoga penyesalan tak pernah bersarang dalam hatimu

#01042018 #MA #UR 
Back to top