Memaknai Kembali Keberislaman Kita (Bagian 1)

Hari ini saya merasa beruntung sekali. Mengapa? Lantaran saya bisa kembali mengisi materi pada salah satu acara organisasi yang pernah saya geluti selama kuliah sarjana. Saya diberi kesempatan mengisi materi keislaman pada DAD (Darul Arqam Dasar) Bersama Koordinator Komisariat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kali ini, saya berangkat pukul enam lewat sebab saya mengisi materi pukul 7.15. Beruntung, saya sampai di lokasi DAD pada pukul 7 pagi. Saya beristirahat sebentar sebelum akhirnya masuk forum. 

Seperti biasa, panitia menghampiri saya, mengajak saya berdiskusi hal-hal menarik. Bisa seputar Muhammadiyah maupun hal-hal lainnya.  Saya isi daftar riwayat hidup sebelum masuk ruangan. Tepat pukul 7.15 saya masuk ruangan. Saya nyalakan laptop dan membuka slide materi yang akan saya sampaikan. Saya merasa kali ini akan jauh lebih baik dan menarik daripada yang sudah-sudah. 

Saya awali materi dengan perkenalan diri saya. Kalau kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Saya jelaskan riwayat pendidikan, prestasi, pengalaman organisasi, juga karya-karya selama S1 dan S2. Tak lupa berbagai media sosial yang saya miliki juga saya perkenalkan kepada seluruh peserta. Bukan bermaksud apa-apa, hanya sedikit memotivasi bahwasanya sebagai insan yang dikaruniai banyak kenikmatan, hendaknya kita bisa memanfaatkannya dengan baik melalui berbagai aksi positif seperti berprestasi di bidang yang kita sukai dan lain sebagainya.

Setelah dirasa cukup, saya baru masuk ke materi utama. Pertama saya jelaskan mengenai syahadatain. Mulai makna syahadatain di mana syahadatain yang kita kenal terbagi ke dalam dua macam, yaitu syahadat tauhid (asyhadu an laa ilaaha illallah) dan syahadat Rasul (asyhadu anna Muhammadur Rasulullah). Laa ilaaha illallahu mengandung dua makna utama, yaitu peniadaan (laa ilaaha) dan penetapan (illallahu). Peniadaan berarti kita meniadakan Tuhan-tuhan selain Allah. Kita hanya meyakini Allah sebagai satu-satunya tuhan yang berhak disembah dengan haq (benar). Sedangkan makna penetapan adalah menetapkan bahwa Allah adalah satu-satunya yang patut untuk disembah. Salah satu dalil termaktub dalam Al-Quran surat Al-A'raf ayat 59 yang artinya,  

"Telah Kami utus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat)"

Adapun makna syahadat Rasul adalah mengikrarkan dengan lisan dan mengimani dnegan hati bahwa Muhammad adalah Rasul Allah kepada semua makhluk dan mengamalkan konsekuensinya, menaati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, sebagaimana firman Allah surat Al-A'rof ayat 158 yang artinya, 

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada sesembahan selain Dia, yag menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”

Selanjutnya masuk ke dalam rukun syahadatain. Untuk syahadat tauhid (Laa Ilaaha Illallah) sesungguhnya sama dengan makna syahadat yang saya jelaskan di awal yaitu mengandung dua makna. Makna peniadaan dan makna penetapan. Sedangkan syahadat Rasul memiliki dua sisi, yaitu abdun dan Rasul. Sebagai abdun (hamba), hendaknya kita memandang Rasulullah sebagai manusia biasa yang tidur, makan, minum, menikah, dan sebagainya. Sebagai utusan Allah, Rasulullah memberikan hak beribadah kepada Allah, bukan kepada yang lain. Selain itu, hendaknya kita menjauhi sifat ifrath (melebih-lebihkan) dalam artian sampai mengkultuskan beliau, kemudian menjauhi juga sifat tafrith (meremehkan). Lantas, sebagai Rasul, beliau adalah orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah, pemberi kabar gembira bagi mereka yang berbuat amal kebajikan dan pemberi peringatan bagi mereka yang berbuat kemungkaran dan ksyirikan. 

Maka, sebagai konsekuensi dari Laa Ilaaha Illallah adalah meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala macam yang dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah. Beribadah kepada Allah tanpa syirik sebagai konsekuensi penetapan Illallah. Kemudian konsekuensi syahadat Rasul adalah menaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang dilarang, bid'ah dan muhdatsat, serta mendahulukan sabdanya di atas pendapat yang lain. 

Selanjutnya saya jelaskan mengenai tauhid. Secara umum pengertiannya adalah meyakini Allah dalam rububiyyah, ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-Nya. Sehingga dari pengertian tersebut akan muncul tiga macam tauhid, yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma wa sifat. 

Kalimat Laa Ilaaha Illallah merujuk pada tauhid uluhiyyah. Kita percaya bahwa tiada yang berhak untuk disembah kecuali Allah SWT semata. Maka, seluruh ibadah yang dikerjakan hanya kepada-Nya, bukan kepada yang lain. Rasulullah menjamin darah dan harta kaum muslimin dengan syarat mengucapkan laa ilaaha illallah dan mengingkari segala sesembahan selain Allah. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang berbunyi, 

"Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungannya) adalah terserah kepada Allah." (HR. Muslim)

Sedangkan menurut salafus saleh, tauhid uluhiyyah terealisasi dengan dua prinsip yaitu, a) semua jenis peribadatan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya, dan tidak boleh diberikan kepada makhluk sedikit pun dari hak-hak dan kekhususan Sang Pencipta; b) ibadah tersebut selaras dan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.  

Tauhid Rububiyyah berarti meyakini bahwa Allah yang menciptakan, memberi rizki, mengatur segala sesuatu yang terjadi. Intinya tauhid ini berkaitan dengan keimanan kepada perilaku Allah. Maka, orang non-muslim pun meyakini hal ini. 

Adapun tauhid asma wa sifat adalah percaya bahwa seluruh nama-nama Allah dan sifat-Nya yang tertera dalam Al-Quran dan hadis sohih itu benar adanya. Lantas menetapkan sifat-sifat tersebut hanya kepada Allah saja, dalam bentuk yang sesuai dan layak bagi-Nya, tanpa tahrif (perubahan), tanpa ta'thil (peniadaan), tanpa takyif (bertanya bagaimana), dan tanpa tamtsil (penyerupaan). Sebab sebagaimana firman Allah yang artinya, "maka tiada sesuatu yang serupa selain Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS. Asyura: 11). 

Untuk materi selanjutnya tentang Islam dan kepribadian seorang muslim sejati akan saya sambung pada postingan selanjutnya. Stay tuned ya!

 

Komentar