Mari Saling Memahami

Ketika janji suci telah terucap, ketika buliran restu terus mengalir, ada tanggung jawab berat di baliknya. Hal itulah yang perlu dipahami oleh kedua belah pihak. Ketahuilah dik, ketika kita  memutuskan untuk menikah, maka seorang suami harus selalu mendahulukan ibunya. Tapi tenanglah, ibumu juga tetap aku perhatikan. Kuharap kamu siap kembantuku untuk terus berbakti kepada orang tuaku. Tenang, aku pun akan siap membantumu mewujudkan baktimu kepada kedua orang tuamu.

Aku akan rela mendengarkan celotehmu sepulangku dari kerja. Ingatkan saja kalau aku lupa adinda. Lalu, kita makan malam bersama, syahdu. Ditemani canda tawa juga cerita seharian dariku. 

Aku paham bahwa adinda sebagai anak satu-satunya akan rindu berat dengan orang tua. Kau boleh mengunjunginya. Ajak Mas ya dik. Biar kita bisa sama-sama berbakti kepada kedua orang tua kita dengan maksimal. Orang tuaku adalah orang tuamu, pun orang tuamu adalah orang tuaku juga. 

Mari saling terus memahami bahwa kita berdua berasal dari galaksi yang berbeda. Sekian tahun kuhabiskan bersama keluargaku, dirimu juga menghabiskan sekian masa dengan keluarga besarmu. Tapi ketika aku dan kamu telah menjadi kita, berjanjilah untuk terus mengisi kekurangan diri. Berjanjilah untuk saling meningkatkan kapasitas diri. Kekurangan diciptakan bahwa sebagai hamba, ada sisi kosong yang dapat diisi dengan kelebihan-kelebihan lainnya. Adapun kelebihan yang ada mestinya digunakan untuk disebarkan kepada mereka yang membutuhkannya. Jangan hanya dinikmati seorang diri. 

Adinda, mari jadikan rumah tangga kita adalah representasi rumah tangga islami dan surgawi. Keluarga yang merepresentasikan keluarga penuh kerendahan hati dan terus mensyukuri nikmat Ilahi. Putar saja tilawah kalam Ilahi itu. Mari membiasakan mendengarkannya. Supaya kelak anak-anak kita terbiasa mendengarnya bahkan sampai dewasa. 

Selanjutnya, mari hiasi rumah kita dengan bacaan Alquran. Sebab bila tidak, ia semacam kuburan, gelap, tak bercahaya. Malaikat enggan sekadar untuk melihatnya. Kemudian, biasakan pula untuk mendengarkan berbagai kajian keislaman dan hal-hal positif supaya terbentuk miliu keluarga pecinta ilmu. Mari saling mengingatkan, tanpa ada rasa jenuh dan bosan. 

Kemampuan saling memahami satu sama lain memang sangat penting. Bila ada silap kata dari diri, ingatkan dengan lemah lembut. Sebaliknya, bila kudapati padamu ada kekurangan, aku harus lapang dada menerimanya, bersama kita terus perbaiki. Mari terus bersinergi dalam kebaikan, menciptakan mahligai rumah tangga penuh ketenangan, cinta kasih dan juga penuh rahmat. 


Komentar