Kesombongan Mementahkan Kebenaran dalam Hati

Ketika membaca ayat ini, saya teringat salah satu pertanyaan yang diajukan oleh peserta DAD (Darul Arqam Dasar) Bersama yang diadakan oleh Koordinator Komisariat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang beberapa minggu lalu. Waktu itu, saya didapuk menjadi pemateri keislaman.

Pertanyaan yang muncul adalah bahwa tauhid rububiyah diyakini semua orang. Baik yang mengaku sebagai muslim, maupun non muslim. Tetapi mengapa mereka (non-muslim) tidak serta merta mau mengakui Allah sebagai sesembahan.

Bagi non-muslim, dalam lubuk terdalam ada keyakinan bahwa ada sesuatu di luar diri mereka yang lebih besar kekuatannya. Hal itu mengendalikan kehidupan mereka. Akan tetapi, non-muslim mencoba merepresentasikan kekuatan besar tersebut dalam berbagai bentuk fisik seperti patung, dewa, pohon, dan lain-lain.

Saya jawab pertanyaan tersebut dengan penjelasan bahwa terkadang non-muslim tersebut belum mau menerima Allah sebagai sesembahan lebih karena rasa egois, sombong yang bercokol dalam dirinya dan tak mau pergi dengan segera. Mereka takut kalau mengakui Allah sebagai sesembahan, mereka akan ditinggalkan oleh sekelilingnya. Mereka takut dikucilkan. Akhirnya, mereka tetap bertahan dengan kepercayaannya saat ini.

Itu hanya salah satu analisis yang pernah saya dengar dari salah satu ustad. Intinya, hadirnya kesombongan dalam diri terkadang menulikan telinga, mengunci hatinya yang sesungguhnya mau menerima kebenaran yang ada.

Sebagai seorang muslim pun, terkadang merasa gengsi untuk menerima kebenaran. Terutama yang berasal dari orang-orang yang memusuhinya. Padahal terkadang perkataan musuh lebih jujur daripada teman sendiri. Intinya jangan sampai kesombongan dan gengsi terlalu diunggulkan sehingga kebenaran yang sesungguhnya bisa kita terima menjadi tidak lagi berarti adanya.

Malang, 18 April 2018

Komentar