Jangan Egois

Bagi dua orang yang telah bersepakat bersama, memahami satu sama lain menjadi satu hal yang tidak bisa dimungkiri lagi. Memahami kelebihan dan kekurangan pasangan tentu menjadi keharusan sepanjang waktu. Tidak hanya ketika sebelum melangkah ke arah yang lebih serius seperti lamaran atau pernikahan. Sesudah pernikahan terjadi pun, saling memahami harus terus dilakukan. Sebab, tentu kita sama-sama paham bahwa dua manusia tidak bisa tiba-tiba sesuai dalam segala sesuatunya. Ada pemakluman di sana-sini, ada penyesuaian yang berperan. 

Tetapi, terkadang egois menguasai diri. Terlebih bagi mereka yang merentang jarak, tak bisa selalu bersama sepanjang waktu. Tidak bisa saling memandang dan berbicara atau berbagi kisah selamanya. Maka, sesekali diri lupa. Merutuki jarak yang sesungguhnya tak bersalah sama sekali. 

Kadang diri juga seperti itu. Tatkala masalah datang menerpa bertubi-tubi. Di saat tumpukan tugas ini dan itu tiada dapat dihentikan. Di sanalah hadir rasa bosan, malas, capek, dan berbagai rasa kesal lainnya.

Tidak tahu kenapa, tiba-tiba ada yang peka. Bukan diri sendiri, tetapi seseorang di seberang sana yang memang sangat peduli. Kadang, saya sendiri masih menikmati perjalanan hidup layaknya belum pernah terikat dengan seseorang yang layak dinanti. Menikmati kesendirian dengan masalah yang terus saja hadir. 

Entah bagaimana ia tahu. Sebenarnya masalahnya tidak terlalu besar. Tetapi, ia menawarkan diri untuk bercerita. Ya sudahlah, supaya tak muncul praduga yang bermacam-macam, akhirnya kuberanikan diri menghubunginya via suara. Kudengar kembali suaranya setelah satu hari tidak mendengar suaranya yang merdu. Kehangatan itu tiba-tiba hadir. Kemalasan itu juga hilang. Buncah semangat adalah satu virus yang menular dari lembut suaranya. Ia menenteramkan, ia mendamaikan, ia melapangkan kegundahan hati yang sedari pagi bercokol tak mau pergi. 

Meski mengambil waktu yang tidak sebentar, terlebih di kala diri belum bersantap malam, tetapi tidaklah mengapa. Sebab aku sendiri yang memintanya untuk menghubungiku. Rasa-rasanya tak enak bila menghentikan pembicaraan tatkala cerita memang belum seharusnya disudahi. 

Terima kasih atas segala perhatian dan cinta selama setengah bulan ini. Kuharap rasa ini terus bersemi sampai kapan pun. Perhatian-perhatian kecil memang terkadang perlu untuk sekadar mencairkan suasana. Ketegangan-ketegangan yang terjadi juga bisa diluluhkan dengan melempar canda supaya tercipta tawa. Ah, mungkin saya sendiri masih belum terlalu pandai masalah ini. Tenanglah, saya tak akan bosan belajar hal apa pun demi menyenangkan ia yang saya cinta. 

Dari Kota Hujan Kedua 
Teruntuk adinda yang selalu dirindu senyumnya 
Jangan pernah bosan menemani kakanda 
Membersamai dalam suka maupun duka 

Malang, 17 April 2018

Komentar