Mari Berdiskusi untuk Memecahkan Masalah

Duhai adinda, jujur saja sejak menyatakan rasa padamu sore itu, ada kemelut dalam hati dan jiwa. Bukan tentang petemuan yang belum tercipta, tetapi perihal bagaimana setelah janji suci terucap. Adinda mungkin berada pada satu posisi yang sulit. Sebagai anak semata wayang, tentu berat untuk meninggalkan kedua orang tua. Itu adalah satu pintamu tatkala azan zuhur akan berkumandang. Keinginan lainnya adalah adinda tetap bekerja di persyarikatan sebab ada rasa kompak yang tertinggal, ada kekeluargaan yang menjadi magnet dan berat hati bila harus meninggalkannya. 

Kakanda sangat paham dengan permintaan-permintaan itu. Tenang adinda, akan kita cari jalan keluar terbaiknya. Kakanda sendiri jujur saja lebih mengutamakan untuk tetap tinggal di kota bunga ini. Membersamai santri baru nanti sepertinya menyenangkan. Itu pun kalau kaubersedia meninggalkan kota kelahiran tercinta. Adinda nanti bisa mencari pekerjaan di sini. Aku bersedia membantumu, selalu. Tentunya, dengan merelakan untuk meninggalkan pekerjaan di persyarikatan. 

Bila berjauhan dalam jarak, tentu adinda begitu berat hati. Ada satu rasa bersalah yang bersarang, begitu katamu beberapa waktu lalu. Tetapi bila itu yang terbaik, aku tetap di sini, adinda tetap mengabdi di tempat yang sama, dan tentu kita harus rela bertemu sesekali, mungkin satu minggu sekali. 

Atau pilihan terakhir, aku harus rela pulang kampung. Membersamaimu hampir sepanjang waktu. Mencari ladang penghidupan baru untuk masa depan keluarga kita. Tapi jujur saja, aku keberatan juga untuk melakukannya. 

Adinda, sesungguhnya di mana pun nanti kita akan berada, kakanda yakin akan selalu terbagi rezeki dari-Nya. Janji-Nya dalam firman suci tak akan pernah dipungkiri. Baiklah, demi itu semua, kakanda akan pulang hari ini. Tunggu kedatanganku di kampung halaman. Esok hari kita akan berjumpa. Satu kesempatan emas yang memang telah ditunggu-tunggu. Akhirnya, diskusi menjadi satu hal yang tak bisa dielakkan lagi. Mari membangun kesepahaman antara dua keluarga supaya tak ada lagi jiwa-jiwa yang terluka. Tak hadir lagi rasa-rasa kecewa dalam dada. 

Terima kasih kepada adinda yang selalu siap menerima segala keputusan dan konsekuensi. Semoga konsentrasiku tidak teralihkan sebab hal-hal semacam ini. Sebab, bila keberkahan Allah yang dicari, maka di mana pun kita memilih tempat di atas muka bumi ini, tentu tak pernah menjadi masalah. Pintaku padamu, mari terus berdoa memohon petunjuk pada-Nya untuk diberikan ketetapan terbaik nantinya. 

Di tengah kemelut hati yang mengusik istirahatku 
Kuberdoa pada-Nya selalu 
Agar diberikan jalan keluar terbaik atas masalah yang ada 

Malang, 12 April 2018
05:28 



Komentar