Hari Bahagia dan Puisi

Ada semburat bahagia yang menyeruak sejak pagi. Beruntung aku bangun lebih dahulu hari ini. Adinda menyapa beberapa waktu kemudian. Sepertiga malam rasanya begitu syahdu untuk meminta apa pun. Hari ini diri ini akan melaksanakan sidang proposal tesis. Satu hal yang ditunggu hampir sebulan lalu. Suntuk kala itu telah berganti bahagia yang tiada terkira. 

Kujalani hari ini seperti biasa. Kubangunkan subuh para santri kemudian salat subuh di masjid. Usai membangunkan untuk kali kedua kuputuskan untuk kembali ke kamar untuk mengkaji ayat-ayat Ilahi. Mendamaikan hati yang kadang-kadang gusar dan risau. Menjelang siang, aku bersih diri dan bersiap berangkat ke sekolah. Pagi ini saya mendapat jadwal menerima setoran tahfid Alquran di kelas X IPA 3. Agenda bulanan ini memang tidak dapat ditebak kapan. Jadi, harus siap sedia di setiap hari aktif. 

Agenda setoran tahfid selesai sekitar pukul delapan. Aku sengaja mengakhiri kelas lebih awal. Pertama sebab semua anak sudah setor hafalan dan kedua tentu saja karena saya belum sarapan. Bergegas diri menuju dapur untuk sarapan lalu menyeruput teh hangat yang tersedia. Selepas itu, kupersiapkan diri untuk menghadapi agenda besar tengah hari nanti. Kubuka kembali file presentasi seminar proposal tesis. Aku menambahkan beberapa hal penting, mencetak beberapa referensi yang sekiranya akan menguatkan argumen, dan hal-hal penunjang lainnya. Menjelang pukul 11 siang aku berangkat ke kampus pascasarjana di Batu. 

Sampai di sana, aku langsung menuju gedung B. Kuperhatikan beberapa teman yang sedang melangsungkan seminar proposal. Kucek gawai, ada foto tulisan tangan adinda juga video semangat supaya diri dimudahkan dalam seminar proposal. Satu kesyukuran kembali terucap. Menjelang pukul 12 aku malah banyak mengobrol dengan Mas Imam yang kebetulan hadir. Juga dengan beberapa teman satu kelas. 

Akhirnya, keluarlah Ady, teman satu kelas yang seminar proposal sebelumku. Aku pun memasuki ruangan, menandatangani berita acara seminar proposal dan mempersiapkan file yang akan dipersentasikan. Aku presentasikan selama sekian menit. Yang kuingat hanya menyampaikan bab 1 dan bab 2. Bab 3 belum tersampaikan. Lalu, kudengarkan masukan dari penguji utama, Usth. Umi Mahmudah. Sekiar lima belas menit beliau memberi saran ini dan itu. Dilanjutkan masukan dari ketua penguji yang datang beberapa saat setelah Usth. Umi Mahmudah menyampaikan saran kepadaku. Ketua penguji banyak mencuri perhatianku sebagai mahasiswa. Mengulik informasi seputar proposal dengan cukup detail lantas berdiskusi bersama dengan pembimbing tesisku. Akhirnya diputuskan untuk mengubah judul yang awalnya terkesan umum menjadi lebih khusus. Dalam hati, saya bersyukur dan berharap tesis akan selesai lebih cepat dari yang saya bayangkan sebelumnya. 

Selepas mendengar semua masukan dan mencatatnya di buku catatan khusus, aku undur diri. Kutemui teman-teman di luar ruangan. Ada Mas Faizal, Efi, dan beberapa teman sekelas. Saya kaget ketika dikasih tahu Efi bahwa Ustadzah Titin, guru bahasa Arab di MAN 2 Kota Malang hadir di tempat ujian. Saya masih belum percaya. Saya melirik dari pintu ruang ujian yang sedikit terbuka dan akhirnya yakin bahwa beliau memang Ustadzah Titin. Setelah keluar ruangan, saya, Efi dan Ustadzah Titin menyempatkan foto bersama. Hitung-hitung kami berdua sebagai murid beliau dapat bertemu pada momen yang tak disangka-sangka. Saya dan Ustadzah Titin melaksanakan seminar proposal, sedangkan Efi sedang menunggu jadwal seminar proposal. 

Kami pun berpisah setelahnya. Saya salat Zuhur dan berbincang dengan Ady tentang banyak hal. Kami berdua memutuskan untuk menunggu Haeriyah keluar dari kelas. Tiba-tiba Bu Ida datang bersama suaminya. Saya, Haeriyah, Fitri dan Bu Ida berfoto bersama di depan gedung B. Bahagia rasanya. Lantas kami berpisah sesudahnya. 

Sore dan malam hari kuhabiskan di depan komputer menyelesaikan tanggungan menerjemah abstrak dan menyiapkan transkrip kelas XII. Meski sampai malam ini tak banyak tulisan yang belum tertulis. Puisi dan prosa entah hilang ke mana. Sepertinya mereka libur sejenak. Apa mereka terlalu bosan disapa sepanjang waktu. Ah, sepertinya tidak. Manusianya saja yang memang terkadang jemu. 

Tapi, akan kucoba tuliskan selarik puisi malam ini. 

Tentang Rahasia 
Ada tanda tanya yang membersamai kabar  
Ada rahasia yang sepertinya telah terumbar
Tentang pertemuan dua anak manusia oleh Sang Maha Besar 
Tentang kepastian yang telah dilangitkan bersama doa penuh debar 

Aku tak tahu siapa yang melakukannya 
Aku, kamu, atau juga orang-orang terdekat kita 
Aku sendiri dibuat kesal olehnya 
Tahu sendiri kan menjaga rahasia ini tak mudah adanya 

Teruntuk adinda di seberang kota 
Usahlah gusar tentang apa yang sekitar dikata 
Dalam lubuk hati, amini saja
Tak perlu mengulik lebih jauh bagaimana kabar itu sampai padanya

Ada prasangka yang merasuk 
Ada praduga tak beralasan yang tiba-tiba masuk 
Padahal kita tak pernah tahu bagaimana pastinya 
Padahal kita hanya mereka-reka dan menduga 

Di tengah rutinitas yang semakin padat 
Di balik rembulan yang malu-malu di sebelah barat 
Di antara riuh kota yang tak lagi memeluk hangat 
Semoga adinda senantiasa diberi kesabaran dalam taat 

Dari Kota Sejuta Rindu 
Kunantikanmu di akhir minggu 
Semoga perjumpaan itu tak semu 
Semoga sua itu menjadikan hati semakin menyatu 

Malang, 25 April 2018 23:18

Komentar