Korelasi Akhlak dan Prestasi

Kemarin pagi, saya menjaga kantor. Meski terlambat, saya cukup diuntungkan sebab tidak begitu banyak tamu yang hadir. Maklumlah, santri kelas X dan XI masih liburan sampai sore. Sekitar pukul 10 pagi ibu santri kelas XII bertamu ke kantor. Semabri menunggu anaknya datang, beliau bercerita panjang lebar mengenai perjalanan hidup anaknya. 
.
Beberapa waktu lalu, ketika beliau sakit, sang anak rela menemani sang ibu. Sang anak berdiri di sisi sang ibu, membacakan asmaul husna tiada henti. Meski masih belia, ia telah mampu meneguhkan ibunya. Saya sedikit berkaca-kaca mendengar ceritanya. Saya pun menyampaikan bahwa sang anak juga banyak berprestasi di mahad. 
.
Ketika mendengarnya, beliau terharu. Lantas mengingat, kok bisa sang anak memenangkan lomba penulisan cerpen di mahad. Sang ibu ingat bahwa sang ayah pernah mengirim tulisan-tulisan ke salah satu koran di Jawa Timur semasa kuliah. Mungkin darah kepenulisannya menurun kepada sang anak. 
.
Maka, saya perhatikan bahwa memang ada hubungan simbiosis mutualisme antara akhlak dan prestasi. Sudah cukup banyak kisah yang terdengar telinga dan terlihat oleh mata sebagai bukti. Termasuk yang terjadi pada sang anak. Ta'dzimnya pada guru dan orang tua telah mengantarkan sang anak meraih apa yang dicita-citakan. Sang anak memang rajin, tidak banyak melanggar aturan, manut. 
.
Tak heran bila Rasul senantiasa mengagungkan akhlak di atas segala-galanya. Beliau pun diutus ke atas muka bumi memiliki misi utama untuk memperbaiki akhlak terlebih dahulu, bukan untuk menebar ilmu. Sebab dengan akhlak yang sudah terdesain dengan baik, maka ilmu apa pun akan cepat ditangkap dan tentu orientasinya positif. Berbeda halnya bila akhlak tidak menjadi fokus utama, bahkan terkesan disepelekan dan tidak dihiraukan sama sekali. Maka, tunggu saja lahirnya para politisi ulung yang pandai korupsi, ilmuwan yang membuat bom untuk menghancurkan bangsanya sendiri, dan lain sebagainya. 
.
Tulisan ini hanya selingan pemikiran sederhana yang mungkin sudah banyak dibahas di luar sana. Bahkan mungkin lebih detail. Tak mengapa, setidaknya ada jejak-jejak tulisan seputar akhlak yang terus didengungkan dari waktu ke waktu. Semoga usaha-usaha perbaikan akhlak generasi penerus senantiasa mendapat dukungan dari siapa pun. Bukan mendapat pengerdilan yang sungguh tidak berprikemanusiaan. 
 

Komentar